Membawa Anida ke Papua

Sudah dua bulan berlalu sejak saya pertama kali bertemu dengan Anida Dyah tanpa sengaja di Jogjakarta. Anid, begitu dia biasa dipanggil, adalah sosok perempuan mungil yang ceria, dengan intonasi suara yang khas—begitu dewasa dan menenangkan. Dan kali ini, saya akan menceritakan bagaimana saya membawanya ke Papua.

Seperti biasa, perjalanan selalu menyenangkan. Tidak, saya tidak bepergian ke Papua bersama Anid. Akan tetapi, hanya dengan membawa bukunya yang berjudul Under The Southern Stars (UTSS), saya sudah merasa telah mengajaknya ke Papua. Di hari terakhir di tahun 2014, pada 31 Desember 2014, saya membaca buku Anid dari halaman pertama hingga akhir. Saya begitu bangga pada diri saya sendiri, sudah lama sekali saya tidak membaca dengan seantusias ini. Apalagi, UTSS telah menutup tahun 2014 saya dengan manis.

Sebuah kalimat pada halaman 75 memikat saya. “I need a break,” begitu isinya. Setelah kuliah selama 4 tahun dengan berbagai kegiatan di dalam dan di luar kampus, magang di Papua adalah salah satu kesempatan bagi saya untuk ‘melarikan diri’ dan rihat sejenak dari berbagai kesibukan. Cerita Anid yang mengambil Working Holiday Visa (WHV) untuk rihat pada akhirnya kembali menyemangati saya untuk tetap bertahan dengan berbagai kondisi yang ada di Papua.

Hmm… Sebelum saya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membicarakan diri saya sendiri, saya hanya bisa mengatakan bahwa UTSS bisa diibaratkan seperti seporsi nasi timbel komplit. Pas, lengkap, dan enak. Buku ini begitu enak dibaca dan dinikmati, apalagi saat saya banyak membacanya di atas hammock, di bawah pohon yang rindang, dengan angin semilir, dan pemandangan laut Raja Ampat yang jernih.

Membaca UTSS membuat saya merasa seperti masuk ke dalam ransel Anid dan melihat sendiri setiap kejadian yang dia alami selama melakukan road trip di Australia. Anid menulisnya dengan detil dan indah. Saya bahkan bisa turut merasakan apa yang dia rasakan selama perjalanan tersebut, mulai dari senang, sedih, kesal, haru, dan marah. Semuanya tercampur aduk dengan indah.

Dari 299 halaman, ada dua bagian favorit yang ingin saya kutip, yaitu tentang melakukan sesuatu dan kehilangan. Thomas, salah satu partner perjalanan Anid pernah berkata, “You see, prinsip hidupku sangat sederhana. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Jika lingkunganmu tidak bisa mewujudkannya, kau bisa melakukan dua hal: pergi atau beradaptasi. Easy” (halaman 96). Bagian itu benar-benar menampar saya yang tengah berada di Papua, terlebih saat saya tinggal di sebuah pulau kecil di Raja Ampat. Saya ingin sekali pergi dari sini karena tidak tahan akan gangguan nyamuk dan agas yang terus menggerogoti kulit saya, tapi toh saya akhirnya tinggal dan bertahan. Saya cukup bangga pada diri saya yang mau beradaptasi. J Dan bagian favorit saya yang lain, bagian tentang kehilangan, dituliskan Anid ketika membahas soal alm. ibunya:

Sekarang aku tahu.

Ternyata ketika seseorang yang kita cintai meninggal, kita tidak seketika merasa kehilangan mereka. Kita akan merasakan kehilangan sekeping demi sekeping dalam waktu yang lama. Seperti ketika kita menyobek halaman kertas dari buku. Setiap sobekannya terasa pelan, perih, dan dalam.” (halaman 232)

Saya sendiri tidak bisa berkomentar banyak akan bagian ini, tapi saya sangat menyukai perumpamaan yang dituliskan Anid tentang kehilangan seseorang yang dicintai seperti menyobek halaman kertas dari buku. Yang saya tahu, kehilangan adalah sebuah proses yang mau tidak mau pasti datang ketika kita memiliki sesuatu. Hanya Sang Waktu yang tahu kapan saya mendapatkan sesuatu dan kehilangannya. Hanya Sang Waktu pulalah yang bisa mengobati rasa kehilangan itu sendiri.

Dari UTSS, saya kembali memahami bahwa hidup adalah sebuah perjalanan dan perjalanan adalah bagian dari hidup. Sebagai seorang perempuan yang sering kuatir akan berbagai kemungkinan yang ada, karya Anid telah membuka mata saya lebih lebar. Saya ingin membentangkan tangan pada kesempatan-kesempatan yang bisa muncul di depan mata.

Terima kasih, Anid.

2 Comments - Add Comment

Reply