Apa Kebahagiaan Terkecilmu?

Kebahagiaan terkecil saya hari ini adalah bisa menghabiskan waktu dengan biola mungil kesayangan—Moktika dan sebuah cello pinjaman. Sesederhana itu. Mungkin bagi kamu yang tidak memainkan alat musik, kebahagiaan sesederhana bermain Dota. Sejujurnya, saya pun tidak tahu bagaimana cara bermain Dota dan seasyik apa bermain Dota itu, tapi yang jelas, saya percaya bahwa masing-masing dari kita memiliki sumber kebahagiaan yang tidak bisa disamakan dengan orang lain.

Sudah satu hari sejak Moktika akhirnya diperbaiki. Diperbaiki di sini bukan berarti saya mengelemnya atau apapun, tapi akhirnya senar-senar biola ¾ saya yang rusak karena usianya yang sudah terlalu tua, juga karena saya yang terlalu lalai untuk mengecek keempat senar yang harus selalu berkesinambungan itu, berhasil diganti. Kemarin siang saya pergi mengunjungi (mantan) guru biola saya yang bernama Kak Jason. Dengan biola kecil dan sedikit makan siang untuk sogokan, akhirnya Kak Jason membantu saya untuk mengganti semua senar sekaligus mengamplas bridge Moktika. Bridge Moktika pun diamplas supaya mempermudah saya dalam memainkannya, agar jari-jari mungil saya tidak perlu menekan setiap senar dengan susah payah, karena bridge sudah dibuat menjadi lebih rendah. Hmm, sepertinya sudah cukup saya membicarakan soal jembatan Moktika, karena fokus tulisan ini bukan di situ.

Setelah Moktika selesai diperbaiki, saya pun merengek pada Kak Jason untuk meminta partitur lagu Canon in D karena ada sebagian halaman dari partitur yang saya miliki telah hilang. Di antara tumpukan-tumpukan partitur yang dimilikinya, ternyata Kak Jason tidak memiliki partitur lagu tersebut dan akhirnya mencari partitur tersebut secara online, kemudian mencetaknya untuk saya. Tidak lama kemudian dia keluar ruangan dan memperlihatkan saya sebuah cello ukuran ¼. “Kamu mau coba bermain cello?” Saya terkesiap.

“Memangnya kenapa? Kakak mau ngajarin aku?” ujar saya.

“Kakak juga nggak bisa main, tapi selama ini belajar sendiri. Coba saja.” Seperti Moktika yang tubuhnya sudah sedikit gompal, saya pun akhirnya menyentuh cello milik Kak Jason yang sudah tidak terlalu mulus. Sedikit lebih berat, pastinya, tapi saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan menyentuh alat musik yang begitu seksi ini.

“Bagaimana cara memainkannya?” Saya semakin ragu, tapi juga bersemangat.

“Ya, digesek saja, seperti main biola. Nada dasarnya saja yang berbeda.” Kemudian saya langsung mencobanya.

Seperti saat belajar biola pertama kali, ada perasaan aneh yang merasuki saat saya mencoba menggesek cello mungil itu. Suaranya begitu rendah, seperti mendesah—saya tidak bohong. Dan lagi, jari-jari saya pun tetap mengalami kesulitan untuk memainkan cello. Saya dan Kak Jason tertawa geli. Saya selalu memiliki masalah dengan ukuran jari kelingking kedua tangan saya setiap kali bermain biola dan kini hal itu terjadi juga pada cello.

“Jadi, bagaimana? Mau dibawa pulang?”

Saya mengangguk dengan penuh semangat. “Boleh, nih?”

“Ya, bawa saja. Coba saja.” Saya bersemangat kembali. Rasanya sudah berbulan-bulan sejak saya terakhir bermain dengan Moktika, tapi begitu saya ingin memainkannya kembali, Moktika kini punya teman baru, yaitu sebuah cello mungil hasil pinjaman.

Dan barusan saja saya memainkan cello itu. Meski baru bisa memainkan lagu Twinkle Twinkle Little Star dan latihan tangga nada, rasanya saya sudah senang sekali. Sudah lama saya tidak mencoba hal baru. Sudah lama saya tidak merasa seperti anak kecil yang memiliki mainan baru.

Kemudian saya bermain bersama Moktika. Memainkan lagu-lagu di buku Suzuki Violin 1 dan kembali mengingat momen-momen pertama saya belajar biola. Saya juga memainkan lagu Tanjung Perak. Dan ah, saya kembali merindukan teman-teman saya di Teater Pagupon. Rasanya setiap momen dalam hidup memang bisa membangkitkan rasa rindu. Rasanya…

Reply