Tiga Cinta – Majalah Kawanku Tahun 2006

Pinkie, Gerald, dan Benji tertawa-tawa di lorong sekolah. Tiga orang sahabat yang duduk di kelas 2 SMU Cakra Buana itu, sangat riang pagi hari ini. Kebetulan pula, tiga orang remaja ini selalu sekelas sejak mereka duduk di bangku SMP, hingga sekarang. “Hari ini, kita jalan yuk! Gue bosen banget, masih awal tahun kita sekolah, gitu. Jadi, semangat buat sekolah nyaris nggak ada.”, ujar Pinkie begitu bersemangat.

“Sama banget! Gue juga mau jalan-jalan, nih. Pulang sekolah aja. Mau, nggak?”, tanya Gerald sambil merapikan rambut jabriknya sendiri.

Pinkie manggut-manggut setuju. “Gue sih mau-mau aja, man. Tapi, kita mau jalan ke mana?”, jawab Benji enteng.

“Ke mall aja. Temenin gue shopping, yah. Mau, nggak?”, rajuk Pinkie sembari berkedap-kedip.

Kedua sobatnya menggeleng cepat. “Yang lain aja, Pink. Kalo elo mau beli novel, kita mau temenin. Gue mau beli komik Marvell.”, kata Gerald dengan nada memelas.

“Kita? Gue nggak mau ke toko buku!”, tolak Benji langsung.

Tahu kan? Persahabatan itu emang nggak pandang bulu. Jadi, Benji yang suka game, Pinkie yang manis, dan Gerald yang konyol bisa bersahabat dekat lebih dari 3 tahun. Mereka bisa saling menerima apa adanya dan saling menyayangi.

“Ke taman kota aja. Mau, nggak? Suasananya kan enak banget. Sekalian kita bertiga refreshing.”, usul Pinkie sambil tersenyum tipis.

“Boleh juga. Kalo itu, kita setuju.”, jawab Benji senang.

“Tumben lo pinter, Pink.” Pinkie tersenyum bangga. Gerald dan Benji mengacak-acak sahabat ceweknya itu.

“Yah, jangan ngerjain gue dong.” Pinkie cemberut.

***

Pada sore hari, suasana di taman kota tidak begitu ramai. Malah terkesan, damai. Pinkie, Gerald, dan Benji duduk di ayunan sambil mengobrol. “Ah, udah lama banget kita nggak kayak gini. Liburan juga ada acara sendiri-sendiri.”, ucap Benji pelan.

“Elo kanhome stay di LA, Ben. Gue aja di rumah melulu. Eh, si Pinkie malahan magang di toko kerajinan tangan. Jadi, wajar lah.”

“Tapi, gue bingung loh. Kok kayaknya gue bete banget tiap hari. Nggak tau kenapa, nih …”, keluh Pinkie tiba-tiba.

“Kenapa? Elo ada masalah? Cerita sama kita, dong!”, kata Benji khawatir. Pinkie menggeleng.

“Gue tau, ini penyakitnya cewek jomblo. Pasti, Pinkie pengen punya pacar.” Pinkie tersenyum ke arah Gerald dan mengangguk mantap.

“Selama kita sobatan, nggak ada yang di antara kita yang pernah punya pacar. Gue pengen kayak cewek-cewek lain, punya pacar.” Pinkie menunduk sedih.

“Gue sama Benji percaya banget sama cinta, kok. Tapi, kita masih hepi banget jadi jomblo. Kita nggak akan pernah pacaran sampe menemukan cinta sejati. Cinta yang bakalan jadi yang pertama dan yang terakhir buat kita. Jodoh gitu, deh. Cinta itu nggak perlu dicari, Pink. Biar cinta aja yang nyari kita dan menemukan pemberhentiannya di hati kita. Kalo elo pengen punya pacar, nanti juga lo jatuh cinta sama cowok yang lo suka. Cinta tuh nggak bisa diduga.”, papar Gerald panjang lebar.

“Asal elo tau juga, kalo lo udah siap jatuh cinta, belom tentu elo bisa ngedapetin cowok yang lo suka. Elo harus siap sakit hati, Pink. Cinta nggak harus memiliki. Cinta itu buta banget. Dan cinta, ada di mana-mana.”, sambung Benji pelan.

“Gue tau, kok. Gue bakal inget sama kata-kata kalian.”, ujar Pinkie lembut.

“Oh iya, Pink. Kita cinta sama lo, loh. Kita sayang sama elo. Kita kan sobat elo! Jadi, kalo ada apa-apa, elo cerita aja sama kita.”, kata Benji kemudian.

“Iya, bener banget tuh.”, kata Gerald setuju.

Thanks, yah.”

***

Pinkie duduk di pinggir lapangan dan meneguk air mineralnya. Dua sobatnya itu sedang main basket di siang bolong. Sekarang itu jam makan siang, tapi nggak ada satu pun dari mereka yang memilih untuk makan siang. Pinkie yang cuma senyam-senyum ngeliatin kedua sobatnya panas-panasan, memilih untuk melamun.

“Eh, Pinkie!” Seorang cowok melambaikan tangannya di depan wajah imut Pinkie.

Pinkie mendongak pelan dan berhenti melamun. “Siapa, lo?” Hanya itu responsnya.

“Nick. Gue kelas XII IPS 2. Gue Cuma mau bilangin elo, kalo istirahatnya udah selesai. Gerald sama Benji juga udah ke kelas.”, kata Nick santai.

“Hah? Serius, lo? Mati gue!”, teriak Pinkie panik dan langsung buru-buru ke kelas. “Eh, tunggu! Nick, thanks banget. Tapi, kenapa lo nggak ke kelas?”, tanya Pinkie rada heran.

“Gue? Bolos lagi, tadi juga gue dikeluarin dari kelas pas pelajaran Antropologi. Hehehe … Lo masuk kelas, gih!”, kata Nick lebih lembut.

“Iya, deh. Daah …” Pinkie buru-buru masuk ke kelas.

“PINKIE PERTHELYCIA, KENAPA KAMU TELAT???”, teriak Bu Garnis yang histeris abis.

“Anu bu, saya …”, jawab Pinkie tergagap.

“Keluar!”, usir Bu Garnis kemudian.

Pinkie memilih untuk ngibrit dari kelas, dari pada kena semprot! Iya, nggak? Pinkie teringat sama Nick. Ia langsung menuju ke lapangan basket untuk mencari Nick, cari partner sepenanggungan. “Nick!”, panggil Pinkie dengan riang.

Nick yang lagi duduk di bawah pohon mangga arum manis sekolah, langsung bangkit dan menghampiri Pinkie. “Kok elo di sini?” Sekarang, Nick yang keheranan.

“Gue diusir dari kelas juga, sama Bu Garnis. Hahaha …” Pinkie tertawa lepas.

“Hush! Kok cewek ketawanya serem banget, sih?”, canda Nick yang ikut tertawa.

“Biarin aja! Abis, gue butek banget kalo lagi pelajarannya Bu Garnis. Udah deh, mendingan sekarang kita ngobrol-ngobrol. Gimana?”, usul Pinkie sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Boleh juga, nih …”, ucap Nick setuju.

***

“Jadi, gimana kabar Nick?” Pertanyaan Gerald langsung membuat Pinkie tersipu malu.

Aku punya teman, teman sepermainan. Ke mana ada dia, selalu ada aku. Dia amat manis dan juga baik hati. Dia selalu ada waktu untuk membantuku. Namun aku bingung, ketika dia bilang cinta. Dan dia juga katakana, tuk ingin jadi kekasihku. Cukuplah saja berteman denganku, janganlah kau meminta lebih. Ku tak mungkin mencintaimu, kita berteman saja, teman tapi mesra …” Nyanyian Benji bikin Pinkie tambah merona bak kepiting rebus.

“Semuanya baik-baik aja, kok. Jadi makin deket, malah …”, jawab Pinkie malu-malu.

“Bagus, dong.” Gerald tersenyum senang.

Jatuh cinta, berjuta indahnya …” Benji kembali bernyanyi.

“Benji, udah ah!” Pinkie mencubit pipi tembemnya Benji.

“Sakit, gila!”, teriak Benji kesakitan.

***

“Jadi, hubungan kita mau melangkah ke mana?”, tanya Pinkie pada Nick.

Nick terlihat terkejut dengan pertanyaan Pinkie dan menoleh. “Maksud kamu, apa?” Nick terlihat bingung.

“Aku nggak ada maksud apa-apa, Nick. Oke? Aku hanya mau memperjelas hubungan kita. Pacaran nggak, temenan biasa juga nggak. Iya, kan?”

Nick tersenyum simpul. “Aku lebih suka kayak begini. Hubungan kita begini aja, nggak usah ke mana-mana. Boleh, nggak?”

Pinkie menggigit bibir tipisnya. “Kenapa gitu? Padahal aku pengen kita pacaran.”, ungkapnya jujur.

“Kalo pacaran, aku jadi terikat. Aku nggak suka terikat. Kita kayak begini aja, aku janji, nggak akan ninggalin kamu.” Pinkie tersenyum kecut.

***

“Jadi, aku bener-bener nggak bisa bareng kamu lagi. Sori, ya. Kita temenan biasa aja lagi, deh.”, ucap Nick sambil menggenggam tangan Pinkie.

“Temenan?”, tanya Pinkie tergagap.

“Iya, temenan. Emang kenapa? Kan kita juga nggak pacaran. Aku mau memperjelas aja.”, jawab Nick enteng.

“Ya, udah.” Pinkie meninggalkan Nick sendirian di kafe itu.

“Gerald, ajak Benji juga. Kita ketemuan di taman kota.” Pinkie menangis tertahan. Cinta membuatnya gila.

“Gue tau, pasti elo sama Nick udah berakhir.” Kata-kata Gerald membuat tangisan Pinkie bertambah kencang.

“Iya, emang.” Pinkie berusaha angkat bicara. “Gue nggak tahan lagi. Semua ini bikin gue gila. Gue udah sayang banget sama Nick.”

“Jangan nangisin cowok yang brengsek. Itu kenapa, kita nggak mau pacaran buat sekarang-sekarang ini. Kita belum siap buat sakit hati, Pink. Makanya, elo juga nggak boleh kayak begini. Kita sayang sama lo. Elo punya lebih dari 3 cinta di dunia ini. Dari bonyok lo, kita, juga temen-temen yang lain. Lo harus bangun. Oke? Inget, elo punya lebih dari 3 cinta.”, kata Gerald bijaksana.

“Iya, bener juga! Makasih, ya! Gue seneng banget punya temen kayak kalian.” Pinkie langsung memeluk 2 sahabatnya.

Gerald dan Benji bengong. “Wooo … Tunggu dulu, nih. Gue punya sebuah lagu buat elo.”, ucap Benji sambil tersenyum jahil.

“Apa?”, tanya Gerald dan Pinkie berbarengan.

Lelaki buaya darat. Busseeet … Aku tertipu lagi. Wooo … Mulutnya manis sekali, tapi hati bagai serigala. Wooo … Ku tertipu lagi. Oh, wooo … Ku tertipu lagi. Oh, wooo. Untungnya aku masih punya kekasih yang lainnya. Tetapi kenapa aku masih saja tertipu olehnya? Lelaki buaya darat. Busseeet … Aku tertipu lagi. Wooo … Mulutnya manis sekali, tapi hati bagai serigala. Wooo … Ku tertipu lagi. Oh, wooo … Ku tertipu lagi. Oh, wooo.” Nyanyian dari seorang Benji yang bersuara cukup sumbang dan menarik membuat Gerald dan Pinkie tertawa ngakak.

“Dan makasih buat semuanya. Gue tau, kalo gue punya lebih dari 3 cinta di dunia ini. Gue punya satu lagu buat kalian.” Gantian Pinkie yang bernyanyi. “You just call out my name  and you know wherever I am. I’ll come runnin’  to see you again. Winter, spring, summer or fall. All you got to do is call and I’ll be there. Yeah. You’ve got a friend.” Lagu You’ve Got a Friend. Pinkie berhenti bernyanyi dan tersenyum memandangi kedua sahabatnya. Nggak ada pacar? Nggak apa-apa. Nggak ada sahabat? Sama saja kayak nggak punya impian. Sahabat juga cinta sama kita, loh. Inget nasehatku, ya. Cinta selamanya, Pinkie.

Reply