Category

Fiksi
Lagi-lagi aku terhenyak, membiarkan kedua mataku terpejam menghadap langit. Kilau cahaya masih terasa hangat di kedua kelopak mata. Kali ini, kuputar lagi perekam waktu di kepala. Masih, masih ada yang tersisa, bahkan mungkin terlalu banyak. Ah, kenapa begini? Kenapa isi otakku seperti sampah semua? Harumnya bunga matahari yang terbakar terik mentari bahkan sudah tak pernah...
Read More
“Mari, mari pergi yang jauh”, begitu katanya. Aku mendongak, berhenti memandangi teh hangatku yang sedari tadi tidak habis diseruput. “Aku serius”, katanya lagi. Mataku terpejam, kata-kata itu memenuhi kepala, seakan tidak ingin keluar lagi. Telingaku berdengung. Aku mendadak menggigil. “Jangan, jangan lari lagi”, kataku kemudian. “Aku lelah, kawan. Aku lelah, terlalu lelah.” Ia menggigit bibir....
Read More
1 2 3 4