Category

Non-Fiksi
“Surga ada di telapak kaki ibu”, begitu bunyi peribahasa yang sering saya dengar sejak kecil. Seperti kebanyakan anak-anak lain, saya hampir selalu menangis ketika lagu “Bunda” milik Melly Goeslaw dinyanyikan.
Ketika matahari mulai terbenam, saya menyambut kegelapan yang menandai bahwa hari sudah mulai malam. Hampir sebulan jauh dari rumah, tepatnya di Sorong, Papua Barat, membuat saya berusaha memaknai malam-malam yang saya miliki.
Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menulis–setidaknya, buat saya sendiri.
Yang kutahu bahwa cinta itu tidak berbentuk.
Aku ingat rindu. Rindu itu kamu. Yang muncul dengan menggebu. Kemudian terasa pilu.
Banyak orang bilang bahwa menulis adalah salah satu terapi terbaik bagi hati yang terluka. Atau mungkin dalam kasus saya, bagi hati yang gelisah.
Malam ini saya kembali terhenyak karena diri saya sendiri. Apa yang ada di dalam kepala saya tidak pernah bisa berhenti bekerja. Mencerna satu per satu perkara yang saya hadapi. Saya sering bertanya-tanya, tidak bisakah saya berhenti berpikir bahkan hanya untuk satu menit saja? Rasanya itu sebuah permintaan yang terlalu besar untuk seorang manusia yang menginjak...
Kamu membuatku merasa ganjil, dan ini menyenangkan.
Kebahagiaan terkecil saya hari ini adalah bisa menghabiskan waktu dengan biola mungil kesayangan—Moktika dan sebuah cello pinjaman. Sesederhana itu. Mungkin bagi kamu yang tidak memainkan alat musik, kebahagiaan sesederhana bermain Dota. Sejujurnya, saya pun tidak tahu bagaimana cara bermain Dota dan seasyik apa bermain Dota itu, tapi yang jelas, saya percaya bahwa masing-masing dari kita...
Jangan mengasihani orang lain, kalau kamu tidak juga tahu apa makna ‘bersyukur’.     Terima kasih, Sayang.
1 2 3 4 6