Pergi Sendiri, Pertama Kali

Right before the flight

Selalu ada kali yang pertama untuk setiap hal yang kita lakukan. Selalu ada baru dari setiap pengalaman yang kita dapatkan. Selama belasan tahun, aku sangat menyukai hal-hal yang kulakukan untuk yang pertama kalinya. Setiap pengalaman pertama memberikan sensasi yang sangat luar biasa, perasaan campur aduk yang membuat seluruh isi perut serasa diblender habis-habisan.

Kemarin sore, Sabtu, 6 April 2013, aku menghadiri acara #WegoHangout di Comma. Acara ini adalah acara Wego Hangout kedua yang diadakan oleh Wego Indonesia dan kebetulan aku bersama Karin (@mettakarania) berkesempatan menjadi satu di antara lima belas speaker yang hadir untuk sharing tentang “Why Traveling?” Dan inilah momen pertama di mana aku maju ke depan dan berbagi cerita tentang perjalananku dan Karin di Raja Ampat serta hubungannya dengan kampanye #SaveSharks yang sedang kami jalankan. Berdua, kami harus berbicara selama tiga menit. Ini adalah sebuah tantangan karena waktu tiga menit sangatlah singkat.Yang aku ingat, aku nggak bisa tersenyum saking groginya. Well, never mind.

Dari semua presentasi yang ada di depan mata kemarin, aku tiba-tiba teringat akan presentasi dari Kak Alanda Kariza (@alandakariza) tentang pengalaman pertamanya ke luar negeri sendirian, yaitu ke London, Inggris saat usianya masih 17 tahun. Lalu aku pun kembali mengingat-ngingat pengalaman pertamaku ke luar negeri–yang juga sendirian, dua tahun lalu. Saat itu bulan Januari di tahun 2011 dan aku tengah menikmati libur pertama di bangku kuliah. Dengan progam exchange dari AIESEC UI, aku pun berangkat ke negara Turki, negara yang sangat asing bagiku. Aku nggak paham apapun soal Turki. Aku juga memutuskan pergi ke Turki karena waktu yang sudah mendesak dan program yang sudah tersedia. Berbekal passport yang baru jadi beberapa hari sebelumnya, serta buku “Making Out in Turkish” yang aku beli di Periplus di detik-detik terakhir dan “Lonely Planet: Turkey” yang dibelikan Mama, akhirnya aku berangkat dengan maskapai Qatar Airways.

Deg-degan campur mules, aku mengurus semuanya sendiri di bandara. Mama yang nggak pernah menyangka bahwa anak sulungnya yang kecil ini akan pergi ke luar negeri untuk yang pertama kalinya tanpa siapapun yang menemani, juga ikut deg-degan. Dengan satu koper raksasa, satu koper mungil, serta satu tas tangan, aku terbang ke Doha, Qatar, dengan penerbangan malam hari–sekitar jam 11, kalau nggak salah.

Selama 9 jam perjalanan menuju Doha untuk transit sebelum nantinya akan lanjut ke Istanbul, Turki, aku sempat kebingungan dan kerepotan karena bawaan yang cukup banyak. Aku juga sempat takut nyasar, tapi untungnya semua berlangsung baik-baik saja. Aku duduk dengan seorang cowok bule jangkung yang brewoknya pirang bernama Greg Old-Smell. Dia berasal dari Amerika Serikat. Yang aku ingat dari Greg hanya kebawelannya. Beberapa kali aku memejamkan mata dan mencoba tidur, dia terus membangunkanku hanya untuk mengajak ngobrol. Lucu, memang. Tapi seenggaknya, aku punya teman baru. 🙂

Penerbangan menuju Doha ternyata nggak selancar yang aku harapkan. Aku beserta para penumpang lain sempat merasa dikerjai karena pesawat kami bolak-balik Dubai-Doha karena cuaca buruk. Bila dihitung-hitung, sepertinya sekitar empat kali kami bolak-balik. Kami nggak bisa langsung mendarat di Doha karena cuacanya buruk, sehingga kami harus numpang mendarat lagi di Dubai, dan ini terjadi selama empat kali. Turbulensi yang sangat buruk juga sempat membuatku deg-degan. Aku sempat mikir yang nggak-nggak dan untungnya nggak terjadi apa-apa. 😀

Begitu aku dan penumpang lainnya tiba di Doha, kami langsung disuruh mengantre untuk mengganti jadwal tiket karena kebanyakan dari kami telah ketinggalan pesawat. Ketinggalan pesawat sendirian, di negeri orang, dengan badan super kecil, bagaimana aku bisa bertahan? Kepalaku sempat pusing tujuh keliling, tapi untungnya aku nggak kehabisan akal. Aku berjalan ke sana kemari, mencari-cari wajah orang Indonesia yang ramah. Untuk pertama kalinya, aku kenalan dengan warga Indonesia di Bandara Doha. Namanya Om Eric dan sebelumnya dia juga berada di pesawat yang sama denganku sebelumnya. Om Eric bekerja di Perusahaan Indomie yang berada di Nigeria. Aku cukup terkejut, karena aku nggak pernah tahu bahwa ada Perusahaan Indomie di sana.

Di saat siang menjelang, perutku pun bergejolak. Ya, ya, aku kelaparan. Aku bisa saja membeli makan siang, tapi masalahnya, uang dollar yang kubawa pecahannya terlalu besar hingga aku nggak bisa membeli apa-apa. Berbaik hati, Om Eric pun menraktirku makan siang di foodcourt bandara. Setelah menghabiskan obrolan yang cukup panjang, dia begitu terkejut begitu tahu ini adalah perjalanan pertamaku ke luar negeri, sendirian lagi! Dan yang lebih menyenangkannya lagi, dia juga sempat ikut organisasi AIESEC di tempatnya kuliah dulu, Universitas Brawijaya, Malang. Momen ini pada akhirnya menghantarkanku pada kenyataan bahwa kita semua adalah saudara dan saudari di muka bumi ini, seperti yang pernah diungkapkan oleh Kak Windy (@windyariestanty)

Setelah makan siang dengan Om Eric, tanpa sengaja kami berpapasan dengan sebuah keluarga kecil dari Indonesia yang ternyata juga akan pergi ke Nigeria, sama seperti Om Eric. Di sinilah aku berkenalan dengan Tante Dessy Bahari dan keluarganya. Kami banyak berbagi cerita juga makan bersama dengan voucher makan yang diberikan oleh pihak bandara. Dengan keluarga baru, aku pun tidur di ruang tunggu bandara menunggu flight menuju Istanbul keesokan paginya.

Selama berkeliaran di bandara berjam-jam lamanya, aku juga sempat berpapasan dengan seorang cowok Indonesia yang ternyata adalah seorang atlet sepakbola! Wajahnya sih, lumayan ganteng. Setelah aku browse di internet, akhirnya aku tahu bahwa dia adalah Syamsir Alam dan dia seumuran denganku. Saat itu dia tengah menunggu penerbangan menuju ke Uruguay yang juga tertunda karena cuaca buruk. Selain itu, aku juga terus berusaha menghubungi pihak AIESEC Turki untuk mengabarkan jadwal penerbanganku yang tertunda karena cuaca buruk. Aku juga memberi kabar kepada keluarga di Indonesia bahwa penerbanganku tertunda. Dan ternyata, di saat yang sama di Indonesia, Mama baru saja menang doorprize di sebuah mall yang berhadiah mobil Mazda 2. Nggak kebayang deh, bagaimana rasanya jadi Mama saat itu. Mama pasti senang sekali karena menang doorprize mobil dari sebuah mall, tetapi di sisi lain, Mama pasti kebingungan dan panik karena putri sulungnya harus menunggu penerbangan yang tertunda sendirian, di negeri orang.

Hari sudah pagi, tapi semuanya terlihat sama di bandara Doha. Matahari nggak bisa menerobos masuk dengan mudah seperti di rumah, tapi seenggaknya aku tahu bahwa hari sudah berganti. Nggak mandi sama sekali, aku pun siap-siap meninggalkan keluarga Tante Dessy yang sudah semalaman membiarkanku jadi parasit untuk mengejar flight menuju Istanbul.  Antara sedih dan senang, aku pun berpamitan. Masih ada 5 jam lagi yang harus kuhabiskan sebelum akhirnya tiba di Turki.

Sendirian, menegangkan, menakutkan, penuh kepanikan, sekaligus menyenangkan; inilah cerita penerbangan pertamaku ke luar negeri. Memori ini nggak akan pernah hilang dari ingatanku dan aku menantikan perjalanan-perjalanan lain yang bisa kulakukan sendiri (lagi). Ya, melakukan sesuatu untuk yang pertama kalinya memang selalu menyenangkan. Seenggaknya, buatku.

4 Comments - Add Comment

Reply