Uncategorized

Cerita Senja dan Banyu: 15. Ke Mana Saja?

March 7, 2017

Beberapa orang mempertanyakan keberadaanku, juga keberadaan Banyu. Bukan, bukan banyak orang yang mencari kami, karena kami juga tidak punya terlalu banyak teman. Paling-paling, mereka yang senang membaca cerita kami saja yang mencari. Memang, sudah lebih dari setahun kabar kami tidak terdengar.

Kabar kami? Tentunya baik-baik saja. Aku dan Banyu semakin akur, akrab, dan mesra dalam setahun belakangan. Rasanya kami tidak mau berbagi cerita sama sekali, biar kami saja yang mengetahuinya. Tapi tampaknya, kalian tidak rela bila kami tidak berbagi. Hehe…

Aku pun merasa sedikit terpaksa harus bercerita, setelah 2 cerita kami sebelumnya di-hack orang tidak dikenal. Sampai aku sadar bahwa mungkin hacker-nya rindu cerita kami sehingga merasa perlu membajak cerita tersebut. Tentu aku sedih, memori tidak akan pernah hilang, tapi menuliskannya kembali akan sedikit melelahkan. Cerita tentang rutinitas kami ke pantai dan tentang ibu Banyu, Tante Sohita.

Kami semua baik-baik saja. Hidup berjalan seperti biasa. Ayah kini sedang sakit. Meski kondisinya tidak terlalu baik, ia tetap bisa tersenyum dan tertawa. Hanya saja, melihatnya tidak berdaya terkadang begitu menyakitkan. Membuat dadaku sesak—atau dada kami, terutama dada Bunda dan dada adik kecilku Srimaya, walaupun ya Srimaya belum begitu paham. Yang jelas ia sedih karena Ayah sudah tidak bisa sering-sering bermain lagi dengannya.

Dan ketika aku cerita pada Banyu bahwa ada banyak orang yang mencari kami, Banyu pun hanya mengernyitkan dahi. Ia tampak begitu bingung. “Oh? Kenapa mereka mencari kita? Kita punya utang ya sama mereka?”

Aku hanya bisa tertawa mendengarnya berbicara seperti itu. Memang sih, rasanya kami tidak punya utang pada kalian yang membaca cerita kami, tapi sepertinya kalian sudah rindu pada kami.

Dalam setahun terakhir, ada banyak hal yang terjadi. Mulai dari Srimaya yang sebentar lagi akan berusia 7 tahun, Ayah yang akan genap satu tahun sakit stroke, hingga Banyu yang kulitnya sudah lebih terang tapi jumlah tatonya malah semakin banyak. Kabarku? Rasanya tidak banyak yang berubah, kecuali aku baru saja memotong rambutku menjadi sebahu.

Rambut pendek rasanya tidak begitu merepotkan. Mengeringkannya pun cepat sekali. Sayangnya, Banyu jadi sulit untuk memainkan rambutku. Bahkan, kini rambutnya yang sedikit ikal sudah lebih panjang dariku. Dan aku selalu suka saat melihat rambutnya basah karena air laut, lalu saat kulitnya semakin gelap karena terbakar matahari.

Oh iya, masih ada satu hal lagi tentangku yang mungkin ingin kalian ketahui. Akhir tahun lalu, aku baru saja menggelar pameran lukisan pertamaku. Ya, aku masih sering melukis. Setiap hari, tepatnya. Belakangan ini aku lebih sering melukis manusia, terutama Banyu. Melukisnya membuatku semakin sayang padanya. Aku tidak mau bilang cinta karena menurutku akan terkesan terlalu muluk. Semakin lama, aku semakin percaya bahwa realita memang lebih pahit daripada mimpi. Tapi Banyu selalu membantuku percaya bahwa realita dan mimpi hampir tidak ada bedanya. Karena aku selalu punya dia.

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply Lombok Wander March 16, 2017 at 3:50 pm

    Sedih mendengar ayah sakit

  • Leave a Reply

    Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com