Cerita Senja dan Banyu: 12. Tato Pertama Banyu

Aku senang melukis sejak kecil. Bagiku, melukis terasa seperti menuangkan teh hangat dari sebuah teko panas ke sebuah cangkir yang cantik. Menuangkan segala yang panas, hingga akhirnya perlahan menghangat, kemudian mendingin. Kurang lebih, rasanya seperti menuangkan segala isi kepalaku ke sebuah media kosong. Akan tetapi, aku belum pernah membayangkan seseorang melukis di tubuhku–berbeda dengan Banyu yang ingin tubuhnya dipenuhi oleh lukisan. Tiga tahun lalu, Banyu memperoleh tato pertamanya.

Continue reading Cerita Senja dan Banyu: 12. Tato Pertama Banyu

Cerita Senja dan Banyu: 11. Saat Banyu Menghilang

Aku terlalu mengandalkan Banyu. Selama ini, dia selalu muncul ketika aku membutuhkannya. Dia kerap menyelinap ke kamarku lewat jendela, berusaha menenangkanku ketika aku merasa sedih atau marah, hingga aku tertidur lelap. Dan begitu dia menghilang, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Continue reading Cerita Senja dan Banyu: 11. Saat Banyu Menghilang

Cerita Senja dan Banyu: 10. Tentang Banyu

Selama ini, aku lebih banyak bercerita tentang diriku ketika berbicara tentang Banyu. Jika ada tentang Banyu, itu pun biasanya berhubungan dengan hubungan kami berdua. Hingga pada akhirnya, aku merasa perlu untuk menceritakan siapa Banyu yang sebenarnya–terlepas dari fakta-fakta umum bahwa Banyu senang sekali berselancar dan makan (bersamaku). Jadi, kali ini aku akan bercerita tentang Banyu. Hanya tentang Banyu. Continue reading Cerita Senja dan Banyu: 10. Tentang Banyu

Still Alice: Novel Pengingat Diri

Sumber: https://thebooklyclub.files.wordpress.com/ 

Saat baru memulai membaca e-book “Still Alice”, saya sama sekali nggak menyangka bahwa buku ini ‘berat’. Bukan karena novel ini terlalu tebal atau karena topik yang diangkatnya nggak saya kuasai, tapi justru karena tema dan ceritanya. Setelah lama nggak membaca novel, “Still Alice” berhasil membuat saya terhipnotis dengan segala kata-kata dan alur ceritanya. Dari kacamata seorang pembaca, saya telah menjadikan novel “Still Alice” sebagai pengingat diri, terutama karena satu hal.

Continue reading Still Alice: Novel Pengingat Diri

Cerita Senja dan Banyu: 09. Tertidur

Banyu seringkali tertidur. Di manapun yang ia bisa, ia selalu ingin tidur. Kadang aku iri padanya, ada malam-malam dimana aku terlalu sulit untuk tidur, dan aku tetap terjaga sepanjang malam, bahkan hingga pagi. Akan tetapi, ternyata hanya ada satu tempat di mana Banyu tidak akan pernah bisa tertidur. Dan aku pun baru saja mengetahuinya.

Continue reading Cerita Senja dan Banyu: 09. Tertidur

Cerita Senja dan Banyu: 08. Namaku Senja

Hampir tiga belas tahun yang lalu, aku berkenalan dengan Banyu. Hari-hari berikutnya, kami menghabiskan waktu sebagai sepasang anak kecil yang akan memasuki masa pubertas. Sebenarnya, tidak ada yang terlalu istimewa. Hanya saja, ada satu momen yang tidak bisa kuingat. Dan momen itu berhubungan dengan sebuah pertanyaan dari Banyu. Continue reading Cerita Senja dan Banyu: 08. Namaku Senja

Cerita Senja dan Banyu: 07. Srimaya, Aku, dan Banyu

Hari itu Ayah dan Bunda ingin memiliki waktu mereka sendiri. Jadilah mereka menyuruh kami pergi berlama-lama, menghabiskan waktu tanpa mereka. Srimaya yang bingung, hanya bisa mencolek-colek aku yang tengah duduk menikmati secangkir teh di teras rumah. Tidak lama kemudian, aku pun memutuskan untuk menelepon Banyu. Sudah lama sekali aku dan dia tidak menghabiskan waktu bersama adik kecilku, Srimaya.

Continue reading Cerita Senja dan Banyu: 07. Srimaya, Aku, dan Banyu

Cerita Senja dan Banyu: 06. Aku dan Matahari

Terik matahari selalu menyengat kulitku. Aku yang selalu malas menggunakan tabir surya, lebih memilih menahan perih sesudah berpanas-panasan di bawah sinar matahari. Dan untungnya Banyu mengerti. Dia begitu mengerti akan kecintaanku pada matahari. Dia sangat mengerti bagaimana aku membenci air hujan dan basah kuyup karenanya.

Inilah ceritaku. Bersama matahari, juga Banyu.

Continue reading Cerita Senja dan Banyu: 06. Aku dan Matahari

Cerita Senja dan Banyu: 05. Mengobrol dengan Banyu

Jika ada yang bertanya mengapa aku memilih Banyu sebagai pacar pertama—ah. Aku tidak bisa begitu saja bilang bahwa aku memilihnya atau dia memilihku. Yang aku rasakan hanyalah rasa nyaman yang tidak tergantikan; rasa nyaman yang bahkan tidak pernah kurasakan dari kedua orang tuaku maupun dari adikku, Srimaya.
Continue reading Cerita Senja dan Banyu: 05. Mengobrol dengan Banyu