Mendengarkan Kesedihan

Malam ini saya kembali terhenyak karena diri saya sendiri. Apa yang ada di dalam kepala saya tidak pernah bisa berhenti bekerja. Mencerna satu per satu perkara yang saya hadapi. Saya sering bertanya-tanya, tidak bisakah saya berhenti berpikir bahkan hanya untuk satu menit saja? Rasanya itu sebuah permintaan yang terlalu besar untuk seorang manusia yang menginjak usia dewasa. Memikirkan kata “dewasa” saja saya geli, karena saya selalu merasa anak-anak, dan saya senang karenanya.

Ketika saya tampil sebagai anak-anak, seorang manusia yang selalu ceria, tidak bisa duduk diam, terus tersenyum, dan hanya memikirkan hal-hal yang membuat saya gembira, rasanya seperti sedang kasmaran, dunia hanya milik berdua; milik saya dan diri saya sendiri. Sebuah perumpamaan yang kadang terasa terlalu romantis, bahkan untuk diri saya sendiri.

Tidak jarang, orang-orang di sekitar saya mempertanyakan, apakah saya pernah bersedih atau duduk diam, karena saya hampir selalu tampak aktif, seperti orang cacingan, katanya. Bahasa kerennya, pecicilan. Ya, tentu saja saya pernah bersedih. Saya juga bukan badut yang hanya memasang senyum di wajah seperti topeng yang bisa dipasang sepanjang hari. Saya juga manusia. Untuk mereka yang benar-benar mengenal saya, tentu mereka paham betapa suasana hati saya begitu mudah berubah. Suasana hati saya seperti agar-agar yang rapuh dan mudah gompal, hanya dengan dicolek.

Saat saya mulai duduk di bangku kuliah, saya pun menyadari bahwa saya tidak bisa terus berusaha menyenangkan orang lain dengan tampil sebagai periang setiap saat, seperti salah satu slogan produk deodoran. Saya sadar bahwa saya juga perlu tampil apa adanya tanpa topeng senyum itu. Perlahan, saya belajar mengendalikan suasana hati saya.

Dalam proses pembelajaran tersebut, kerap kali saya melakukan kesalahan, terutama ketika saya tidak bisa menahan amarah saya sendiri. Mereka yang pernah melihat saya tiba-tiba meledak seperti bom waktu bisa melihat monster besar yang hidup di dalam tubuh kecil saya. Adalah sebuah kesalahan, ketika saya tidak bisa menahan diri. Saya akhirnya pun sadar bahwa marah tidak bisa selalu menyelesaikan masalah, dan saya juga masih terus belajar untuk mengendalikannya–mengendalikan amarah.

Dan kini saya berada dalam proses mendengarkan kesedihan saya sendiri.

Sebelumnya, tiap saya merasa sedih, saya selalu berusaha memendam dan menutupinya dari orang lain, bahkan dari diri saya sendiri. Saya mengabaikan kesedihan saya.

Cara itu tidak selalu berhasil. Juga tidak selalu menyenangkan.

Banyak kesedihan yang mengendap dalam diri saya, hingga akhirnya menjadi kebencian dan trauma yang sulit disembuhkan.

Lalu saya pun merasa cara ini seperti memakai celana yang sudah kekecilan, tidak pas dan tidak nyaman lagi. Saya tengah berusaha mendengarkan kesedihan saya.

Daripada mengabaikannya, saya lebih memilih untuk memeluk dan menyembuhkannya bersama waktu. Kesedihan telah mengajarkan saya banyak hal. Bahwa saya harus berusaha lebih keras. Bahwa saya harus menerima masa-masa sulit dalam hidup saya. Bahwa saya cukup kuat untuk menghadapi banyak perkara yang tampak tidak mungkin untuk diselesaikan.

Bahwa mendengarkan kesedihan sama dengan mendengarkan diri saya sendiri.

Menerima diri saya sendiri.

Dan saya berharap, proses ini tidak akan pernah berhenti.

6 Comments - Add Comment

Reply