Still Alice: Novel Pengingat Diri

Saat baru memulai membaca e-book “Still Alice”, saya sama sekali nggak menyangka bahwa buku ini ‘berat’. Bukan karena novel ini terlalu tebal atau karena topik yang diangkatnya nggak saya kuasai, tapi justru karena tema dan ceritanya. Setelah lama nggak membaca novel, “Still Alice” berhasil membuat saya terhipnotis dengan segala kata-kata dan alur ceritanya. Dari kacamata seorang pembaca, saya telah menjadikan novel “Still Alice” sebagai pengingat diri, terutama karena satu hal.

Novel “Still Alice” bercerita tentang seorang perempuan cerdas paruh baya bernama Alice Howland. Alice sendiri bekerja sebagai seorang dosen Harvard University, memiliki seorang suami bernama John, serta tiga anak yang telah dewasa. Bisa dibilang, Alice awalnya memiliki hidup yang cukup sempurna. Ia dan suaminya pun merupakan orang yang sukses. Akan tetapi, konflik cerita kemudian dimulai ketika Alice tiba-tiba lupa pada apa yang harus dikatakannya. Saat itu, ia tengah memberi kuliah di universitas lain. Dari situlah Alice akhirnya mengetahui bahwa ia mengidap penyakit Alzheimer, yaitu penyakit demensia atau lupa ingatan paling umum yang kebanyakan diidap oleh orang-orang lanjut usia (65 tahun ke atas). Padahal, saat itu usia Alice baru 50 tahun, sehingga Alice dinyatakan mengidap Alzheimer dini.

Saat saya membaca “Still Alice”, saya merasa seperti ‘dipermainkan’ dan ‘diuji’. Emosi saya benar-benar terkuras habis karena novel ini. Terlebih karenabeberapa bulan yang lalu, ayah yang biasa saya panggil Papa, diduga menderita Alzheimer setelah terserang stroke beberapa kali sejak tahun 2009. Sudah setahun lebih Papa mengalami demensia, dimana ia akan terus menanyakan hal yang sama dan menceritakan sesuatu secara berulang-ulang. Beberapa kali, saya hilang kesabaran saat menghadapi Papa karena nggak hanya hilang ingatan, emosi Papa juga meledak-ledak karena sepertinya Papa frustrasi dengan demensia yang dialaminya. Akan tetapi, Mama tentu lebih lelah karena setiap hari merawat Papa selama 24 jam. Novel “Still Alice” pada akhirnya menjadi pengingat diri bagi saya, supaya saya lebih sabar dalam menghadapi seseorang yang menderita demensia ataupun penyakit berat lainnya, seperti Papa. Jujur, saya merasa seperti ‘ditampar’ ketika membaca “Still Alice”, terutama ketika membaca pidato Alice tentang penyakit Alzheimer yang dideritanya (halaman 255-259). Saya tahu saya nggak pernah bisa benar-benar memposisikan diri saya sebagai seseorang yang mengidap demensia, tapi seenggaknya, dengan membaca “Still Alice”, saya bisa sedikit memahami perasaan orang-orang yang mengidap demensia.

Seperti halnya Alice yang ingin sembuh dari Alzheimer dan kembali hidup normal, saya menjadi seperti memiliki semangat baru untuk percaya dan yakin bahwa Papa juga lelah dengan demensia yang ia derita serta berharap untuk bisa sembuh dan hidup normal lagi. Saya sangat menanti hari-hari itu. Saya ingin sekali bisa mendaki gunung bersama Papa atau sekadar berlibur ke luar kota dengannya.

Dan ya,  novel “Still Alice” benar-benar menjadi novel pengingat diri bagi saya. Tentang Papa.

“Still Alice” (edisi Bahasa Indonesia)
Penulis: Lisa Genova
Penerjemah: Anindita Prabaningrum
Editor: Yuki Anggia Putri
Penerbit Terjemahan: Penerbit Esensi (imprint Penerbit Erlangga)
Tahun Terbit: 2015

n.b. Jika kamu tertarik membeli bukunya, buku versi Bahasa Indonesia telah diterbitkan oleh Penerbit Esensi. Selain itu, novel “Still Alice” juga telah difilmkan. Sila tonton trailer-nya di bawah ini:

8 Comments - Add Comment

Reply