Selamat Pagi

Aku membuka pagi dengan segelas susu hangat. Bukan, bukan secangkir teh hangat. Belum, belum saatnya. Masih terlalu pagi. Susu membuatku ingin tidur lagi dan secangkir teh membuatku ingin bangun terus.

Mataku menerawang. Mencari sisa-sisa mimpi yang kuhela semalam. Tidak ada satu momen pun yang bisa teringat jelas. Sayang sekali.

Hidup ini begitu absurd, sampai terkadang aku bingung untuk memaknainya. Ada kalanya ketika aku bangun, semuanya terlihat sebening kristal. Jernih. Namun ada kalanya juga ketika aku bangun, yang ada hanyalah sebuah pintu dengan ruangan yang gelap, gelap sekali, hingga aku tidak bisa melihat cahaya sama sekali.

Sementara, waktu terus berjalan. Nanti akan tiba saatnya aku lulus dan bekerja. Juga tiba saatnya aku akan ditanya kapan menikah. Lalu ketika aku sudah menikah, aku akan ditanya lagi, kapan aku akan memiliki anak dari rahimku sendiri. Dan begitu aku sudah memiliki anak atau mungkin beberapa orang anak, kemudian aku akan tinggal bersama keluargaku–menua dan mati.

Apakah hidup ini hanya berkisah tentang kehidupan dan kematian? Tidak bisakah aku membuatnya bermakna? Jujur, aku masih bertanya-tanya.

Jika hidup ini cuma dongeng tentang hidup dan mati, ya lebih baik mati saja. Aku toh, sudah pernah hidup di dunia ini.

Tapi… Tidak, tidak. Hidup ini bukan cuma itu. Bukan hanya sebuah cerita tentang helaan nafas yang membuatmu hidup… Bukan cuma tentang sekotak peti mati.

Setidaknya, hidup ini berarti memori. Memori yang terus menari-nari. Dan aku bukan robot. Aku tidak mau menjadi robot yang menjalani rutinitas monoton demi hidup yang tidak memiliki makna.

Aku ingin melihat dunia. Aku ingin bertemu orang-orang hebat. Aku ingin menambahkan banyak memori di otakku, hingga otakku tidak sanggup lagi menerimanya.

Setidaknya, sebelum aku mati.

One Response - Add Comment

Reply