Kembali Belajar

“Jadi, begini toh rasanya nyesek?”
“Belajar lagi, Sefin…”
“Kalau nggak jatuh, kita nggak akan belajar menjadi kuat.”
“It’s okay, not to be okay.”
“Jangan pernah menyerah.”
“There is still a room for improvement.”
“Gagal di situ, terus mau gagal di hal lain?”

Sudah lama sekali nggak menulis. Menulis fiksi, maksudnya. Terakhir kali menulis… hmm… saya nggak ingat kapan, yang jelas pada tanggal 11 yang lalu akhirnya saya memutuskan menulis sebuah cerpen berjudul “Perjalanan Maya” untuk sebuah lomba menulis. Senin, Selasa, Rabu, Kamis… Saya menulis, merevisi, dan merampungkan cerita selama empat hari dan saya ingat betul energi itu–energi yang membuat banyak kata melayang-layang di dalam kepala. Blup… Blup… Blup… Saya seperti berada dalam sebuah akuarium dengan bahan tulisan sebagai ikan-ikannya.

Dan begitu cerpennya selesai pertama kali, saya langsung meminta tolong dua orang teman untuk memberikan komentar tentang cerpen saya. Saya beruntung, masih ada orang-orang yang mau membaca tulisan saya, walaupun saya sendiri masih belum pede untuk benar-benar membiarkan orang lain membacanya. Singkat kata, dengan berbagai perombakan, akhirnya cerpen saya ‘siap bungkus’. Malam itu, pada hari Kamis, akhirnya saya memutuskan untuk mengirimkan cerpen saya ke panitia lomba. Saya lega. Seenggaknya, saya sudah menulis lagi.

Ada kalanya saya bisa sangat optimis, tapi saya tahu bahwa sebenarnya pikiran saya lebih suka berpikir secara pesimistis. Harapan saya untuk menang cukup besar dan ekspektasi saya sepertinya terlalu besar. Yang menjadi iming-iming dari lomba menulis itu sendiri adalah hadiah ‘paket’ Ubud Writers Readers Festival 2014 bagi para pemenangnya. Saya ingin sekali datang ke sana.

Dua minggu berlalu setelah batas waktu pengiriman naskah. Nominasi untuk tiga kategori lain, yaitu novel, puisi, dan cerita non-fiksi sudah diumumkan. Jujur, saya nggak bisa tidur. Saya begitu cemas saat membayangkan apakah cerpen saya masuk nominasi atau nggak. Saya juga nggak lupa bagaimana saya langsung menelepon salah satu kawan yang masuk nominasi cerita non-fiksi, memberi tahunya kabar bahagia, sekaligus mengucapkan selamat.

Pengumuman tiba. Kemarin malam, nggak seperti biasanya, saya pun memutuskan untuk berdoa sebelum tidur. Saya bukan manusia yang religius, saya tahu betul, tapi toh akhirnya saya berdoa juga. Begitu selesai doa, pikiran saya kembali melayang pada pengumuman lomba cerpen tersebut. Spontan saya meluncur ke linimasa akun panitia dan akhirnya saya mendapati daftar 50 nominasi.

Saya mengutuk diri. Ya, saya nggak lolos. Terlebih karena saya malu pada diri sendiri. Saya menganggap diri saya terlalu payah.

Saya selalu suka menulis, tapi rasanya, suka saja belum cukup.

Ternyata rasanya lebih membuat sesak daripada gagalnya rencana lulus kuliah 3,5 tahun.

Ternyata… sedih, juga, ya? 🙂

Saya nggak bisa berkata-kata lebih banyak. Tiba-tiba pikiran saya mengingat-ngingat kritik dan saran dari beberapa teman yang membaca tulisan saya setelah batas pengiriman naskah. Katanya tulisan saya masih terlalu padat. Katanya tulisan saya terlalu mudah ditebak. Katanya ini, katanya itu. Pada dasarnya saya memang nggak suka dikritik, tapi saya tahu saya nggak bisa begini terus. Menulis cerita perjalanan dalam kemasan cerita pendek ternyata nggak semudah yang saya kira. Ilham tulisan yang datang tiba-tiba ternyata nggak serta-merta bisa membantu saya untuk bisa menulis cerita dengan baik dan indah–nggak seperti zaman SMP dulu, ilham datang, tulisan jadi, dikirim ke majalah, lalu langsung terbit. Lagi-lagi, saya masih harus banyak belajar.

Saya ingin terus menulis. Saya nggak ingin berhenti menulis. Maka sejak kemarin malam, saya kembali merefleksi kebiasaan menulis saya. Saya cenderung menjadi penulis gelisah yang menulis seenak jidat. Saya cenderung menjadi penulis yang suka ngebut tanpa takut nyawa melayang. Kini semuanya harus dikerjakan secara perlahan, seenggaknya begitu. Saya harus punya lebih banyak perhitungan. Saya harus kembali belajar.

Saya lega saya belum menang, karena saya pun masih harus banyak berlatih. Menulis sebenarnya hanya perkara latihan dan belajar. Saya tahu lebih gampang bicara daripada mempraktikkannya, tapi saya benar-benar berharap bahwa saya bisa terus menulis dan belajar.

Saya harus kembali belajar.

2 Comments - Add Comment

Reply