Ke Mana Dia yang Bernama Waktu?

Sepertinya baru kemarin saya mendaftar les Bimbingan Tes Alumni atau BTA di SMAN 8 Jakarta untuk mempersiapkan diri supaya bisa diterima kuliah di Universitas Indonesia (UI). Sepertinya baru kemarin saya diterima magang dua bulan di majalah CosmoGIRL! Indonesia.

Lalu sekarang, saya sudah di sini; duduk sebagai mahasiswi yang akan segera belajar di tahun keempat dalam beberapa bulan ke depan. Begitu pun adik bungsu saya yang akan memulai hari pertamanya sebagai anak SMA, besok. Ini adalah salah satu perbincangan yang sering saya mulai dengan seorang sahabat. Sebelum masuk kuliah, saya suka membicarakan betapa cepatnya waktu berjalan dengan Nadia. Nadia Aswan–nama panjangnya, adalah salah seorang sahabat terdekat saya. Kami membicarakan hal ini sebelum dia berangkat kuliah ke Cambridge waktu itu, pada tahun 2010. Tahun itu adalah tahun transisi bagi kami, dari dua perempuan lulusan SMA menjadi dua orang dengan tanggung jawab yang lebih.

Akhirnya kami setuju, kalau kami bertemu dia yang bernama waktu, akan kami habisi. Akan kami hajar. Oke, ini mungkin terlalu kasar, tapi saya mulai berpikir untuk mengajak dia yang bernama waktu ini untuk berunding. Berunding untuk membuat semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja. Oh, well, semuanya tidak mungkin berjalan sebaik itu. Semuanya tidak mungkin berjalan selancar itu. Inilah hidup; inilah seni dalam hidup. Dan di usia 21 tahun, saya semakin menyadari bahwa waktu tidak akan pernah menunggu siapapun. Bahwa waktu tidak akan pernah membiarkan siapapun mengontrolnya.

Mungkin saya masih terlalu muda untuk mengerti betapa cepatnya waktu berjalan, tapi yang saya tahu, dia yang bernama waktu memang tidak akan pernah bisa saya kuasai, saya kendalikan, dan saya hentikan. Ini mungkin tugas terberat dalam hidup buat saya, yaitu membiarkan setiap detik menjadi berharga. Dan begitu waktu berjalan dengan teramat sangat cepat, saya akan bertanya dengan senyum, “Ke mana dia yang bernama waktu?”

Pertanyaan tadi akhirnya membuat saya paham, bahwa sebenarnya waktu adalah sebuah alat bantu dari dia yang bernama hidup. Waktu yang tidak pernah diputarbalikkan membantu saya memahami bahwa saya harus melakukan yang terbaik supaya tidak ada yang pernah saya sesali. Penyesalan sendiri adalah salah satu hal yang berusaha saya hindari belakangan ini. Apapun yang saya lakukan, apapun yang terjadi, saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyesalinya. Dan sebagai seseorang yang cukup perfeksionis, ini bukanlah hal yang mudah bagi saya. Kata-kata seperti ‘andai saja…’ atau ‘i wish things are…’ adalah barisan kata yang paling saya hindari. Dengan tidak mengatakan semua itu, saya yakin bahwa saya telah melakukan yang terbaik dan tidak pernah menyesali apapun yang pernah terjadi dalam hidup.

Jadi, ke mana dia yang bernama waktu?

2 Comments - Add Comment

Reply