Wagimin dan Rohayati

Barusan saja aku menonton tayangan “Orang Pinggiran” di stasiun televisi Trans7. Jujur saja, seringkali aku beranggapan bahwa stasiun televisi gemar memperjualbelikan rasa iba dan kasihan demi meningkatkan rating mereka dengan menayangkan kehidupan orang-orang yang kurang beruntung. Salah satunya adalah kisah tentang Wagimin dan Rohayati, sepasang suami istri yang buta.

Bapak Wagimin dan Ibu Rohayati memiliki dua orang anak, namun sudah lama anak mereka tidak pulang. Sepasang suami istri ini berprofesi sebagai penjual sapu hasil buatan mereka sendiri. Sehari-hari, mereka menjajakan sapu buatan tangan mereka untuk dijual keliling kampung. Bapak Wagimin tidak buta sejak lahir, sehingga Beliau cukup beruntung karena sempat memperoleh pendidikan sewaktu kecil, sementara istrinya–Ibu Rohayati, terlahir sebagai seorang tuna netra. Setiap malamnya, Bapak Wagimin menyempatkan diri untuk mengajari sang istri cara membaca dan menulis dengan huruf-huruf braille dengan bekal pendidikan yang diperolehnya saat kecil. Selain menjadi seorang penjual sapu, Bapak Wagimin terkadang membantu orang lain mengambil buah kelapa di pohon yang begitu tinggi dengan imbalan beberapa buah kelapa. Sewaktu kecil, ia begitu rajin memanjat pohon kelapa lantaran ingin membantu kedua orang tuanya mencari uang.

Untuk makan sehari-hari, sepiring nasi dengan lauk tumis kangkung menjadi santapan yang dianggap mewah bagi sepasang suami istri ini. Begitu aku melihat sayur kangkung itu sendiri, aku pun terhenyak, karena sesungguhnya aku tidak pernah benar-benar menyukai sayur kangkung. Bagi Bapak Wagimin dan Ibu Rohayati, sayur kangkung sangatlah lezat dan bergizi, ketimbang singkong yang hanya bisa mereka makan ketika mereka tidak memiliki cukup uang untuk membeli beras. Bapak Wagimin juga kerap menggarap tanah orang sendirian untuk ditanami singkong, dengan imbalan setengah dari hasil panen singkong tersebut.

Dari kisah ini, aku tidak ingin mengkritik stasiun televisi yang menjual rasa iba, melainkan ingin belajar sesuatu–bagaimana aku harus selalu bersyukur dengan keadaanku. Setidaknya, aku masih memiliki kedua mata untuk melihat. Setidaknya, aku tidak pernah kekurangan makan. Setidaknya, aku jauh lebih beruntung.

Reply