Category

Puisi
Sore ini terasa berbeda, rintik hujan mengejar langkahku. Tidak biasanya aku buru-buru pulang karena hujan. Biasanya aku lebih suka duduk-duduk menunggu rintiknya turun hingga lelah sendiri dan berhenti membasahi tanah. Warna langit begitu kelabu, mungkin juga suasana hatiku. Atau malah hatimu? Perlahan aku memejamkan mata, membiarkan aroma tanah, hujan, dan angin masuk ke indera penciumanku....
Read More
Rasa jenuh ini sudah kian memuncak, seperti amarah yang harusnya dilepaskan. Banyak sekali hal yang mengganggu pikiran, terlalu banyak yang terus dirasakan. Oke, mungkin aku berlebihan… Tapi, aku bukanlah satu-satunya orang yang terlalu banyak berpikir dan terlalu menjadi perasa. Iya, kan? Begini toh rasanya menjadi orang dewasa? Hahaha… Koreksi, aku belum sepenuhnya menjadi orang dewasa,...
Read More
Mataku mengalirkan air mata, meski aku tidak mau mereka membasahi pipi. Bolehkah aku tetap di sini? Aku masih ingin sendiri, mencari-cari sisa rasa perih. Ah, kamu tahu kan kalau aku masih terlalu sedih? Betapa aku masih merintih? Sakit, sakit, sakit Aku ingin menjerit   Kamu bisa bilang aku gila, Tapi kamu tidak bisa berbuat apa-apa...
Read More
Bapa, kudengar malam ini banyak sekali yang kehilangan. Begitu juga dengan aku, aku kehilangan lagi satu hari dalam hidupku.   Bapa, aku tidak pernah meminta umur yang panjang, aku tidak pernah meminta kesempurnaan.   Tapi, bolehkah aku berdoa meminta sesuatu malam ini saja?   Berkatilah setiap langkahku, lindungilah orang-orang di sekitarku, rangkullah mereka di dalam...
Read More
Lagi-lagi aku terhenyak, membiarkan kedua mataku terpejam menghadap langit. Kilau cahaya masih terasa hangat di kedua kelopak mata. Kali ini, kuputar lagi perekam waktu di kepala. Masih, masih ada yang tersisa, bahkan mungkin terlalu banyak. Ah, kenapa begini? Kenapa isi otakku seperti sampah semua? Harumnya bunga matahari yang terbakar terik mentari bahkan sudah tak pernah...
Read More
“Mari, mari pergi yang jauh”, begitu katanya. Aku mendongak, berhenti memandangi teh hangatku yang sedari tadi tidak habis diseruput. “Aku serius”, katanya lagi. Mataku terpejam, kata-kata itu memenuhi kepala, seakan tidak ingin keluar lagi. Telingaku berdengung. Aku mendadak menggigil. “Jangan, jangan lari lagi”, kataku kemudian. “Aku lelah, kawan. Aku lelah, terlalu lelah.” Ia menggigit bibir....
Read More
1 2 3