Membahasakan Cinta

Namaku Sefin dan tidak ada yang bisa mengalahkan kecintaanku pada Bahasa Inggris, salah satu bahasa internasional dengan jutaan penutur di dunia. Aku pertama kali mempelajari bahasa asing ini saat duduk di bangku pertama Sekolah Dasar (SD) dan waktu itu usiaku baru enam tahun. Bagiku, Bahasa Inggris adalah bahasa asing yang sangat menarik dan pengucapan yang khas. Yang lebih mengasyikkan lagi, penulisan Bahasa Inggris menggunakan huruf Latin, sehingga aku tidak perlu mempelajari aksara baru dalam belajar Bahasa Inggris. Banyaknya bacaan, lagu, dan film populer berbahasa Inggris pun juga berhasil menarik perhatianku, sehingga semakin bersemangat belajar Bahasa Inggris.

Selang beberapa lama kemudian, setelah aku menerima pelajaran Bahasa Inggris di sekolah, untuk pertama kalinya Mama menawarkanku mengikuti kursus Bahasa Inggris. Ini adalah penawaran yang sangat menarik bagi peminat Bahasa Inggris sepertiku. Dengan senang hati, aku langsung menerima tawaran dari Mama. Bayangan seorang Sefin yang bisa fasih berbahasa Inggris dengan serta merta muncul di benakku saat itu. Aku sangat tidak sabar untuk bisa cas-cis-cus berbahasa Inggris!

Setelah belajar di tempat les Bahasa Inggris pertamaku, ternyata pembelajaran Bahasa Inggris di sana tidak sesuai dengan bayanganku. Di sana kami harus belajar dengan full berbahasa Inggris. Selain itu, ada satpam yang menjaga tempat kursus bila kami datang terlambat. Kedisiplinan memang menjadi nilai utama bagi tempat kursus ini, namun aku sangat tidak tahan dengan kedisiplinan yang malah membuatku stress. Terlebih, guru-gurunya di sana sangat galak saat mengajar dan tak jarang kami dihukum bila datang terlambat. Di saat kejenuhan dan kebosananku di tempat kursus itu meningkat, aku akhirnya bilang pada Mama bahwa aku ingin berhenti les di sana. Meski Mama agak kecewa, Mama pada akhirnya setuju akan keputusanku untuk berhenti les. Setelah itu, mau tidak mau, aku harus belajar sendiri di rumah untuk bisa mengasah kemampuanku berbahasa Inggris, sampai akhirnya sempat mencoba les di beberapa tempat kursus Bahasa Inggris.

Sepanjang tahun-tahunku di bangku sekolah, Bahasa Inggris selalu menjadi pelajaran favorit yang menyumbang nilai tertinggi di raporku. Semasa sekolah, aku selalu menganggap tugas dan ujian Bahasa Inggris sebagai pekerjaan yang paling menyenangkan. Setiap guru Bahasa Inggris yang pernah mengajarku pun selalu kuingat nama dan jasanya sampai sekarang dan hampir semua guru Bahasa Inggris yang pernah mengajarku menjadi guru favorit selama sekolah. Salah satu dari mereka adalah Marcellinus Widya Kuncara, atau yang biasa disapa Sir Widya.

Sir Widya adalah guru Bahasa Inggris yang mengajarku saat aku mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Perawakannya kurus dengan janggut khas di dagunya. Rambutnya selalu tertata rapih. Bisa dibilang, ia adalah salah satu guru tertampan di sekolah. Apalagi, usianya masih muda. Walau lebih sering diingat sebagai guru Bahasa Inggris yang tegas, Sir Widya sesungguhnya adalah figur seorang bapak muda yang sangat baik dan perhatian. Ia selalu hafal nama-nama muridnya, juga tidak pernah absen tersenyum ketika berpapasan dengan orang-orang yang mengenal dan dikenalnya. Aku selalu ingat betapa ia tidak pernah salah melafalkan namaku, juga selalu menuliskan namaku dengan benar karena seringkali orang salah melafalkan dan menuliskan namaku. Perhatian kecilnya akan detil-detil dan nama-nama murid pun menjadikan dirinya sebagai seorang guru teliti yang penuh perhatian. Ia sangat peka dan peduli akan apa yang ada di sekitarnya, termasuk nama-nama murid.

Selain pembawaan dan perhatiannya, aku sangat mengagumi cara Sir Widya mengajar kami semua. Beliau selalu memberikan materi dengan hati yang tulus, namun tidak pernah melupakan ketegasan dan keseriusan dalam mengajar. Ia tidak ingin kami sekadar belajar Bahasa Inggris demi nilai tinggi, tapi kami juga diajarkan untuk berbahasa dengan baik dan benar. Berkatnya, aku pun melihat Bahasa Inggris dari sisi lain, sebagai sebuah bahasa yang berseni dengan ciri khasnya. Aku juga berhasil memahami susunan gramatikal Bahasa Inggris secara terstruktur dan jelas. Materi yang disampaikan Sir Widya selama mengajar selalu disampaikan sedetil mungkin dan ia tidak pernah segan-segan untuk menjelaskan kembali materi-materi yang tidak dipahami muridnya. Dari materi yang telah ia ajarkan, aku telah memperoleh banyak sekali pembelajaran tentang Bahasa Inggris dan sosok guru yang sesungguhnya. Kadang aku berkhayal, bila suatu saat nanti aku menjadi seorang guru, aku ingin menjadi seorang guru seperti beliau.

Selain menjadi murid Bahasa Inggrisnya, aku sangatlah beruntung karena aku sempat menjadi anggota murid kelas 9C, kelas yang dibinanya dulu.  Ia adalah wali kelas paling pengertian yang pernah kutahu, ia tidak mendikte, melainkan mengayomi kami, anak-anaknya. Kelas kami dulu dinamai Gothic, yang merupakan singkatan dari Gerombolan Thiga Ce. Berkat binaan Sir Widya, kelas kami pun menjadi kelas paling kompak di antara kelas-kelas lain. Kreativitas kami tidak pernah dibatasi oleh beliaum terutama karena beliau begitu mengerti bahwa remaja seperti kami sedang giat-giatnya mengembangkan kreativitas dan mengekspresikan diri. Kami dibiarkan bebas berkreasi dengan pengawasan dan bimbingan darinya.

Di bawah asuhannya, kami juga seringkali menjuarai lomba-lomba antar kelas saat perayaan tertentu di sekolah, terutama dalam lomba-lomba yang berhubungan dengan seni. Salah satu dari lomba-lomba itu adalah lomba vokal grup. Lomba vokal grup ini adalah lomba yang paling kuingat karena kami berlatih sangat keras dengan kostum yang kompak. Saat itu, aku pun menjadi salah satu bintang utama, yaitu menjadi malaikat dengan jubah putih dan bando halo di kepala yang kemudian nge-rap lagu-lagu rohani dan popular andalan kami. Meski awalnya sempat malu dan gemetaran, aku dan teman-temanku berhasil menjadi juara pertama. Setelah kemenangan itu, kami pun menjadi semakin pede dalam mengikuti lomba seni lainnya di sekolah. Kelas kami begitu dikenal kelas lain di sekolah, terutama karena kelas kami sangat identik dengan keahlian seni dan musikalnya. Sir Widya juga semakin bangga dengan kelas kami, kelas binaannya. Setidaknya, sebagai murid-murid yang diwalikannya, kami berhasil memberikan kenangan-kenangan manis.

Sifat tegas Sir Widya tercermin dari sikapnya ketika kelas kami membuat ulah di hadapan guru-guru lain. Sebagai kelas yang paling heboh, tidak bisa diam, dan paling banyak memiliki murid hiperaktif, kelas kami tidak pernah luput dari masalah. Seringkali kami ‘disidang’ karena membuat masalah, mulai dari temanku yang hampir menonjok guru hingga teman lain yang berkelahi dengan murid di kelas lain. Meski masalah-masalah yang dihadapi kelas kami tidak pernah mudah, Sir Widya selalu berhasil membantu kami menyelesaikan semua masalah itu dengan kepala dingin. Dengan wejangan-wejangan serta peringatan-peringatan darinya, kami pun menjadi merasa bersalah karena ia tidak mengomeli kami terang-terangan, tetapi membuat kami sadar akan kesalahan-kesalahan kami. Beliau membantu kami belajar dari semua kesalahan yang kami lakukan, sehingga kami kemudian berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan kami lagi. Sosoknya sebagai bapak wali kelas begitu mengayomi kami, begitu banyak yang telah beliau ajarkan pada kami.

Di samping kemahirannya berbahasa Inggris dan mengayomi murid-muridnya, Sir Widya juga membina paduan suara sekolah kami, Tarakanita Glee Club (TGC). Ketika aku baru masuk SMP, TGC hanyalah sekadar sebuah klub paduan suara sekolah yang belum menjadi sebuah ekstrakurikuler. Di tahun pertamaku duduk di SMP, aku sempat bergabung dengan TGC. Kali itu kami bernyanyi untuk upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia bersama adik-adik dari TK, SD, serta kakak-kakak dari SMA. Awalnya, aku sangat bersemangat menjadi anggota TGC, namun ada satu momen yang membuatku sedikit tersinggung. Momen itu adalah ketika Sir Widya mengkritik gaya menyanyiku habis-habisan. Karena kritik itu, aku pun memutuskan untuk tidak bernyanyi lagi bersama TGC, aku sudah terlanjur kecewa.

Keputusanku untuk meninggalkan  kelompok paduan suara ternyata bukanlah keputusan yang mudah karena pada akhirnya toh aku kembali lagi ke TGC. Kerinduanku untuk menyanyi kembali dalam sebuah paduan suaralah yang memanggilku di tahun terakhir aku belajar di SMP. Saat itu, TGC telah menjadi sebuah ekstrakurikuler dengan pamor yang cukup baik, terutama karena konsistensinya untuk menggelar konser amal setiap tahun. Meski aku masih ingat dengan kritikan pedas dari Sir Widya, saat itu juga aku bertekad untuk bisa bernyanyi kembali bersama TGC. Setelah aku sadari, kritik dari Sir Widya ada benarnya juga, dan pada akhirnya berhasil memotivasiku untuk bernyanyi dengan lebih baik. Usahaku pun tidak sia-sia, berkat kritikan dan motivasi itu, aku berhasil menjadi salah satu dari lima pentolan kelompok suara Alto. Meski kami hanya berlima, suara kami selalu terdengar seperti dua puluh orang karena Sir Widya telah melatih kami dengan baik.

Aku tidak pernah lupa ilmu yang telah dilimpahkan oleh Sir Widya bagi kami semua, bahwa menyanyi tidak hanya membutuhkan kemampuan yang tinggi, namun juga dengan ketulusan. Kami diajarkan untuk selalu bernyanyi dengan hati yang riang. Setiap lagu yang kami bawakan pun harus bisa ‘berbicara’ lewat kedua mata kami—mata kami harus selalu berbinar dan bersinar bagaikan matahari pagi.

Di tahun itu pula, kami mengadakan konser amal yang bertemakan “It Must be Love” dengan beberapa lagu ciptaan Sir Widya dan beberapa lagu populer yang di-cover seperti “I Was Born to Love You” dari band Inggris, Queen. Menjadi bagian dari konser itu pun menjadi salah satu momen terindah dalam hidupku, bernyanyi dengan cinta bersama teman-teman yang kusayangi. Sir Widya telah mengajarkan kami arti cinta yang sebenarnya. Bernyanyi dengan TGC menjadi kenangan paling tak terlupakan selama masa belajarku di SMP dan aku senang sekali bisa menjadi bagian dari TGC.

Lulus dari SMP tidak serta merta membuatku jauh dan lupa pada figur seorang Sir Widya. Kebetulan, gedung SMP dan SMA waktu itu masih menjadi satu, sehingga aku hanya perlu naik ke lantai atas gedung untuk sekadar bertemu atau mengunjungi Sir Widya.

Setelah konser amal “It Must be Love”, aku juga masih sempat bernyanyi untuk konser di tahun berikutnya, “How Green is Your Heart?” sebagai alumni dari TGC. Menjadi seorang anggota TC merupakan suatu kebanggaan yang tak terkira, bahkan sampai sekarang. Apalagi, eksistensi TGC kini semakin didengar dan masih konsisten menggelar konser amal setiap tahunnya.

Di tahun itu pula, tahun pertamaku di SMA, aku mendaftar pada sebuah program pertukaran pelajar AFS (American Field Service) dengan harapan bisa berangkat ke Amerika Serikat atau negara lain untuk merasakan satu tahun kehidupan SMA di negeri orang. Saat itu, aku sangat excited dan terus bercerita pada Sir Widya mengenai peluangku untuk bisa belajar setahun di luar negeri. Aku juga sering membayangkan diriku mengikuti pesta prom di luar negeri dan aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk memberikan usaha yang paling maksimal.

Gayung bersambut. Di tes seleksi pertama area Jakarta, aku lolos. Aku terpilih menjadi salah satu di antara 150 orang yang disaring dari 1000 pendaftar. Tes pertama adalah tes pengetahuan umum, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Pada awalnya, aku sempat tidak percaya bahwa aku bisa lolos di tes tahap pertama karena merasa tidak benar-benar mampu mengerjakan soal-soal di tes tahap pertama.

Tak hanya itu, di tes tahap kedua, tes wawancara, aku pun kembali lolos. Aku ingat bagaimana aku meyakinkan para pewawancara bahwa aku akan membawa nama Indonesia dengan baik bila aku bisa berangkat mengikuti pertukaran pelajar.

Setelah lolos tes tahap kedua, aku semakin mantap dan optimis untuk bisa menjadi peserta pertukaran pelajar. Sayangnya, di tahap terakhir, tes dinamika kelompok, aku gagal. Aku ingat bagaimana aku kurang maksimal dalam tes tahap ketiga dan aku pun menyesalinya. Karena itulah, aku sempat berfirasat bahwa aku tidak akan lolos di tes tahap ketiga setelah mengikutinya. Meski firasat kegagalan itu telah muncul, gagal di tes tahap ketiga ternyata tidaklah semudah bayanganku. Pada kenyataannya, aku tetap sedih dan kecewa. Aku merasa tidak mampu memanfaatkan peluang yang ada.

Saat aku gagal mengikuti seleksi pertukaran pelajar, satu-satunya orang yang kuingat saat itu adalah Sir Widya. Aku pun bercerita pada beliau bahwa aku telah gagal menggapai impianku untuk bisa mengikuti pertukaran pelajar. Aku sempat sedih karena kebanggaanku dulu saat bercerita padanya tentang ambisiku menjadi peserta pertukaran pelajar luntur sudah. Aku sangat lega, Sir Widya tidak kecewa ataupun menjatuhkanku karena kegagalan itu, melainkan langsung memberikan semangat begitu tahu aku gagal mengikuti tes di tahap ketiga. Ia bahkan tidak segan untuk membagikan pengalamannya padaku, bagaimana ia juga pernah mengalami banyak kegagalan dalam hidup. Kegagalan adalah ujian dari Tuhan, begitu katanya, dan di balik setiap kegagalan ada hikmah yang bisa kita petik. Tuhan selalu memiliki jalan alternatif, rencana lain yang lebih baik untuk kita. Tuhan tahun apa yang paling baik untuk kita. Dan benar saja, selama sisa tahunku di SMA, banyak sekali pelajaran yang bisa kupetik meski aku tidak bisa belajar selama setahun di luar negeri. Berkat dorongan dari Sir Widya, aku pun berhasil bangkit kembali dan semakin yakin melangkah.

Dua tahun terakhirku di SMA berjalan dengan sangat baik sekali. Aku bisa magang selama dua kali di dua majalah remaja, menjadi juara ketiga di salah satu ajang pemilihan bakat di majalah remaja, dan diterima sebagai mahasiswi Sastra Inggris di Universitas Indonesia. Semua ini tidak lepas dari peranan Sir Widya. Beliau telah mengajarkan aku arti kegigihan dan ketekunan yang sesungguhnya. Aku pun menjadi semakin mantap untuk melangkah maju dan memaksimalkan potensiku dalam menjalani hidup.

Kini, aku sudah duduk di bangku kuliah semester empat dan sudah terlalu banyak hal yang telah kupelajari dari sosok Sir Widya, terutama tentang pentingnya cinta kasih dan semangat. Meski kami sudah jarang bertemu, aku tidak pernah lupa akan jasa-jasanya. Ia pernah mendampingiku di saat aku jatuh. Beliau juga selalu meyakinkan aku bahwa aku pasti bisa menggapai impian-impianku. Terlalu banyak jasa dari Sir Widya yang tidak bisa aku lupakan dan jelaskan satu per satu.

Dengan menjadi seorang mahasiswi Sastra Inggris sekaligus menjadi seorang pemain biola di kampus, aku senang sekali bisa membanggakan hati beliau. Sir Widya selalu menyebut aku sebagai penerusnya, seorang akademisi Bahasa Inggris yang menekuni bidang musik seperti dirinya. Hingga sekarang, Marcellinus Widya Kuncara selalu berhasil menginspirasiku. Terima kasih banyak untuk Sir Widya yang telah mengajarkan aku untuk menjalani hidup dengan segenap jiwa, sehingga aku bisa memetik banyak pelajaran dalam hidupku. Terima kasih karena beliau telah membahasakan cinta lewat musik dan semangatnya. Sekali lagi, terima kasih, Sir Widya, Kau memang seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang sejati.

Reply