Sepiring Kwetiauw di Papua

Pagi tadi, Minggu, 16 September 2012, aku mengikuti Misa Kudus di Paroki St. Laurensius, Alam Sutra. Misa pagi tadi terasa berbeda karena kami semua diiringi koor dari Papua juga ditemani seorang pastor dari Papua yang menemani Romo Nono. Sejujurnya, aku bukan seorang pendengar yang baik selama misa di gereja, tapi pagi tadi aku mendengarkan khotbah dengan cukup baik, bahkan merenungkannya. Aku tidak ingat betul siapa nama pastor yang melayani di Papua itu, tapi yang jelas, ceritanya tentang sepiring kwetiauw di Papua membuatku tertegun cukup lama pagi tadi.

Suatu hari, pastor ngidam seporsi kwetiauw yang jarang sekali dijual di Papua–terlebih karena Beliau melayani di Papua bagian pedalaman–daerah hutan-hutan. Pada akhirnya, Beliau pun memutuskan untuk pergi ke kota yang jaraknya 180 km dengan naik motor untuk pergi makan kwetiauw seharga 30 ribu rupiah/porsi. Ketika Beliau tengah menyantap kwetiauwnya, tiba-tiba ia terkejut dengan kehadiran seorang anak kecil yang tengah mengantri untuk membeli kwetiauw dan menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan pada si penjual kwetiauw.

Melihat anak kecil tersebut, si penjual kwetiauw terkejut dan bertanya, “Dari mana kamu, Dik?”

“Saya datang dari jauh. Saya datang dari hutan.” Mendengar hal ini, baik si penjual kwetiauw maupun Pastor sontak terkejut. Hutan yang dimaksud adalah hutan tempat Pastor bekerja yang jaraknya 180 km. Pastor pergi ke kota menggunakan sepeda motor, sedangkan si anak kecil berjalan kaki hanya untuk menyantap sepiring kwetiauw.

Tanpa pikir panjang, penjual kwetiauw langsung memasak sepiring kwetiauw untuk anak kecil itu dan menerima selembar uang sepuluh ribuannya. Di tengah antrian, seorang ibu-ibu yang nampak tidak sabar langsung menyeletuk, “Mas, kalau dia saja bisa membeli seporsi kwetiauw dengan sepuluh ribu, berarti porsi kita seharusnya ditambah.”

Mendengar celetukan ibu-ibu tersebut, si penjual kwetiauw hanya menjawab, “Kalau ibu mau kwetiauwnya seporsi hanya sepuluh ribu, ibu harus jalan 180 km dulu, ya.”

Ibu-ibu itu pun langsung terdiam mendengar perkataan si penjual kwetiauw.

Cerita ini mungkin tidak persis seperti cerita yang dikhotbahkan Pastor tadi pagi, tapi aku tetap ingin membagikan cerita ini. Sungguh disayangkan, negeri Papua yang kaya ternyata sangatlah miskin. Memang benar adanya, bahagia itu sederhana. Bahagia itu sesederhana membeli sepiring kwetiauw dengan selembar uang sepuluh ribuan dan berjalan kaki 180 km jauhnya hanya untuk menyantap kwetiauw tersebut.

Terima kasih banyak untuk Pastor yang telah membagikan cerita ini. Semoga misi pelayanannya bisa semakin maju.

2 Comments - Add Comment

Reply