Kembali ke Perpisahan

Semakin banyak perjumpaan, semakin banyak pulalah perpisahan yang akan dan harus hadir. Ya, memang berat.

Aku tidak pernah menyukai berita duka, tidak pernah juga senang mengucapkan selamat tinggal. Lebih baik mengatakan “Sampai jumpa”, ketimbang harus mengucapkan “Selamat tinggal.” Mungkin bagi sebagian orang kedua frasa ini tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama diucapkan ketika kita–atau aku, berpisah dengan orang yang kujumpai.

Aku benci mengatakan hal ini, tetapi belajar mengikhlaskan kepergian siapapun di muka bumi ini tidak pernah terasa mudah. Rasanya, lebih baik mengerjakan ujian dengan seribu soal daripada harus berpisah tanpa tahu kapan akan bersua kembali.

Tulisan ini kubuat untuk menghormati orang-orang yang telah datang dan pergi dalam hidupku, terutama untuk mereka yang sudah naik ke Surga. Halo, Kak Anggi, Ama, Mas Dekun, dan semuanya! 🙂

Aku tahu, mungkin suatu hari nanti akan tiba giliranku untuk meninggalkan semua yang kupunya; untuk mengikhlaskan semua momen yang pernah kumiliki selama aku hidup. Tidak, aku tidak mau mati. Tidak, aku tidak mau bunuh diri. Aku hanya bersiap-siap untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi. Tidak ada salahnya, kan? 🙂

Yang jelas, aku sangat beruntung dan bersyukur atas semua perjumpaan dan perpisahan yang pernah terjadi dalam hidupku. Semuanya telah berhasil menciptakan berbagai macam kesan dan pesan. Semuanya telah menjadi begitu berarti. Semuanya telah tersimpan rapi dalam memori di otakku… dan semoga saja aku tidak harus melupakan itu semua hingga ku mati nanti. Semoga. Tapi, sekali lagi, tidak ada yang akan pernah tahu, kan?

Pada akhirnya, kita semuanyalah yang akan memutuskan. Kita semualah yang harus mengucapkan salam perpisahan. Semua perjumpaan harus kembali ke dalam satu perpisahan.

Reply