Cerita Senja dan Banyu: 07. Srimaya, Aku, dan Banyu

Hari itu Ayah dan Bunda ingin memiliki waktu mereka sendiri. Jadilah mereka menyuruh kami pergi berlama-lama, menghabiskan waktu tanpa mereka. Srimaya yang bingung, hanya bisa mencolek-colek aku yang tengah duduk menikmati secangkir teh di teras rumah. Tidak lama kemudian, aku pun memutuskan untuk menelepon Banyu. Sudah lama sekali aku dan dia tidak menghabiskan waktu bersama adik kecilku, Srimaya.

Akhirnya Banyu datang dan menjemput aku beserta Srimaya di rumah. Dengan terusan bercorak bunga tulip warna ungu, Srimaya berjalan menuju mobil Banyu. Aku menggandengnya. Sesekali, dia melompat kegirangan.

“Kak Banyu!” panggilnya setengah berteriak.

“Hush! Jangan teriak-teriak begitu,” tegurku lalu memeluk Banyu. Srimaya spontan menyelipkan tubuh kecilnya di antara kami berdua. Ia juga ingin dipeluk.

“Hai, Srimaya. Hari ini kamu mau makan apa?” Banyu mengacak-acak rambut Srimaya kemudian menggendong tubuhnya yang mungil.

Srimaya mengatupkan bibirnya rapat-rapat. “Aku ingin putu mayang!” Sudah kuduga. Tidak ada yang bisa membuatnya lebih girang daripada putu mayang yang manis dan berwarna-warni.

“Apalagi?” tanya Banyu cepat. Ia mengecup pipi Srimaya yang sedikit tembam.

“Kalian iniii… Banyu langsung mencium Srimaya, tapi kamu nggak menciumku? Hih!” Jujur saja, aku sedikit iri dengan kedekatan Srimaya dan Banyu.

Srimaya cekikikan. “Biariiin. Kan aku sudah lama nggak ketemu sama Kak Banyu. Oh, iya! Aku juga mau susu kacang kedelai pakai es! Sluuurp!”

“Oke! Yuk, berangkat!” Banyu menurunkan Srimaya. Kami bergegas menuju ke pasar tradisional yang berada di tengah kota.

~

“Senja, kamu mau makan apa?”

Kami sudah tiba di pasar. Srimaya kembali berada di gendongan Banyu.

“Srimaya, kamu turun saja. Kasihan itu Kak Banyu tangannya capek karena menggendong kamu terus. Kamu kan bukan anak kecil lagi.”

Untungnya Srimaya menurut. Ia mengangguk kemudian minta turun dari gendongan Banyu. Aku dan Banyu pun berjalan menyusuri setiap sudut pasar sambil menggandeng Srimaya di tengah-tengah.

“Jadi, Senja mau makan apa?” tanya Banyu lagi.

“Sejujurnya, aku bingung mau makan apa. Kamu mau makan apa?” tanyaku balik.

“Kakak-kakak iniii… Daripada bingung, lebih baik kita mencari putu mayang dan susu kacang kedelai dulu saja, ya?”

Aku dan Banyu tertawa. Sudah lama sekali kami tidak mendengar celotehan Srimaya. Setiap kali aku dan Banyu pergi keluar, waktu sudah terlalu larut, dan Srimaya tengah bergegas tidur.

Aku, Banyu, dan Srimaya menghabiskan waktu di pasar selama kurang lebih tiga jam. Srimaya sudah melahap habis dua porsi putu mayang dan dua gelas susu kacang kedelai, sementara aku dan Banyu berbagi satu porsi putu mayang dan satu gelas susu kacang kedelai. Setelahnya, kami memutuskan untung makan bakso. Lagi-lagi, Srimaya makan dengan cepat dan lahap. Semangkuk bakso dihabiskannya dalam waktu kurang dari 10 menit, sementara aku dan Banyu masing-masing makan semangkuk bakso selama kurang lebih 15 menit. Saat kami makan, Srimaya hanya duduk dan memperhatikan kami makan. Kakinya yang menggantung diayunkan tanpa henti. Dari mulutnya yang tertutup rapat, Srimaya bersenandung. Aku bisa mendengar dengan jelas lagu “Bintang Kecil” yang disenandungkannya.

~

Sepulang dari pasar, aku dan Banyu memutuskan untuk mengajak Srimaya bermain di pantai. Sementara aku duduk selonjor dengan kedua lengan yang menopang di atas pasir, Srimaya dan Banyu bermain air laut hingga mereka betul-betul basah kuyup. Dari tempatku duduk, aku bisa mendengar tawa Banyu dan Srimaya. Wajah mereka tampak begitu bahagia.

Dan malam itu, sebelum tidur, Srimaya naik ke tempat tidurku. “Malam ini aku mau tidur sama Kak Senja, ya. Hari ini aku senang sekali.” Srimaya mengecup pipiku lalu masuk ke dalam selimut. Ia tertidur pulas hanya dalam hitungan detik.

2 Comments - Add Comment

Reply