Sudahkah Saya Memeluk Diri Saya Hari Ini?

Pertanyaannya bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi. Sudahkah saya memeluk diri saya sendiri? Sudahkah saya membuat diri saya bahagia dan nyaman? Saya bukan orang yang bisa diam dalam satu tempat dan kegiatan untuk waktu yang lama. Ya, saya tipe manusia yang mudah sekali terjebak dalam kebosanan. Dan bisa dibilang, menulis, membaca, dan bermain biola untuk diri sendiri adalah tiga hal yang tidak pernah bisa membuat saya bosan sama sekali.

Belakangan saya sadar, ketiga hal yang tidak pernah membuat saya bosan di atas adalah tiga kegiatan simpel yang selalu membuat saya bahagia. Menulis, apapun itu bentuknya dan isinya, dari puisi (sok) romantis hingga selembar tulisan berisi kebencian dan kemarahan, selalu bisa membuat saya bahagia. Selalu bisa membuat saya lega. Setidaknya, pensil, pena, dan kertas adalah tiga teman terbaik yang selalu bisa dibawa ke mana-mana. Lalu membaca. Membaca buku-buku dengan bahasa indah–belakangan saya terlalu tergila-gila dengan buku Mbak Ayu Utami, membuat saya bahagia. Saya senang menyadari ini, yaitu tiap momen membaca sesungguhnya memisahkan saya dari realita sejenak. Saya selalu tenggelam ke dalam tiap rangkaian kata dan cenderung membiarkan diri untuk tidak terburu-buru menghabiskan tiap bacaan. Kenapa? Karena  saya tidak tega membiarkan diri saya kembali ke dunia nyata. Kabur? Ya. Seperti traveling, membaca juga bisa menjadi ‘pelarian’ bagi diri saya. Terakhir, bermain biola untuk diri sendiri. Kenapa untuk diri sendiri? Karena sejujurnya, saya masih terlalu malu untuk bermain di depan orang banyak. Masih malu. Tapi, setiap kali saya main biola sendirian, saya bisa begitu bahagia. Ada kegembiraan yang membuncah di sini–di dada ini. Nada fals? Bodo amat! :p Lagu-lagu anak adalah favorit saya untuk dimainkan, karena sedikit banyak mengingatkan saya pada masa kecil di mana saya tidak pernah khawatir dan tidak banyak berpikir.

Sudahkah saya memeluk diri saya hari ini? Sudah. Malam ini saya tutup dengan segelas jus tomat tanpa es dan gula. Bahkan segelas minuman sehat saja bisa membuat saya bahagia–bagaimana saya bahagia bisa ‘sedikit’ membuat tubuh saya lebih sehat. Dan dua hari yang lalu, akhirnya saya pergi menonton bioskop sendirian setelah tiga tahun lamanya. Saya menonton Now You See Me. Saya ingat sekali, waktu SMA, saya senang pergi menonton bioskop sendirian sepulang sekolah. Dengan tas ransel warna pink, kemeja SMA dan rok rampelnya, saya duduk sendirian di foodcourt dengan satu blueberry ice cream cone di tangan, menunggu studio film yang akan saya tonton, dibuka. Saya senang memperhatikan orang-orang lalu lalang di mal dan membayangkan cerita dari mereka masing-masing sebelum masuk ke studio. Dan ketika film sudah dimulai, momen ‘diam’ karena tidak ada yang bisa diajak ngobrol pun membuat saya semakin menikmati kesendirian. Saya tidak pernah lupa bagaimana saya tertawa sendirian menonton Kungfu Panda dan Bedtime Stories di tengah kerumunan yang tidak saya kenal. Tidak, tidak, saya tidak kesepian. Saya menonton sendirian karena saya memang ingin menikmati kesendirian dan sekali lagi, bukan karena kesepian.

Saya tahu ini akan terdengar sedikit egois, tapi saya telah berjanji pada diri saya sendiri untuk menghabiskan lebih banyak waktu bagi diri saya sendiri. Saya tidak bisa lebih bahagia dari ini. Bukan, saya bukannya mau jadi anti sosial, tapi saya rasa perlu sekali bagi saya untuk meluangkan waktu di mana saya bisa menikmati setiap detiknya tanpa harus berinteraksi dengan orang-orang yang saya kenal, juga merenungkan banyak hal. Saya berjanji untuk memeluk diri saya sendiri sesering mungkin. Saya akan menulis, membaca, bermain biola, dan menonton bioskop sendirian sesering mungkin. Saya harus.

Ini versi saya. Sudahkah kamu memeluk dirimu sendiri? 🙂

Reply