Category

Non-Fiksi
Jika ada yang bertanya mengapa saya memutuskan untuk ngeblog, mungkin jawaban terbaiknya adalah karena saya sangat mencintai dunia tulis-menulis. Saat saya menulis sebuah tulisan dan berhasil menyelesaikannya, saya benar-benar merasa bahagia–apalagi jika tulisan itu dibaca oleh satu orang atau bahkan lebih. Pada awalnya, saya lebih banyak memfokuskan blog saya pada kejadian yang saya alami sehari-hari. Bisa dibilang,...
Read More
Saat baru memulai membaca e-book “Still Alice”, saya sama sekali nggak menyangka bahwa buku ini ‘berat’. Bukan karena novel ini terlalu tebal atau karena topik yang diangkatnya nggak saya kuasai, tapi justru karena tema dan ceritanya. Setelah lama nggak membaca novel, “Still Alice” berhasil membuat saya terhipnotis dengan segala kata-kata dan alur ceritanya. Dari kacamata seorang pembaca, saya telah menjadikan...
Read More
Dengan menuliskan ini, sedikit banyak saya ingin menjawab pertanyaan Banyu pada Senja, “Apa kesalahan terbesar yang pernah kamu buat dalam hidupmu?” dalam Cerita Senja dan Banyu: 05. Mengobrol dengan Banyu.
Read More
Sebagai seorang warga Indonesia keturunan Tionghoa yang tidak bisa berbahasa Mandarin, saya kadang bertanya-tanya mengenai bilingualisme. Sebegitu pentingnya kah kemampuan berbahasa, terutama bahasa asing?
Read More
Apa yang kamu rasakan di tahun baru kemarin? Sudah hampir dua minggu tahun baru 2015 berlalu. Pada malam 31 Januari 2014 yang lalu, saya mempunyai dua pilihan yang sama sekali berbeda di Pulau Yiliet, Misool, Raja Ampat. Pertama, tidur dan meringkuk di kamar kantor yang cukup hangat dan gelap. Kedua, menunggu tamu-tamu kapal pesiar tiba...
Read More
Sudah dua bulan berlalu sejak saya pertama kali bertemu dengan Anida Dyah tanpa sengaja di Jogjakarta. Anid, begitu dia biasa dipanggil, adalah sosok perempuan mungil yang ceria, dengan intonasi suara yang khas—begitu dewasa dan menenangkan. Dan kali ini, saya akan menceritakan bagaimana saya membawanya ke Papua.
Read More
Seperti nama blog ini, Senja Moktika, saya selalu menemukan “Senja” sebagai sesuatu yang spesial. Senja yang memang lebih sering muncul dalam semburat jingga, selalu berhasil menenangkan mata dan hati. Barisan warna-warni senja bahkan lebih mencolok mata daripada tumpukan gulungan kain yang saya temui di toko-toko Passer Baroe.
Read More
Ini kali pertama saya membaca cerita perjalanan dalam sebuah perjalanan dari kacamata seorang pejalan. Di waktu-waktu sebelumnya, saya membaca dari kacamata seorang mahasiswi yang menulis skripsi tentang catatan perjalanan yang ditulis oleh perempuan. Meski dari kacamata yang sama sekali berbeda, membaca cerita perjalanan memang selalu menyenangkan, terutama ketika saya bisa menghubungkannya dengan pengalaman-pengalaman saya sendiri.
Read More
Wah! Tahun baru 2015 sudah tiba! Tanpa terasa, tahun 2014 berlalu dengan begitu saja. Lalu, apa resolusi tahun barumu?
Read More
Adakah yang lebih menyenangkan daripada tenggelam dalam imajinasi yang romantis?
Read More
1 2 3 6