Refleksi (Hampir) Tengah Tahun

Lucu, bagaimana akhirnya saya mengerti cara Semesta bekerja.

Bersama seorang teman, tadi sore saya pergi ke IFI Salemba untuk pertama kalinya dan untuk pertama kalinya pula saya menonton salah satu film Europe on Screen. Kami menonton sebuah film asal Bulgaria yang berjudul “Sneakers”. Film ini mengisahkan tentang enam anak muda yang kabur ke pantai di perbatasan Laut Hitam dari kehidupan mereka yang cukup kacau. Terlepas dari adegan-adegan absurdnya yang lucu, saya ingin mengutip salah satu perkataan tokohnya, yaitu seorang perempuan muda bernama Emmo.

What are your fears?” tanya salah satu teman Emmo. Terdiam sebentar, Emmo pun kemudian menjawab, “Growing up.”

Kutipan di atas pada akhirnya mengantarkan saya pada kenyataan bahwa bertumbuh dewasa adalah bagian dari hidup yang tidak akan pernah bisa dihindari. Ah, harus saya koreksi. Kita bisa memilih untuk tidak bertumbuh dewasa, tapi kita tidak bisa memilih untuk tidak bertambah tua. Toh, pada akhirnya, menjadi dewasa adalah sebuah pilihan–sebuah pilihan yang memberikan ketakutan.

Saya memejamkan mata sebentar, lalu melihat sekelling. Usia saya kini sudah 21 tahun 1 bulan. Sespesifik itukah? Ya, bagi saya. Banyak hal yang sudah terjadi, banyak hal yang sudah dinanti. Pada akhirnya, semuanya kembali lagi pada diri saya sendiri. Semua ini tidak pernah terjadi begitu saja. Alangkah menyenangkan melihat bagaimana Semesta bekerja–mempertemukan saya dengan banyak kesempatan dan atmosfer baru.

Di hampir pertengahan tahun ini, ada begitu banyak hal yang kemudian membuat saya tertawa geli. Semua kegelian ini diberikan oleh berbagai pengalaman dan kejadian yang terjadi dari awal tahun hingga sekarang. Saya telah belajar banyaaak! Banyaaak sekali walaupun saya sadar ini masih belum ada apa-apanya. Saya masih bau kencur.

Kembali pada tulisan pertama di sini, saya toh masih harus terus belajar tentang bagaimana melepaskan kepergian seseorang–baik secara disengaja ataupun karena terpaksa. Mereka datang dan pergi begitu saja di hidup saya. Siapapun mereka–pacar, gebetan, sahabat, keluarga, atau kerabat, saya berusaha untuk memungkiri satu hal, yaitu ada satu kepingan dalam diri saya yang (mungkin) dibawa pergi oleh mereka. Atau ini hanya perasaan saya saja? Saya pun tidak tahu pasti. Bagaimanapun juga, kepingan tersebut adalah kepunyaan saya yang harus saya dapatkan kembali. Proses penerimaanlah yang kemudian berhasil membuat saya sembuh dari rasa kehilangan. Tidak mudah, memang. Akan tetapi, sekali lagi, proses selalu menjadi yang terpenting. Mereka–orang-orang itu, tentu tidak datang begitu saja tanpa alasan; saya percaya semesta telah mengatur segala pertemuan dan perpisahan dengan berbagai alasan. Berbagai alasan yang membuat saya akhirnya belajar banyak hal, terutama tentang makna kehilangan itu sendiri.

Selain terus belajar tentang makna kehilangan, saya juga belajar tentang pentingnya untuk berhenti sejenak. “Santai, jon.” Seorang teman bahkan mengatakan bahwa menjadi ambisius memang baik, tapi ada kalanya kita harus berhenti sejenak, menghela nafas, sebelum akhirnya mengambil langkah yang lebih besar lagi. Ini adalah satu hal yang sering luput dari diri saya sendiri. Saya seringkali terburu-buru hingga akhirnya salah mengambil langkah dan menyesal. Melakukan kesalahan memang baik karena membuat saya belajar untuk lebih berhati-hati, tapi kalau terus mengulangi kesalahan yang sama, apa jadinya? Saya pun diingatkan oleh teman yang lain untuk tidak terlalu menekan diri sendiri. “Don’t push yourself too hard,” begitu katanya. Perjalanan demi perjalanan, kejadian demi kejadian, keputusan demi keputusan. Saya kini berada di titik di mana saya sadar bahwa selama ini saya terlalu menekan diri saya sendiri dengan porsi yang berlebihan, tapi di sisi lain saya sering santai dengan porsi yang tidak wajar. Semua ini pada akhirnya harus dilakukan secara seimbang. Konklusinya, saya harus fokus pada semua tujuan dan keinginan saya, tapi saya juga harus belajar untuk lebih santai dan belajar bekerja sama serta menerima diri saya sendiri supaya tidak ada lagi penyesalan. Atau setidaknya, saya ingin belajar untuk tidak menghakimi diri saya sendiri saat melakukan kesalahan hingga tidak akan ada penyesalan yang muncul. Making mistakes is just a part of life. Human beings make mistakes. 

Bagi saya, hidup ini adalah sebuah kurikulum tidak terbatas. Kurikulum tanpa standar yang terus membuat saya belajar. Terima kasih, Semesta.

Reply