Cerita Senja dan Banyu Senja Moktika (dan Kekasihnya) Uncategorized

Cerita Senja dan Banyu: 13. Di Pantai

November 12, 2015

Sudah lama sekali aku tidak bercerita. Ya, bercerita lebih banyak tentangku dan Banyu. Mungkin ada di antara kalian yang merindukan kami. Mungkin. Dan kini aku akan kembali bercerita tentangku dan Banyu, serta tempat favorit kami, yaitu pantai.

Bagiku dan Banyu, pantai bukanlah tempat untuk sekadar bermesraan. Terlebih karena kami bisa bermesraan di mana saja–sesuai keinginan kami. Bagi kami, pantai juga bukan sekadar tempat untuk mencelupkan kaki dan tubuh, juga bukan tempat untuk membiarkan pasir masuk ke sela-sela jari tangan dan kaki. Pantai juga bukan tempat untuk berlarian sambil membiarkan terusanmu yang tipis berkibar-kibar seperti bendera. Pantai pun bukan tempat untuk tersenyum dan tertawa-tawa.

Tentu kamu ingat akan perjumpaan pertamaku dengan Banyu, kira-kira tiga belas tahun yang lalu. Saat itu, aku mengantarnya ke pantai dengan sepedaku, supaya dia bisa mendapatkan sepedanya kembali. Singkat cerita, kami menjadi sering pergi ke pantai bersama sejak saat itu. Sepulang sekolah. Sebelum tidur. Setelah bangun tidur. Kami ke pantai sebagai bocah ingusan. Lalu kami ke pantai sebagai sepasang sahabat. Dan kini, sebagai sepasang kekasih. Aku sendiri tidak terlalu suka mendefinisikan hubunganku dengan Banyu karena aku percaya, ada terlalu banyak hal yang tidak perlu diberi label dan didefinisikan di dunia ini.

Bagiku dan Banyu, pantai adalah rumah kedua. Pantai adalah tempat di mana segala sesuatunya tersedia. Pada banyak kesempatan, aku biasa menonton Banyu berselancar. Ah, tapi jauh sebelum itu, aku telah menemani Banyu saat dia masih belajar berselancar dengan papan yang lebih kecil. Lagi-lagi, saat kami masih ingusan. Baik dalam makna literal maupun tidak, aku dan Banyu sama-sama mudah pilek saat terkena hembusan angin dingin. Dulu sih, kami tidak tahu bahwa berpelukan dapat menghangatkan tubuh kami, sehingga kami lebih banyak menggosokkan kedua telapak tangan kami masing-masing sambil sesekali mengelap ingus yang meler dari hidung mungil kami. Baru setelah kami berpacaran, kami saling menghangatkan dengan berpelukan, terutama jika salah satu di antara kami lupa membawa selimut flanel dari rumah.

Sambil memerhatikan gerak-gerik Banyu saat menari bersama ombak, biasanya aku membaca buku. Atau berbaring di atas pasir sambil memandangi awan-awan yang bergerak perlahan. Usai berselancar, biasanya Banyu menghampiriku, kemudian berbaring tepat di sampingku. Dengan tubuh yang basah dan lengket karena air laut, ia pun hanya berani menggenggam tanganku karena ia tahu aku tidak suka tubuhku basah karena orang lain. Aku lebih suka membiarkan tubuhku basah karena aku memang menginginkannya.

Di saat-saat itu pula, kami membicarakan banyak hal. “Adakah yang lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu bersamamu, Senja?

Pertanyaan Banyu saat itu membuatku terkejut. “Bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa menghabiskan waktu bersamaku begitu menyenangkan? Dalam banyak kesempatan, aku lebih sering menangis, mengeluh, dan merengek.”

Masih sambil berbaring di sebelahku, Banyu kemudian menggenggam tanganku lebih erat. “Entahlah. Kamu begitu ekspresif. Kamu itu lucu, kamu tahu?”

Bahkan sampai saat ini, aku tidak pernah tahu maksud perkataan Banyu. “Apa hubungannya ekspresif dengan berbagai tindakan menyebalkanku itu?”

“Seperti yang kamu bilang, ada banyak hal yang tidak perlu dijelaskan di dunia ini. Yang kutahu, menghabiskan waktu bersamamu selalu menyenangkan. Aku merasa seperti anak kecil lagi.”

Banyu lalu membiarkan kepalanya yang masih basah, tertidur di pangkuanku. Entah mengapa, sore itu aku tidak bisa marah. Aku hanya bisa menyisir rambutnya dengan jemariku–seperti biasa. 

Di pantai, aku dan Banyu bisa menghabiskan waktu tanpa memedulikan apapun. Di pantai, kami terbiasa menghabiskan waktu bersama-sama, membicarakan hal-hal yang sepele dan absurd. Karena pantai ini telah mengenal diri kamu jauh sebelum kami mengenal diri kami sendiri. Di pantai, kami menjadi diri kami sendiri–kami menjadi Senja dan Banyu. Yang sesungguhnya.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com