Mendung Pagi

Lagi-lagi, gerimis memerciki tempatku berpijak. Hari ini hari Rabu, masih terasa kelabu seperti Senin yang lalu. Bedanya, saat ini aku tengah dalam perjalanan menuju ‘rumahku’ yang lain.

Begitu cepat waktu berlalu, begitu banyak yang dilewati–tanpa kita sadari. Oke, mungkin hanya aku yang tidak menyadari.

Waktu adalah seekor burung yang tidak memiliki sayap, namun menjadi burung yang tercepat; dalam hal terbang. Sampai-sampai aku tidak pernah bisa melihat wujudnya, melihat si waktu.

Aku tidak memintanya terbang kembali, kembali ke masa lampau, aku hanya ingin ia menungguku sebentar saja. Bagaimana? Ah, bertemu dengannya saja sulit, bagaimana aku bisa memintanya menunggu?

Ya, ya, waktu tidak pernah menunggu, kawan. Itu artinya, aku yang harus mengejar. Aku harus mengejar langkahnya agar bisa berjalan beriringan. Berjalan berdampingan, seperti sepasang mempelai menuju altar gereja. Lalu mereka berakhir bahagia… Indah sepertinya.

Aku ingat perbincangan dengan seorang kawan, bila kami benar-benar memiliki kesempatan untuk bertatap muka dengan waktu… Hmm, rasanya kami ingin menghunus jantungnya dengan belati yang takkan berhenti kami asah sebelum perjumpaan itu. Jahat? Memang. Tapi, waktu selama ini sudah terlalu kejam pada kami.

Atau mungkin, kami–atau aku yang terlalu banyak protes padanya? Terlalu sinis padanya?

Yang jelas, waktu bergulir begitu cepat. Ia terbang terlalu cepat. Hingga kadang aku tidak bisa menghitung berapa detik yang kupunya untuk mengedipkan mata.

Selamat pagi hari kelabu. Selamat pagi yang masih sendu. Oh, itu aku. Atau kamu?

Reply