Category

Fiksi
Bagi kamu yang tidak percaya dengan keberadaannya, mungkin aku tidak bisa bicara apa-apa. Semua itu kan pandangan masing-masing dari kita. Pandanganku, pandanganmu. Ya, berbeda. Lagipula, siapa sih kebetulan itu? Hmm… Jujur, aku juga tidak kenal betul siapa dia. Tapi, dia lah yang menghantarkanku ke waktu sekarang, yang menghantarkanku ke momen-momen yang sama sekali tidak terduga....
Read More
Pikiran ini muncul, sekelibat saja. Semua ini begitu nyata, sekaligus begitu semu. Akukah satu-satunya orang yang merasa begitu? Orang bilang, ini adalah sebuah perasaan yang sepatutnya memberikan kebahagiaan. Sebaliknya, perasaan ini justru memberikan kegelisahan. Ah, lagi-lagi, sekelibat saja. Kuingat betul gesturmu. Kuingat betul tuturmu. Kuingat betul berjumpa denganmu. Lagi-lagi, sekelibat saja. Dan lebih baik, aku...
Read More
Aku membuka pagi dengan segelas susu hangat. Bukan, bukan secangkir teh hangat. Belum, belum saatnya. Masih terlalu pagi. Susu membuatku ingin tidur lagi dan secangkir teh membuatku ingin bangun terus. Mataku menerawang. Mencari sisa-sisa mimpi yang kuhela semalam. Tidak ada satu momen pun yang bisa teringat jelas. Sayang sekali. Hidup ini begitu absurd, sampai terkadang...
Read More
Malam yang dingin, aku mengaduh. Tidak ada suara riuh, tapi tak juga sepi sendiri. Angin bertiup, ingin melelapkan yang masih terbangun. Dingin, dingin. Kini aku merintih. Tak ada pelukan, tak ada bisikan. Aku benar-benar sendirian. Mengapa harus merintih? Tidak ada luka, kan? Benar juga. Malam menuju pagi. Aku tak bisa tidur lagi. Malam ini begitu...
Read More
Terkadang ada saatnya aku merasa tidak kenal dengan sekitarku, dengan identitasku. Tapi ada saatnya juga aku merasa terlalu kenal, terlalu menyatu. Aku ingin berbaring di sini, menangisi hari. Aku ingin bangkit, menahan sakit. Aku ingin, aku ingin… Terlalu banyak yang rasa ingin. Ah, aku terlalu banyak berpikir. Iya, kan? Dan lagi, aku bertanya sambil berpikir....
Read More
Lagi-lagi, gerimis memerciki tempatku berpijak. Hari ini hari Rabu, masih terasa kelabu seperti Senin yang lalu. Bedanya, saat ini aku tengah dalam perjalanan menuju ‘rumahku’ yang lain. Begitu cepat waktu berlalu, begitu banyak yang dilewati–tanpa kita sadari. Oke, mungkin hanya aku yang tidak menyadari. Waktu adalah seekor burung yang tidak memiliki sayap, namun menjadi burung...
Read More
Sore ini terasa berbeda, rintik hujan mengejar langkahku. Tidak biasanya aku buru-buru pulang karena hujan. Biasanya aku lebih suka duduk-duduk menunggu rintiknya turun hingga lelah sendiri dan berhenti membasahi tanah. Warna langit begitu kelabu, mungkin juga suasana hatiku. Atau malah hatimu? Perlahan aku memejamkan mata, membiarkan aroma tanah, hujan, dan angin masuk ke indera penciumanku....
Read More
Rasa jenuh ini sudah kian memuncak, seperti amarah yang harusnya dilepaskan. Banyak sekali hal yang mengganggu pikiran, terlalu banyak yang terus dirasakan. Oke, mungkin aku berlebihan… Tapi, aku bukanlah satu-satunya orang yang terlalu banyak berpikir dan terlalu menjadi perasa. Iya, kan? Begini toh rasanya menjadi orang dewasa? Hahaha… Koreksi, aku belum sepenuhnya menjadi orang dewasa,...
Read More
Mataku mengalirkan air mata, meski aku tidak mau mereka membasahi pipi. Bolehkah aku tetap di sini? Aku masih ingin sendiri, mencari-cari sisa rasa perih. Ah, kamu tahu kan kalau aku masih terlalu sedih? Betapa aku masih merintih? Sakit, sakit, sakit Aku ingin menjerit   Kamu bisa bilang aku gila, Tapi kamu tidak bisa berbuat apa-apa...
Read More
Bapa, kudengar malam ini banyak sekali yang kehilangan. Begitu juga dengan aku, aku kehilangan lagi satu hari dalam hidupku.   Bapa, aku tidak pernah meminta umur yang panjang, aku tidak pernah meminta kesempurnaan.   Tapi, bolehkah aku berdoa meminta sesuatu malam ini saja?   Berkatilah setiap langkahku, lindungilah orang-orang di sekitarku, rangkullah mereka di dalam...
Read More
1 2 3 4