Cerita Senja dan Banyu: 04. Tentang Ayah dan Bunda

Ayah mengangkat wajah, kemudian menyeruput secangkir kopi Aceh yang diberikan Tante Sohita, ibunda Banyu. Sudah cukup lama dia mengisi kolom TTS di koran hari Minggu. Kira-kira sudah satu jam. Kulihat Bunda tertidur menyamping di sofa dengan kepala yang menindih tangan kanannya sendiri.

Di belakang kanvas, aku memandangi Ayah dan Bunda bergantian. Mereka terlalu bertolak belakang. Ayah yang darahnya mudah panas dan terlalu sering emosi, sementara Bunda yang lebih banyak diam dan mudah tertidur di waktu-waktu senggangnya. Ayah yang bertubuh jangkung dan kurus, sementara Bunda tingginya tidak sampai satu setengah meter. Akhirnya pun mereka bisa saling jatuh cinta. Atau entahlah apa itu, hingga akhirnya aku bisa lahir di tengah-tengah kekaguman mereka akan senja. Jadilah mereka menamaiku Senja.

Entah kapan terakhir kali mereka menikmati senja bersama-sama. Yang jelas, semakin aku bertambah besar, semakin aku lebih sering melihat mereka menghabiskan akhir pekan di rumah. Kelelahan tampak di wajah orang tuaku, bahkan kerutan sudah terlihat memanjang di kedua sudut mata Ayah. Beberapa helai rambut Bunda sudah mulai memutih. Tak jarang Bunda memintaku untuk membantunya mengecat rambut.

Tiba-tiba papan penghitungan suara muncul di kepalaku. Aku tidak bisa lagi menghitung seberapa sering Ayah dan Bunda bertengkar. Dua tahun lalu, aku mendengar jelas setiap kalimat yang diteriakkan keduanya. Mereka bertengkar hebat. Ayah selingkuh. Dan saat itu, ketika bibirku mulai bergetar dan air sudah menggenang di pelupuk mataku, Srimaya kecil, adikku yang manis, menarik kausku dari bawah, kemudian memberiku kue putu mayang kesukaannya yang terakhir.

Aku menyeka air mata dengan lengan kausku lalu mencium puncak kepala Srimaya. Dia berusaha menghiburku. Sesungguhnya aku pun malu, bahkan adikku yang kecil saja bisa bertahan dengan pertengkaran Ayah dan Bunda yang muncul hampir tiap hari, seperti sinetron stripping yang bertahan hingga ratusan episode.

Layar ponselku berkedip-kedip, membuyarkanku dari lamunan. Banyu. “Hai, Banyu.” Aku beranjak dari tempatku melukis.

“Aku di depan, Senja. Mari makan siang di rumah. Tante Sohita kesayanganmu itu baru saja memasak masakan Turki. Dia juga sudah menyiapkan beberapa potong jeruk Sunkist favoritmu.” Aku girang bukan main. Banyu selalu muncul tepat waktu, terutama ketika aku tengah mengingat hari-hari yang sedih.

“Yah, aku pergi dulu. Mau makan di rumah Banyu. Nanti tolong sekalian bilang Bunda, ya.” Aku mencium punggung tangan Ayah.

Dia mematung sebentar. “Tumben-tumbenan kamu cium tangan Ayah. Ada apa, nih? Sebelum pulang, jangan lupa bungkus makanan untuk di rumah, ya.”

Aku tertawa geli. “Baiklah. Aku usahakan membawa pulang makanan, kalau aku belum menghabiskan semuanya. Hehe…” Aku nyengir lebar.

Banyu membuka pagar dan langsung menarikku ke dalam pelukannya. “Bagaimana kabar matahariku hari ini?”

Aku memejamkan mata. Tenggelam dalam pelukannya. Tanganku menarik kerah kaus Banyu dan mencium bibirnya cepat. “Kamu datang tepat waktu. Aku lapar.” Aku berjalan ke sepedanya dan langsung duduk di belakang.

Setelah Ayah, kini giliran Banyu yang mematung. “Heh! Kok kamu menciumku hanya sebentar?”

“Bawel. Ayo, berangkat. Kapan-kapan kita lanjutkan ciumannya.”

Banyu menggeleng-geleng. Dia mengingatkanku akan pajangan di mobil yang kepalanya bisa bergoyang ke sana kemari. “Untungnya aku juga sudah lapar. Kalau tidak, bibirmu sudah kuhabisi.”

Gowesan kaki Banyu membawa kami ke rumahnya. Waktu perjalanan yang singkat kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Aku memeluk Banyu dari belakang dan menyandarkan kepala. Angin semilir terasa lebih sejuk hari ini.

Reply