Senyum si Piercing – Majalah Kawanku Tahun 2006

Mentari pagi yang terik menyinari SMIP Jaya 1, sekolahku. Aku berada di ronde terakhir di sini. Ketika murid-murid lain tengah mengunyah makanan kantin, kami sedang asyik bercuap-cuap di pinggir lapangan basket. Sahabatku cowok, dan kini ia sedang menyeka air tubuhnya sehabis bermain basket 3 on 3. Di balik banyak piercing yang menggantung di wajah gantengnya, Dhany punya sesuatu yang lain. Kami sudah dekat sejak kelas 2 SD. Tak terpisahkan, atau semacam itulah.

“Dhan, tebak kemarin gue di mal ngapain?”, kataku sambil menepuk pundaknya.

“Brittany, orang di mal pasti refreshing!”, jawabnya dengan nada sepoi-sepoi.

“Jawaban lo salah banget. Tebak lagi, dong.” Aku mengerucutkan bibir.

“Ah, males ah. Langsung kasih tau, dong. Lo kan tau gue …” Ia  pura-pura memutar-mutar otaknya, lalu melirikku dengan mata coklatnya.

“Gue beli ini.” Ada dua gelang Bali di telapak tangan kananku. “Ini namanya friendship bracelets. Katanya sengaja dbikin untuk sepasang sahabat. Sekalian mengenang 11 tahun persahabatan kita yang udah terjalin. Udah lama banget, ya.” Aku menyenderkan kepalaku di pundaknya. Rasanya, kami sudah saling mendarah-daging.

Ia mengelus-elus rambutku dengan lembut. “Gue hepi banget, punya lo yang nggak pernah ninggalin gue. Gue juga berharap nggak akan ada perpisahan di antara kita sampai kapan pun.” Cowok itu langsung menyambar satu gelang yang ada di tanganku dan menghiasi pergelangannya.

Tiba-tiba, ia menjulurkan lidahnya yang baru saja di-piercing. “Bagus nggak, Brit?” Ia menunjuk-nunjuk lidahnya.

Aku mengamati benda itu, di dalam mulutnya yang ternganga. “Apa piercing-nya kurang banyak? Piercing lo jumlahnya berapa, sih?”

“Sembilan. Lidah, bibir, hidung, semuanya ada satu. Di masing-masing kuping ada dua dan di alis juga dua. Segitu aja, kok.” Dhany kini malah menggaruk-garuk kepalanya bak beruk.

“Kenapa lo pasang piercing lagi?” Setiap kali ada masalah, ia pasti memasang piercing baru. Ia selalu berkilah, saat rasa ingin tahuku terhadap masalahnya muncul.

“Gue lagi ada masalah.”, jawabnya suram.

“MASALAH LAGI?” Matanya berusaha menatap mataku, aku tidak mau. “Emang, apa masalah lo? Lo nggak pernah sekali pun, cerita soal masalah-masalah lo ke gue.”

“Gue nggak bisa.” Ia kepala batu. Selalu bersikeras menutupi masalahnya.

Why? Pasti gue bukan sahabat lo lagi. Mungkin, musuh lebih tepatnya.” Kesabaranku habis sudah.

“Gue nggak pernah berpikir buat ngejauhin lo sama sekali, Brit. Gue nganggep lo kayak adik gue sendiri.”

“Adik lo?” Dhany mengangguk pelan. “Gue bisa denger, tapi nggak mungkin percaya. Gimana bisa, lo nganggep gue adik lo, kalo lo nggak bisa cerita ke gue sama sekali tentang your big problems?”

“Ya, mungkin aja.” Ia tertawa hambar.

“Dhan, kita lagi ngomong serius. Ini sama sekali nggak lucu. Apa menurut lo ini lucu?” Dhany membisu. “Gue mau lo dengerin gue. Apa artinya persahabatan kita selama 11 tahun ini? Apa lo sahabat gue? Apa lo mau semuanya bakal begini terus aja? Gue sayang sama lo, Dhan. Gue care sama lo. Itu alasannya kenapa gue pengen tau masalah-masalah lo. Karena buat gue, gimana pun juga, masalah lo itu masalah gue juga. Dan gue rasa, lo nggak bisa jawab dan bilang semuanya itu sekarang. Lo juga bisa share masalah lo kapan aja sama gue. Kalo lo, udah siap lahir batin.” Aku menyunggingkan senyum merekah padanya.

“Gue berharap semuanya berjalan lancar, Brit.”

~

Aku membenamkan wajahku di bantal tempat tidurku. “Gue bener-bener nggak ngerti! Apa Dhany bener-bener sahabat gue? Kenapa dia nggak mau cerita tentang masalah-masalahnya ke gue? Sama sekali nggak mau. Kalo masalah-masalah dia bener-bener urgent, dia kan bisa cerita ke gue dan gue bersedia bantuin.

“Kelihatannya, dia fine-fine aja. Apa coba yang salah? Handsome, baik, smart, bonyoknya juga nggak pernah berantem. Jadi, ada apa? Kenapa dia terus dan selalu nyimpen semua itu di brankas hatinya? Gue udah capek begini terus, ngeliat mukanya bolong-bolong kayak daun yang digigitin ulet bulu karena dipasang barang-barang sialan itu! Tapi gue yakin, ada sesuatu yang emang ngeganjel di hatinya dan ngeganggu hidupnya. Dan Dhany nggak tau di mana kunci brankasnya itu berada. Gue juga nggak tahu apa isi brankasnya. Batu? Api? Belum ada yang tahu—mungkin.” Aku pun tertidur, antara perasaan sedih, pening, juga letih. Semuanya karena sobatku, yang tidak akan pernah kutinggalkan sekali pun. Buatku, friendship looks like a star, no one can buy it, too hard to get it. Dhany, please tell me…

~

Ketika aku sedang tenggelam dalam kisah “A Man Named Dave”, Dhany menoel pundakku saat itu juga. Aku ingin memeluknya erat sekali. Tapi hal itu tidak kulakukan. Aku ingin tersenyum manis, tapi malah tersenyum pahit. “Hai, Dhan.”

“Kok lo muram gitu pas ketemu gue? Muka lo jangan ditekuk, dong.” Ia mulai mengerutkan dahi.

Aku tersenyum paksa. Gue muram begini semua karena lo, Dhan. Gue mau lo terbuka sama gue, begitu batinku. Dia pasti tahu aku tersenyum paksa tapi ia pura-pura tidak tahu. “Kenapa, Dhany? Ada perlu apa sama gue?”

“Gue mau ngajak lo, ke tempat kita jalan-jalan pertama kali. Inget, kan, waktu kenaikan kelas 2 SD dulu?” Aku mem-flash back semuanya dengan proyektor di otakku …

Sunsetnya menyenter kami berdua, aku, dan Dhany. Ini pertama kalinya kami berlibur bersama. Ombak-ombak menggulung seperti kue bolu. Lautnya punya bau yang khas, seperti bau tubuhnya Dhany, sobatku tersayang. Pasirnya lembut, dan aku senang berada di dekat sahabatku ini. Semuanya berjalan cepat. “Brit, ini pertama kalinya kita liburan bareng. Kamu itu sahabat pertamaku, cewek lagi.” Tawanya menyimpan kenangan kami bersama.

“Kamu juga sahabat cowok pertama aku. Apa, kita bakalan sahabatan terus? Sampai aku punya anak, juga kamu.”

“Pasti lah, dan aku akan ngejagain kamu terus.”

Aku langsung merengut. “Aku juga mau ngejagain kamu! Dhany jangan mau jaga sendirian, dong.” Dia kembali tertawa.

“Kita akan terus sama-sama, dan saling menjaga …”

Aku dan Dhany sedang duduk di pesisir pantai itu. Pantai kenangan kami. Belum ada yang membuka obrolan. Ia berbaring, aku juga. Tidak peduli akan kotor atau apa. Ia menengokkan kepalanya dan matanya langsung menuju ke mataku. “Gue sayang sahabat gue ini, Brittany.”

“Gue juga.” Timing yang tepat, aku menangis. Di depannya, dan dia lah alasannya.

“Kenapa lo nangis?” Suaranya langsung berubah bagi langit gelap yang hampir mengeluarkan guntur.

“Lo tau, Dhan. Lo tau kenapa gue nangis.” Aku terisak.

Ia bangkit berdiri dan menatap lurus ke depan. “Gue emang tau, dan gue belom bisa ngomongin semua itu. Sori …” Aku terisak semakin keras. “Lo mau pulang?”

“Nggak.”

“Terserah, ini pilihan terakhir. Gue pulang dan nggak akan kembali. Kalo mau, gue bisa anterin lo pulang, sekarang.” Aku terpaksa menurut, siapa yang mau menjemputku di sini?

~

Dhany udah nggak ada di sisiku. Maksudku, bukannya meninggal. Dhany dan keluarganya pindah ke Seattle setelah momen kita ke pantai bareng itu. Akhirnya, aku tau juga apa masalah Dhany. Dia ngasih aku surat …

Brit, kalo lo baca surat ini jangan pernah nangis. Oke? Keluarga gue nggak sebaik yang terlihat. Papa sama mama udah cerai lagi. Gue ikut mama ke Seattle. Kita mau tinggal bareng keluarganya Om Fredrick. Gue udah puyeng banget sama suasana rumah. Gue nggak tau mesti curhat ke siapa. Lo emang sobat gue, tapi gue nggak bisa cerita sama lo. Kenapa? Karena gue nggak mau lo ikut menderita. Liat elo senyum aja seenggaknya udah bantuin gue lupain masalah sejenak. Hidup gue seenggaknya, jadi lebih berarti karena lo. Mama papa mulai berantem sejak gue masuk SMP. Cukup lama, kan? Sebagai anak tunggal, gue nggak tahan. Kadang gue mikir, apa papa mama nggak mikirin perasaan gue? AH, PASTI NGGAK. Anyway, gue tetep nganggep lo sobat gue tersayang. Gue lega akhirnya bisa cerita lewat surat ini. Gue udah buang semua piercing-nya, loh. Jadi, lebih ganteng gitu. Hehehe … Elo pasti udah lama nggak ngeliat senyum gue, kan? Senyum si piercing. So, gue mau pas lo baca surat ini, elo bayangin senyum gue yang paling lo suka. Lo harus baca surat ini dengan senyum. Oke? Kalo kangen, e-mail-in gue aja dulu. Ke dhany+brit­_areBFF@cihuy.com. Yah? Jangan nggak kangen sama gue, loh. Karena gue pasti kangen banget. Gue nggak mau lo sedih mikirin gue. Kalo sempet, gue bakal balik ke Jakarta and kalo udah ada duit juga loh. Hehehehe … Lo nabung ya, biar bisa ngunjungin gue kapan-kapan. Thanks for all, my best friend forever. Love you always, Dhany.

Suratnya selalu kusimpen. HP-ku berdering dan aku terlonjak. Tahu siapa? Dhany! Panjang umur memang. Aku angkat, ya?

“DHANY!”, teriakku langsung.

“Brittany, gimana kabar lo? I’m fine here. Banyak cowok bule yang ganteng, loh. Kesukaan lo dan temen-temen gue semua. Mau nggak?”, godanya langsung. Aku girang sekali mendengar suaranya.

“Nggak bosen-bosen ya godain gue. Elo udah bilang berkali-kali kalo temen-temen lo ganteng. Gue jadi makin pengen ke Seattle. Gue udah berencana ke sana liburan kenaikan nanti.”

“Masa, sih? Bagus dong, kalo gitu. Nanti pas lo ke sini, gue lagi masa-masa sekolah. Elo di rumah aja bareng mama gue atau nungguin gue di kantin sekolah. Gimana? Anaknya asik-asik dan nggak sombong. Kayak gue, gitu …” Suaranya diiringi tawa yang membahana.

“Iya, deh. See you, sobat gue tersayang.”

“See you too.” Telepon terputus. Dhany bahagia, aku juga bahagia. Jadi nggak sabar ketemu dia. Dhany, sampai ketemu di Seattle!

Reply