Cerita Senja dan Banyu Senja Moktika (dan Kekasihnya) Uncategorized

Cerita Senja dan Banyu: 09. Tertidur

August 27, 2015

Banyu seringkali tertidur. Di manapun yang ia bisa, ia selalu ingin tidur. Kadang aku iri padanya, ada malam-malam dimana aku terlalu sulit untuk tidur, dan aku tetap terjaga sepanjang malam, bahkan hingga pagi. Akan tetapi, ternyata hanya ada satu tempat di mana Banyu tidak akan pernah bisa tertidur. Dan aku pun baru saja mengetahuinya.

Adalah malam-malam di mana aku merasa lelah dengan keseharian. Aku lalu mengirimi Banyu pesan singkat, memintanya untuk mampir ke rumahku, barang sepuluh menit atau dua puluh menit saja. Seringkali, aku memintanya ke rumah saat kedua orang tuaku bertengkar hebat, membuat teriakan mereka bergema di seluruh penjuru rumah. Kini, Srimaya hanya bisa menggigit bibir setiap kali Ayah dan Bunda bertengkar hebat. Dulu, dia akan menangis histeris dan itu sama sekali tidak membantu kedua orang tua kami berhenti bertengkar. Mereka seperti orang yang kesetanan ketika bertengkar, jadilah mereka bertengkar hebat sampai puas. Untungnya, selama ini belum pernah sekali pun benda di dalam rumah melayang atau kata-kata kasar keluar dari mulut-mulut mereka. Meski demikian, siapa yang bisa tahan dengan saura teriakan?

Aku ingat betul hari itu, kira-kira dua minggu yang lalu.

Suara ketukan keras di jendela tidak mengejutkanku. Gema teriakan Ayah dan Bunda yang tengah bertengkar masih terus terdengar. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Aku langsung membuka jendela. Seperti biasa, Banyu. Ia hanya memerlukan kurang lebih 5 menit untuk bisa tiba ke rumah. Seperti malam-malam sebelumnya, ia mengayuh sepeda untuk bisa tiba ke rumahku. 

“Wajahmu pucat. Kamu sudah makan?” tanyanya saat melihatku. Aku hanya bisa duduk di atas tempat tidur. Begitu malas berkata-kata, tapi Banyu sudah terlanjur di sini untuk menemaniku.

“Sudah. Tadi aku makan beberapa potong apel sebelum Ayah dan Bunda bertengkar. Sesudahnya, aku merasa cukup lapar. Tapi setelah mereka mulai bertengkar…” Aku langsung terdiam.

“Kenapa? Ada apa?” Banyu bergabung untuk duduk bersamaku di atas tempat tidur.

“Aku jadi tidak ingin makan lagi. Rasa laparku hilang begitu saja,” jawabku cepat. Telapak tangan kananku spontan menyentuh pipi kiri Banyu. Hangat. 

Banyu merogoh saku. “Sudah kuduga. Ini coklat batangan buatmu. Di rumah ada banyak, stok untuk membuatmu tersenyum lagi, juga untuk membuatmu sedikit gendut,” ujarnya sambil terkekeh.

Tidak ada yang benar-benar bisa memahamiku selain Banyu. “Makasih, ya. Kamu selalu pengertian.”

Senyum Banyu mengembang. “Kamu pasti lelah. Sebaiknya kamu tidur duluan. Aku akan menunggu sampai kamu tertidur nyenyak.”

Aku menggeleng. “Kamu pasti tidur duluan.”

Kini, gantian Banyu yang menggeleng. “Kamu berani taruhan? Aku tidak akan tertidur duluan.”

Aku hanya bisa mengerutkan dahi karena bingung. “Apa maksudmu?”

“Tidurlah, Senja. Aku akan tunggu di sini, sampai kamu benar-benar tertidur.”

“Kenapa begitu?”

“Aku tidak akan bisa tidur jika kamu sedang merasa sedih, marah, atau lelah, kecuali jika kamu sudah benar-benar tidur. Melihatmu tertidur setelah merasa sedih, marah, atau lelah, baru bisa membuatku tenang, sehingga aku akan tertidur.”

Dan benar saja, malam itu, Banyu menungguiku hingga aku benar-benar tertidur. Setiap kali aku membuka mata sambil berusaha untuk tidur, Banyu terus membelai kepalaku, berbisik, dan menyuruhku untuk tidur.

Ah, Banyu.

You Might Also Like

8 Comments

  • Reply papabackpacker September 5, 2015 at 10:19 am

    Ini kalau ada beneran keren banget ya mbak? (Bukan pertengkaran orang tuanya loh, tapi Banyu sama Senja hehehe)
    Btw ini beneran atau enggak sih? Kok berasabya ada beneran

    • Reply Sefin September 7, 2015 at 3:59 pm

      ahahahaha makasih. 🙂 sayangnya bukan beneran. hehehehe.. Senja dan Banyu hidup di imajinasi saya aja dan semoga sih, di imajinasi para pembacanya juga. 🙂

      • Reply papabackpacker September 22, 2015 at 9:53 am

        Waaaah kirain beneran mbak hehehe
        Aku udah mulai terkontaminasi kayaknya nih mbak hehehe

        • Reply Sefin September 25, 2015 at 11:46 am

          hihi…nggak apa-apa. tunggu cerita berikutnya, ya. saya juga kangen sama senja dan banyu soalnya :”)

          • papabackpacker September 29, 2015 at 6:51 pm

            Itu juga dooong keluarin hehehe 😀

      • Reply Sefin September 30, 2015 at 11:28 am

        hihi ditunggu aja ya, Kak! 😀 besok harusnya bisa posting lagi~

  • Reply Herdynich September 24, 2015 at 9:57 pm

    Lagi nih kakak, coba aku kaya Banyu.. Ditunggu kaka cerita selanjutnya..

    • Reply Sefin September 25, 2015 at 11:50 am

      hihi Banyu memang lelaki idaman~ kayaknya hanya ada di imajinasiku saja. tunggu cerita berikutnya, ya!

    Leave a Reply

    Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com