Category

Cerita Senja dan Banyu
Aku senang melukis sejak kecil. Bagiku, melukis terasa seperti menuangkan teh hangat dari sebuah teko panas ke sebuah cangkir yang cantik. Menuangkan segala yang panas, hingga akhirnya perlahan menghangat, kemudian mendingin. Kurang lebih, rasanya seperti menuangkan segala isi kepalaku ke sebuah media kosong. Akan tetapi, aku belum pernah membayangkan seseorang melukis di tubuhku–berbeda dengan Banyu yang ingin...
Read More
Aku terlalu mengandalkan Banyu. Selama ini, dia selalu muncul ketika aku membutuhkannya. Dia kerap menyelinap ke kamarku lewat jendela, berusaha menenangkanku ketika aku merasa sedih atau marah, hingga aku tertidur lelap. Dan begitu dia menghilang, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Read More
Selama ini, aku lebih banyak bercerita tentang diriku ketika berbicara tentang Banyu. Jika ada tentang Banyu, itu pun biasanya berhubungan dengan hubungan kami berdua. Hingga pada akhirnya, aku merasa perlu untuk menceritakan siapa Banyu yang sebenarnya–terlepas dari fakta-fakta umum bahwa Banyu senang sekali berselancar dan makan (bersamaku). Jadi, kali ini aku akan bercerita tentang Banyu....
Read More
Banyu seringkali tertidur. Di manapun yang ia bisa, ia selalu ingin tidur. Kadang aku iri padanya, ada malam-malam dimana aku terlalu sulit untuk tidur, dan aku tetap terjaga sepanjang malam, bahkan hingga pagi. Akan tetapi, ternyata hanya ada satu tempat di mana Banyu tidak akan pernah bisa tertidur. Dan aku pun baru saja mengetahuinya.
Read More
Hampir tiga belas tahun yang lalu, aku berkenalan dengan Banyu. Hari-hari berikutnya, kami menghabiskan waktu sebagai sepasang anak kecil yang akan memasuki masa pubertas. Sebenarnya, tidak ada yang terlalu istimewa. Hanya saja, ada satu momen yang tidak bisa kuingat. Dan momen itu berhubungan dengan sebuah pertanyaan dari Banyu.
Read More
Hari itu Ayah dan Bunda ingin memiliki waktu mereka sendiri. Jadilah mereka menyuruh kami pergi berlama-lama, menghabiskan waktu tanpa mereka. Srimaya yang bingung, hanya bisa mencolek-colek aku yang tengah duduk menikmati secangkir teh di teras rumah. Tidak lama kemudian, aku pun memutuskan untuk menelepon Banyu. Sudah lama sekali aku dan dia tidak menghabiskan waktu bersama...
Read More
Terik matahari selalu menyengat kulitku. Aku yang selalu malas menggunakan tabir surya, lebih memilih menahan perih sesudah berpanas-panasan di bawah sinar matahari. Dan untungnya Banyu mengerti. Dia begitu mengerti akan kecintaanku pada matahari. Dia sangat mengerti bagaimana aku membenci air hujan dan basah kuyup karenanya. Inilah ceritaku. Bersama matahari, juga Banyu.
Read More
Jika ada yang bertanya mengapa aku memilih Banyu sebagai pacar pertama—ah. Aku tidak bisa begitu saja bilang bahwa aku memilihnya atau dia memilihku. Yang aku rasakan hanyalah rasa nyaman yang tidak tergantikan; rasa nyaman yang bahkan tidak pernah kurasakan dari kedua orang tuaku maupun dari adikku, Srimaya.
Read More
Ayah mengangkat wajah, kemudian menyeruput secangkir kopi Aceh yang diberikan Tante Sohita, ibunda Banyu. Sudah cukup lama dia mengisi kolom TTS di koran hari Minggu. Kira-kira sudah satu jam. Kulihat Bunda tertidur menyamping di sofa dengan kepala yang menindih tangan kanannya sendiri.
Read More
cerita senja dan banyu cinta pertama banyu
Dan hari-hariku kemudian dipenuhi oleh cerita kasmaran Banyu dengan Anala yang tidak berlangsung lama. Masa pendekatan yang hanya satu bulan, Banyu yang memang cukup tampan, lalu bisa mengambil hati gadis pujaannya. Itulah cinta pertama Banyu.
Read More
1 2