CategoryCerita Senja dan Banyu

Cerita Senja dan Banyu: 12. Tato Pertama Banyu

C

Aku senang melukis sejak kecil. Bagiku, melukis terasa seperti menuangkan teh hangat dari sebuah teko panas ke sebuah cangkir yang cantik. Menuangkan segala yang panas, hingga akhirnya perlahan menghangat, kemudian mendingin. Kurang lebih, rasanya seperti menuangkan segala isi kepalaku ke sebuah media kosong. Akan tetapi, aku belum pernah membayangkan seseorang melukis di tubuhku–berbeda...

Cerita Senja dan Banyu: 10. Tentang Banyu

C

Selama ini, aku lebih banyak bercerita tentang diriku ketika berbicara tentang Banyu. Jika ada tentang Banyu, itu pun biasanya berhubungan dengan hubungan kami berdua. Hingga pada akhirnya, aku merasa perlu untuk menceritakan siapa Banyu yang sebenarnya–terlepas dari fakta-fakta umum bahwa Banyu senang sekali berselancar dan makan (bersamaku). Jadi, kali ini aku akan bercerita tentang Banyu...

Cerita Senja dan Banyu: 07. Srimaya, Aku, dan Banyu

C

Hari itu Ayah dan Bunda ingin memiliki waktu mereka sendiri. Jadilah mereka menyuruh kami pergi berlama-lama, menghabiskan waktu tanpa mereka. Srimaya yang bingung, hanya bisa mencolek-colek aku yang tengah duduk menikmati secangkir teh di teras rumah. Tidak lama kemudian, aku pun memutuskan untuk menelepon Banyu. Sudah lama sekali aku dan dia tidak menghabiskan waktu bersama adik kecilku...

Cerita Senja dan Banyu: 06. Aku dan Matahari

C

Terik matahari selalu menyengat kulitku. Aku yang selalu malas menggunakan tabir surya, lebih memilih menahan perih sesudah berpanas-panasan di bawah sinar matahari. Dan untungnya Banyu mengerti. Dia begitu mengerti akan kecintaanku pada matahari. Dia sangat mengerti bagaimana aku membenci air hujan dan basah kuyup karenanya.
Inilah ceritaku. Bersama matahari, juga Banyu.

Your sidebar area is currently empty. Hurry up and add some widgets.