Cerita di Balik Lolongan Anjing

Menjelang Malam di Sorong

Ketika matahari mulai terbenam, saya menyambut kegelapan yang menandai bahwa hari sudah mulai malam. Hampir sebulan jauh dari rumah, tepatnya di Sorong, Papua Barat, membuat saya berusaha memaknai malam-malam yang saya miliki.

Beberapa malam yang lalu, saya terbangun dari tidur. Saya melirik jam yang ditunjukkan oleh ponsel pintar saya. Pukul 03.35 Waktu Indonesia Timur (WIT). Dari sebuah kamar yang dingin, saya bisa mendengar dengan jelas suara lolongan anjing-anjing. Mereka seperti saling menyahut.

Kabarnya, bila anjing melolong di tengah malam, berarti mereka tengah menyambut makhluk halus atau makhluk gaib. Apakah saya takut? Tidak. Kali ini saya tidak akan membahas mengenai cerita horor atau apapun itu. Saya memiliki cerita yang lain.

Seperti mesin waktu, lolongan anjing-anjing itu malah membawa saya kembali pada memori masa kecil saya. Saat itu saya masih berusia sekitar 9 tahun dan duduk di kelas 4 SD. Entah bagaimana ceritanya, di suatu malam, saya akhirnya memberanikan diri menginap di rumah seorang sahabat masa kecil yang bernama Tasha.

“Kamu beneran mau menginap di sana?” tanya Mama waktu itu.

“Iya. Aku berani kok, Ma!” sahut saya yakin dan penuh semangat.

Akhirnya, saya pun berangkat ke rumah Tasha. Sekitar pukul 9 malam, saya dan Tasha merangkak ke tempat tidur. Otak saya berputar. “Begini, ya, rasanya menginap di rumah teman.

Beberapa kali membalikkan badan dan menggerakkan kaki, nyenyak tidak kunjung datang. Tidur saya gelisah. Satu jam kemudian, saya mendengar suara lolongan anjing-anjing yang susul-menyusul. Dan sebagai seorang anak kecil yang pernah digigit anjing saat masih duduk di bangku TK, saya menyerah. Pandangan saya mulai buram, mata saya berkaca-kaca.

Saya lalu keluar kamar Tasha dan merengek minta pulang pada ayahnya, Om Okky. Saya menelepon ke rumah dan minta dijemput. “Aku takut. Banyak anjing,” begitu kata saya di telepon.

Sambil menunggu dijemput oleh pegawai kantor Papa yang bernama Om Taufik dengan mobil pick-up warna biru, saya pun diberi suguhan film kartun disney, Anastasia’, di ruang tamu. Anastasia yang hilang dan kemudian dicari orang tuanya.

Bila saya mengingat kejadian tadi, saya geli sendiri. Betapa lucunya saya sebagai seorang anak kecil, dengan kenekatan untuk berani tinggal jauh dari rumah, yang hanya bertahan beberapa jam saja. Kedua orang tua saya juga selalu tertawa bila mengingat-ingat kejadian tersebut.

Akan tetapi, cerita menginap di rumah teman versi saya masih belum selesai. Saat duduk di bangku kelas 6 SD hingga SMP, saya menjadi sering menginap di rumah Tasha, bahkan saya pernah menginap di rumahnya selama lebih dari satu minggu, di hari sekolah! Saya ingat bagaimana saya menikmati sarapan nasi dengan sup makaroni di meja makan rumahnya. Saya ingat bagaimana perjalanan ke sekolah dari rumah Tasha lebih jauh daripada yang biasa saya tempuh dari rumah saya.

Dan dari segala pengalaman menginap di manapun, saya menyadari satu hal, kasur di rumahlah yang paling empuk! Meskipun bukan berisi bulu angsa, bantal di rumahlah yang paling pas untuk kepala saya. Juga selimut jahitan tangan Mama yang legendaris.

Ah, saya kembali rindu rumah.

4 Comments - Add Comment

Reply