Kendali

Banyak orang bilang bahwa menulis adalah salah satu terapi terbaik bagi hati yang terluka. Atau mungkin dalam kasus saya, bagi hati yang gelisah.

Bulan-bulan berlalu dengan begitu cepat. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya benar-benar menulis (kecuali skripsi), juga kapan terakhir kali saya benar-benar membaca sebuah buku (kecuali bahan skripsi). Padahal, memiliki sebuah perpustakaan mungil di rumah dan menjadi seorang penulis professional telah menjadi impian terbesar saya sejak 10 tahun yang lalu. Lalu, saya mulai bertanya pada diri saya sendiri, “Mana ada pemimpi yang sombong sepertiku, ingin menjadi penulis yang tulisannya dinikmati orang lain, tapi aku sendiri pun tidak pernah lagi menulis maupun membaca?”

Sudah hampir dua bulan lamanya saya menjadi Sarjana Humaniora atau pengangguran. Sempat sebulan lamanya saya mencoba mengajar Bahasa Inggris di sebuah kursus di kawasan Pondok Indah, dan saya tidak bisa bilang bahwa mengajar tidaklah menyenangkan. Anak-anak kecil yang lucu; yang perempuan hampir selalu berusaha menjadi anak manis di kelas, sementara yang laki-laki hampir selalu berusaha membangkang. Sejujurnya, saya rindu menjadi anak kecil lagi. Saya rindu rambut bondol dan lutut yang biru-biru serta penuh luka. Tidak bisakah kita tidak khawatir tentang hari ini dan hari esok?

Saya tidak pernah lupa bagaimana saya berikrar pada sahabat saya sendiri, bahwa jika saya bertemu dengan “waktu”, saya akan menghabisinya. Semuanya terasa sangat jelas dan dekat, tapi ternyata telah terjadi begitu saja. Rasanya baru kemarin saya berbincang tentang perlukah saya menulis skripsi atau tidak… dan bahkan kini satu eksemplar skripsi saya sudah teronggok di salah satu sudut perpustakaan kampus. Rasanya baru kemarin saya punya pacar baru yang kemudian memutuskan hubungan kami tepat dua hari sebelum tenggat waktu pengumpulan skripsi saya.

Rasanya baru kemarin saya tahu apa artinya patah hati dan turun berat badan tanpa harus bersusah payah. Rasanya baru kemarin saya dibuat menangis karena sidang skripsi saya sendiri. Rasanya baru kemarin keluarga kecil dan sahabat-sahabat terdekat saya datang jauh-jauh ke Depok di hari hujan untuk datang ke wisuda saya.

Rasanya baru kemarin saya mengajar anak-anak yang nakal, kemudian pergi ke Bali untuk pergi dengan teman-teman yang saya kenal di sebuah kelas menulis satu tahun yang lalu. Begitu mudahnya saya tergoda untuk tinggal dengan masa-masa bahagia dan melupakan segala yang menyakitkan, tapi tentu tidak bisa. Otak saya tidak dengan mudahnya memilih mana yang mau diingatnya. Memori adalah memori.

Mengingat Papa yang kini menderita demensia dan kerap melupakan hal-hal kecil, juga besar, saya pun merasa bahwa saya bersyukur akan segala memori menyakitkan dan menyenangkan yang pernah hadir dalam hidup saya, berharap bahwa mereka tidak akan lenyap begitu saja.

Oleh karena itulah saya menuliskan ini, berharap bahwa ini akan mengusir kebosanan saya, setidaknya sedikit saja. Saya mengingat kamu, kamu, dan kamu. Saya mengingat dia, dia, dan dia. Bila terkadang saya menertawakan sinetron atau FTV yang kelewat mustahil untuk terjadi, bila saya bercermin, merefleksikan segala yang telah saya alami, saya tahu bahwa secara tidak langsung saya pun menertawakan diri saya sendiri. Hidup saya adalah sebuah sinetron yang tidak bisa dikendalikan. Saya mungkin menjadi sutradaranya, tapi saya tahu bahwa takdirlah produser utamanya. Meski demikian, ada banyak hal yang akhirnya membuat hidup saya menjadi lucu, bahwa sebenarnya ada hal-hal yang begitu mudah ditebak; bahwa adegan-adegan itu akan benar terjadi, tapi karena saya terlalu girang untuk terjebak di dalamnya, saya tetap membiarkannya terjadi.

Pada akhirnya saya tahu bahwa saya tidak sepintar yang saya kira. Kesombongan memakan diri saya sendiri. Kemudian menertawakan diri saya sendiri. Bahwa memang tidak semuanya berada dalam kendali saya.

Hidup ini memang begini. Setidaknya, saya berusaha untuk tidak menyesalinya.

Reply