Aku, Perempuan, dan Pendidikan

women and education

Selamat sore! 🙂 Senja akan tiba sebentar lagi dan aku di sini ingin menuliskan salah satu opiniku. Opini ini sempat aku bagi dengan teman-teman di Twitter beberapa bulan yang lalu pada tahun 2012.

Sekarang aku tengah duduk di semester 6 bangku S1. Lebih detilnya, aku sekarang sedang belajar di Program Studi Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia (UI). Setelah lulus nanti, aku ingin bekerja dan menabung untuk kuliah S2. Aku ingin menekuni Gender Studies, Feminism, atau Cultural Studies. Sampai sekarang, aku sih belum memutuskan betul apa yang ingin aku pelajari di jenjang S2 nanti.

Dan sebagai seorang mahasiswi, aku menjalani kehidupan normal seperti anak muda lainnya. Aku bermain, aku membaca, aku jalan-jalan, dan aku juga belajar untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang mahasiswi.

Bila ada yang berpendapat bahwa kuliah itu melelahkan… Sejujurnya, aku setuju sekali. Belajar itu melelahkan. Apalagi, kalau aku belajar karena paksaan. Baik itu paksaan dari pihak luar atau paksaan dari diriku sendiri yang sudah menolak mentah-mentah materi pelajaran tersebut atas dasar ketidaksukaan.

Lalu, mengapa aku terus kuliah? Mengapa aku terus tega membiarkan otakku kelelahan dan mual-mual karena beberapa pelajaran yang sudah tidak ingin aku pelajari?

Jawabannya simpel saja, yaitu karena aku sadar akan pentingnya pendidikan bagi seorang perempuan. Ya, ya. Sebagai seorang perempuan, aku sadar bahwa pendidikan adalah tabungan terbaik untuk masa depan–selain uang, tentunya.

Di negara dengan budaya patriarki yang cukup kental seperti Indonesia, bagiku pendidikan sangatlah penting. Terutama, bila kita memutuskan untuk menikah. Setelah menikah, perempuan bisa memilih–apakah dia ingin menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang full time atau dia ingin menjadi seorang istri dan wanita karir. Meskipun pada kenyataannya, kebanyakan perempuan Indonesia masih dituntut untuk menjadi istri dan ibu rumah tangga yang full time. Kalau aku sendiri, aku ingin menjadi seorang istri, ibu rumah tangga, dan full time writer yang bekerja di rumah, sehingga bisa tetap menyalurkan kecintaanku pada dunia menulis. Walaupun aku sendiri juga mengerti, bahwa keinginanku ini bisa berubah-ubah setiap waktu.

Negara patriarki, pernikahan, pendidikan, dan perempuan? Apa sih, hubungan dari keempat elemen ini? Di negara patriarki yang masih belum begitu memposisikan perempuan setara dengan laki-laki, aku sendiri berpendapat bahwa pendidikan itu sangatlah penting. Pendidikan ini sifatnya bisa formal maupun non formal. Yang jelas, pendidikan yang memadai, menurutku, adalah pendidikan sekaligus keterampilan yang bisa menjadi bekal perempuan untuk menafkahi dirinya sendiri. Misalnya, aku yang tengah mengenyam pendidikan di ProDi Inggris. Di sini aku paham betul bagaimana bekal pendidikan yang tengah aku jalani mulai bisa memberikan penghasilan kecil-kecilan, yakni dengan bekerja menjadi free lance translator. Lalu ke depannya, saat aku telah menjadi seorang Sarjana Humaniora, aku bisa mulai bekerja dan menabung untuk masa depanku. Dan bila suatu saat nanti aku memutuskan untuk menikah, sangatlah tidak tertutup kemungkinannya bahwa aku mungkin akan berhenti bekerja dan menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga full time. Sebagai gantinya, mungkin aku akan memilih pekerjaan yang bisa kutekuni di rumah, seperti menjadi seorang penulis atau jurnalis. Selain itu, aku juga akan memberikan pendidikan non formal untuk anak-anakku kelak dari apa yang telah aku pelajari di bangku sekolah dan kuliah dulu. Inilah salah satu pendapatku mengapa pendidikan itu penting bagi perempuan.

Aku sendiri, tidak percaya pada anggapan bahwa “Hidup seorang perempuan yang menikah dengan seorang laki-laki kaya akan damai sentosa dan bahagia selama-lamanya.” Sebaliknya, aku beranggapan bahwa sebagai perempuan, aku harus selalu siap sedia dengan segala konsekuensinya. Menikah dengan seorang laki-laki kaya tidak menjamin hidup seorang perempuan akan bahagia dan bebas dari penderitaan. Semua ini pasti ada konsekuensinya. Sebagai seorang perempuan, aku merasa harus bersiap-siap dan tidak boleh bergantung pada laki-laki. Jika seorang perempuan menikah menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga full time, kemudian (amit-amit) bercerai dengan suaminya, di sinilah aku berpendapat bahwa pendidikan atau keterampilan memiliki peranan yang penting. Setidaknya, si perempuan yang telah mengenyam pendidikan ini telah memiliki bekal untuk menafkahi dirinya sendiri setelah bercerai dari suaminya. Di sini aku ingin menekankan bahwa menjadi seorang perempuan yang mandiri bukan berarti tidak membutuhkan laki-laki, tetapi harus bisa berdiri sendiri sebagai seorang perempuan tanpa ketergantungan pada laki-laki. Jangan karena ketidaksiapan, seorang perempuan yang bercerai dari suaminya lalu menjadi terlantar.

Sebagai tambahan informasi, sekarang perempuan bisa sedikit berlega hati karena sekarang Perjanjian Pra Nikah sudah makin marak dilakukan di Indonesia. Meskipun tidak banyak pasangan menikah di Indonesia melakukannya, Perjanjian Pra Nikah ini sangat penting bagi perempuan yang akan menikah. Awalnya, aku tidak begitu familier dengan istilah “Perjanjian Pra Nikah” ini, akan tetapi, informasi dari Mbak Clara Ng akhirnya membuatku tahu bahwa selain pendidikan, Perjanjian Pra Nikah ini juga penting untuk perempuan.

Untuk lebih jelasnya tentang Perjanjian Pra Nikah, silahkan baca artikel dari Wolipop, “Perjanjian Pra Nikah Penting untuk Wanita, Yuk Mengenal Lebih Jauh” di

http://wolipop.detik.com/read/2013/03/08/073621/2189154/854/perjanjian-pranikah-penting-untuk-wanita-yuk-mengenal-lebih-jauh

🙂

Well, ini semua adalah pendapatku tentang pentingnya pendidikan untuk seorang perempuan. Setiap orang tentu boleh memiliki pendapatnya masing-masing. Di sini aku tidak ingin mendikte, melainkan hanya ingin berbagi opini tentang perempuan dan pendidikan. Aku sangat terbuka akan tanggapan dan diskusi. Terima kasih karena sudah membaca!

One Response - Add Comment

Reply