Cerita Senja dan Banyu: 09. Tertidur

Banyu seringkali tertidur. Di manapun yang ia bisa, ia selalu ingin tidur. Kadang aku iri padanya, ada malam-malam dimana aku terlalu sulit untuk tidur, dan aku tetap terjaga sepanjang malam, bahkan hingga pagi. Akan tetapi, ternyata hanya ada satu tempat di mana Banyu tidak akan pernah bisa tertidur. Dan aku pun baru saja mengetahuinya.

Adalah malam-malam di mana aku merasa lelah dengan keseharian. Aku lalu mengirimi Banyu pesan singkat, memintanya untuk mampir ke rumahku, barang sepuluh menit atau dua puluh menit saja. Seringkali, aku memintanya ke rumah saat kedua orang tuaku bertengkar hebat, membuat teriakan mereka bergema di seluruh penjuru rumah. Kini, Srimaya hanya bisa menggigit bibir setiap kali Ayah dan Bunda bertengkar hebat. Dulu, dia akan menangis histeris dan itu sama sekali tidak membantu kedua orang tua kami berhenti bertengkar. Mereka seperti orang yang kesetanan ketika bertengkar, jadilah mereka bertengkar hebat sampai puas. Untungnya, selama ini belum pernah sekali pun benda di dalam rumah melayang atau kata-kata kasar keluar dari mulut-mulut mereka. Meski demikian, siapa yang bisa tahan dengan saura teriakan?

Aku ingat betul hari itu, kira-kira dua minggu yang lalu.

Suara ketukan keras di jendela tidak mengejutkanku. Gema teriakan Ayah dan Bunda yang tengah bertengkar masih terus terdengar. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Aku langsung membuka jendela. Seperti biasa, Banyu. Ia hanya memerlukan kurang lebih 5 menit untuk bisa tiba ke rumah. Seperti malam-malam sebelumnya, ia mengayuh sepeda untuk bisa tiba ke rumahku. 

“Wajahmu pucat. Kamu sudah makan?” tanyanya saat melihatku. Aku hanya bisa duduk di atas tempat tidur. Begitu malas berkata-kata, tapi Banyu sudah terlanjur di sini untuk menemaniku.

“Sudah. Tadi aku makan beberapa potong apel sebelum Ayah dan Bunda bertengkar. Sesudahnya, aku merasa cukup lapar. Tapi setelah mereka mulai bertengkar…” Aku langsung terdiam.

“Kenapa? Ada apa?” Banyu bergabung untuk duduk bersamaku di atas tempat tidur.

“Aku jadi tidak ingin makan lagi. Rasa laparku hilang begitu saja,” jawabku cepat. Telapak tangan kananku spontan menyentuh pipi kiri Banyu. Hangat. 

Banyu merogoh saku. “Sudah kuduga. Ini coklat batangan buatmu. Di rumah ada banyak, stok untuk membuatmu tersenyum lagi, juga untuk membuatmu sedikit gendut,” ujarnya sambil terkekeh.

Tidak ada yang benar-benar bisa memahamiku selain Banyu. “Makasih, ya. Kamu selalu pengertian.”

Senyum Banyu mengembang. “Kamu pasti lelah. Sebaiknya kamu tidur duluan. Aku akan menunggu sampai kamu tertidur nyenyak.”

Aku menggeleng. “Kamu pasti tidur duluan.”

Kini, gantian Banyu yang menggeleng. “Kamu berani taruhan? Aku tidak akan tertidur duluan.”

Aku hanya bisa mengerutkan dahi karena bingung. “Apa maksudmu?”

“Tidurlah, Senja. Aku akan tunggu di sini, sampai kamu benar-benar tertidur.”

“Kenapa begitu?”

“Aku tidak akan bisa tidur jika kamu sedang merasa sedih, marah, atau lelah, kecuali jika kamu sudah benar-benar tidur. Melihatmu tertidur setelah merasa sedih, marah, atau lelah, baru bisa membuatku tenang, sehingga aku akan tertidur.”

Dan benar saja, malam itu, Banyu menungguiku hingga aku benar-benar tertidur. Setiap kali aku membuka mata sambil berusaha untuk tidur, Banyu terus membelai kepalaku, berbisik, dan menyuruhku untuk tidur.

Ah, Banyu.

8 Comments - Add Comment

Reply