Ah, Awal!

Ah, Awal!

Di tautan ini, saya sedikit lupa bahwa saya pernah menulis sebuah tulisan berjudul “Pada Awalnya” untuk Writing Session (@writingsession). Saya senang sekali mendapati tulisan ini menjadi tulisan best of the night untuk sesi 2 Januari 2011. Ah, ya. Dua tahun lalu? Lama, eh? Iya, lama.

Tulisan saya itu bisa dibaca di: http://writingsessionclub.blogspot.com/2011/01/pada-awalnya.html

🙂

Selamat hari Senin! 😀

Membahasakan Cinta

Namaku Sefin dan tidak ada yang bisa mengalahkan kecintaanku pada Bahasa Inggris, salah satu bahasa internasional dengan jutaan penutur di dunia. Aku pertama kali mempelajari bahasa asing ini saat duduk di bangku pertama Sekolah Dasar (SD) dan waktu itu usiaku baru enam tahun. Bagiku, Bahasa Inggris adalah bahasa asing yang sangat menarik dan pengucapan yang khas. Yang lebih mengasyikkan lagi, penulisan Bahasa Inggris menggunakan huruf Latin, sehingga aku tidak perlu mempelajari aksara baru dalam belajar Bahasa Inggris. Banyaknya bacaan, lagu, dan film populer berbahasa Inggris pun juga berhasil menarik perhatianku, sehingga semakin bersemangat belajar Bahasa Inggris.

Continue reading “Membahasakan Cinta”

Tentang Sir Widya

Tentang Sir Widya

Kembali, saya menemukan tautan dengan nama saya. Sudah hampir setahun yang lalu saya menulis tulisan ini–sebuah tulisan yang bercerita tentang guru SMP saya yang bernama Sir Widya untuk sebuah lomba menulis hasil kerjasama Nulis Buku dan BioVision. Saya cukup senang karena saya bisa menjadi salah satu dari 60 finalis yang karyanya dibukukan, karena pada dasarnya saya mengikuti lomba ini sebagai salah satu media dan ajang latihan menulis. 🙂

Sir Widya sendiri selalu menjadi guru favorit saya di SMP. Beliau yang mengajarkan saya untuk lebih disiplin saat bernyanyi dalam paduan suara di deretan perempuan bersuara Alto. Sir Widya juga yang membuat saya semakin mencintai Bahasa Inggris.

nb: di postingan berikutnya, saya akan memposting tulisan full dari “Membahasakan Cinta”. Selamat membaca!

Sebuah Tulisan Berjudul “Memori”

Semalam saya kembali berbincang dengan seorang teman. Rencana kami untuk menikmati secangkir kopi akhirnya tergantikan dengan sepiring Mie Godog dari sebuah kios Mie Jogja di kawasan Tebet.

Dari semua pembicaraan yang tidak pernah habis, dia kemudian membahas bagaimana ‘menonaktifkan’ diri di sosial media ternyata cukup menyenangkan. Dia pun lalu memberikan ide untuk mencari nama kami masing-masing di Google search engine. Begitu saya melakukan pencarian nama saya sendiri, ternyata ada banyak hal yang saya temukan. Hingga akhirnya saya sadar bahwa tulisan saya ada di salah satu proyek NulisBuku tahun 2011. Proyek buku ini bernama “Lagu Pilihan” dan tulisan saya yang berjudul “Memori” ada di Lagu Pilihan Seri 4.

Pagi ini saya membuka laptop dan mencari tulisan itu. Saya baca ulang. Saya tidak begitu ingat pernah menuliskannya, tapi saya ingat ini bercerita tentang satu orang yang berusaha saya lupakan selama 6 tahun lamanya. Lama, ya? Iya. Berat? Iya. Dia memang tidak pernah lepas dari pikiran saya, namun pada perempatan tahun ini saya toh pada akhirnya bisa melepas dia. Pertemuan terakhir kami tidak pernah terasa sespesial yang saya bayangkan. Saya pikir saya akan kangen dia. Saya pikir saya akan begitu bahagia. Nyatanya, saya hanya ingin pulang ke rumah secepatnya untuk mengerjakan tugas malam itu. Effortless. Saya bangga pada diri saya sendiri karena saya bisa melepaskan dia tanpa harus berusaha. Saya berpasrah. Dia memang spesial–setidaknya dulu.

Di bawah ini saya akan menyelipkan tulisan saya tanpa editan gramatikal sama sekali. Selamat membaca! 🙂

Memori

(terinspirasi dari lagu “Never Forget You” by The Noisettes)

Aku duduk di ujung tebing ini, sendiri menatap langit. Senja selalu begini. Selalu sepi. Aku mungkin terlalu naïf, terlalu bodoh untuk terus mengenang segalanya. Ya, kau. Aku takkan pernah melupakanmu, terlebih karena sebagian dari jiwaku masih terbawa pergi olehmu.

Apa kabarmu, Kama? Masih ingatkah kau dengan aku? Aku, Sonita Paramita, masih ingatkah? Terlalu banyak memori yang semestinya terlupa, terlalu banyak senyum yang kiranya tersisa.

Aku ingat betapa seringnya aku memintamu kembali. Aku bahkan mengemis, bukan memohon. Aku bodoh. Sungguh bodoh.

Aku tahu kau takkan pernah kembali, tetapi … bukannya harapan selalu ada? Katamu, Tuhan begitu baik … Lalu, mengapa Ia memisahkan kita? Cinta … cinta … Lagi-lagi, aku terlalu bodoh untuk mencinta. Andai saja aku bisa berpikir rasional … Andai saja … Sayangnya, aku adalah seorang wanita yang terlalu berbeda untuk berpikir dengan logika.

~

“Dek, sudah dapat kiriman surat dari kakakmu, belum?” Pertanyaan ibu pada akhirnya membubarkan lamunanku.

Aku menggeleng. “Kak Satya sepertinya sedang sibuk-sibuknya bu di Capetown. Kenapa sih bu, dulu ibu mengijinkan kakak pergi ke Afrika Selatan? Toh di sana juga dia hidup sendiri, kasihan kan.”

Ibu tersenyum. “Kakakmu kan semakin dilarang semakin keras kepala, lagipula kan ini mimpi dia. Kamu tahu kan dia ingin sekali bisa pergi ke Afrika?”

“Oh iya. Oke deh, bu. Aku ke mau ke pantai dulu, ya.” Sepeda yang kuparkir di teras rumah pun langsung kusambar dan aku bergegas pergi ke pantai.

Beginilah rutinitasku. Menyendiri. Jika tidak duduk di tebing untuk memandangi langit, maka aku memilih untuk duduk di pinggir pantai sambil memandangi laut. Semuanya karena kau. Karena kau, Kama.

Seperti yang kau tahu, aku takkan mau melupakanmu. Mengapa kau tak juga kembali? Apakah kau membenciku?

Aku begitu naïf dan polos, sampai-sampai mengira bahwa kita akan terus bersama-sama.

Mengapa kau begitu cepat pergi?

Saat Kak Satya masih di sini, setidaknya aku masih memiliki teman untuk berbagi duka … Tetapi, kini aku sendiri. Dan aku tidak pernah tega membiarkan ibu melihatku sedih. Jadi, lebih baik kerinduanku ini kusimpan sendiri.

Aku rindu, Kama. Aku rindu. Apakah kau juga begitu?

Aku rindu akan aroma tubuhmu. Kau yang selalu bau matahari.

Aku rindu akan senyummu. Aku rindu akan senyum dari bibir mungilmu.

Aku rindu melihat rambut ikalmu. Aku rindu melihat kulit coklatmu.

Aku rindu menyentuh wajahmu. Aku rindu menggenggam tanganmu.

Apakah kau juga begitu?

Terlebih, aku rindu melihatmu di sampingku. Mendengarkan semua ceritaku, juga membiarkanku bersandar di bahumu.

Kama, apakah kau masih di situ?

Biarkanlah aku terus merindukanmu …

Biarkanlah aku mengenang terus memori ini.

~

“Dek, kok kamu pucat banget?”

Aku melihat kaca. Ibu benar, wajahku hari ini pucat sekali. “Nggak tahu juga ya, bu. Padahal aku ngerasa baik-baik saja.”

Ibu mendekat dan meletakkan tangannya di dahiku. “Badanmu agak panas loh, dek.”

“Masak sih, bu?”

Dan semuanya berubah menjadi gelap.

~

“Sonita!” Aku berbalik dan kau langsung memelukku.

Ya Kama, kau yang memelukku.

“Kama, ” bisikku pelan. “Kamu di sini.”

“Iya, Sonita. Aku nggak akan ke mana-mana.” Kau mengecup pelan puncak kepalaku, membiarkan kehangatan itu tetap di sana. Kehangatan di antara kita yang selama ini kurindukan.

“Apa kabar?” tanyaku lalu melepaskan diri dari pelukanmu.

“Seperti yang kamu lihat, rambutku masih ikal, dan kulitku juga masih coklat.” Kau tertawa pelan, lalu berjalan menjauh.

Awalnya aku ikut tertawa, tetapi kemudian, tawaku semakin menghilang bersamaan dengan lenyapnya kau di hadapanku. Kau begitu cepat hilang dari pandangan. Mau ke mana lagi?

“KAMA!!!” teriakku putus asa.

Tak ada balasan. Tak ada lagi tawa.

Aku terbangun. Sial.

“Kamu sudah sadar, dek? Kamu tadi pingsan, lho,” ujar ibu yang ternyata sudah menungguiku daritadi.

“Oh iya, bu? Aku sudah baikkan, kok,” jawabku sambil terus memikirkanmu.

Lebih baik aku tidak bermimpi sama sekali, Kama. Apalagi, memimpikanmu. Kau hanyalah ilusi dari masa laluku. Bagian dari memori yang terus mengendap bersama mimpi.

Pergi, pergi. Kau telah pergi.

Akankah kau kembali?

            ~

Akhirnya, kita bisa bertemu lagi.

Kau mungkin tak kan kembali, tetapi aku akan melepasmu pergi.

Kama, aku harus merelakanmu.

Dan kau selalu akan menjadi bagian dari memoriku.

Aku tak akan berhenti mencintai, mencintai kau yang selalu ada di sini. Yang akan selalu ada di hati.

Aku akan berhenti berpura-pura seakan kau akan kembali.

Kama, aku yakin kita akan bersama-sama lagi.

Tunggu aku.

 

Aku pun berjalan menjauh.

Berusaha mencari keheningan yang lebih dalam lagi.

Memandang langit yang kini tampak lebih cerah.

Cinta, cinta.

Cinta untuk Kama.

Cinta yang akan selalu ada.

Begitu juga memori ini.

 

Untukmu,

Kama yang telah pergi dan selamanya menjadi memori.

nb: saya kini berada di titik di mana saya menyadari bahwa tulisan ini begitu naif. Lucu. Hidup ini lucu! 🙂

Refleksi (Hampir) Tengah Tahun

Lucu, bagaimana akhirnya saya mengerti cara Semesta bekerja.

Bersama seorang teman, tadi sore saya pergi ke IFI Salemba untuk pertama kalinya dan untuk pertama kalinya pula saya menonton salah satu film Europe on Screen. Kami menonton sebuah film asal Bulgaria yang berjudul “Sneakers”. Film ini mengisahkan tentang enam anak muda yang kabur ke pantai di perbatasan Laut Hitam dari kehidupan mereka yang cukup kacau. Terlepas dari adegan-adegan absurdnya yang lucu, saya ingin mengutip salah satu perkataan tokohnya, yaitu seorang perempuan muda bernama Emmo.

What are your fears?” tanya salah satu teman Emmo. Terdiam sebentar, Emmo pun kemudian menjawab, “Growing up.”

Kutipan di atas pada akhirnya mengantarkan saya pada kenyataan bahwa bertumbuh dewasa adalah bagian dari hidup yang tidak akan pernah bisa dihindari. Ah, harus saya koreksi. Kita bisa memilih untuk tidak bertumbuh dewasa, tapi kita tidak bisa memilih untuk tidak bertambah tua. Toh, pada akhirnya, menjadi dewasa adalah sebuah pilihan–sebuah pilihan yang memberikan ketakutan.

Saya memejamkan mata sebentar, lalu melihat sekelling. Usia saya kini sudah 21 tahun 1 bulan. Sespesifik itukah? Ya, bagi saya. Banyak hal yang sudah terjadi, banyak hal yang sudah dinanti. Pada akhirnya, semuanya kembali lagi pada diri saya sendiri. Semua ini tidak pernah terjadi begitu saja. Alangkah menyenangkan melihat bagaimana Semesta bekerja–mempertemukan saya dengan banyak kesempatan dan atmosfer baru.

Di hampir pertengahan tahun ini, ada begitu banyak hal yang kemudian membuat saya tertawa geli. Semua kegelian ini diberikan oleh berbagai pengalaman dan kejadian yang terjadi dari awal tahun hingga sekarang. Saya telah belajar banyaaak! Banyaaak sekali walaupun saya sadar ini masih belum ada apa-apanya. Saya masih bau kencur.

Kembali pada tulisan pertama di sini, saya toh masih harus terus belajar tentang bagaimana melepaskan kepergian seseorang–baik secara disengaja ataupun karena terpaksa. Mereka datang dan pergi begitu saja di hidup saya. Siapapun mereka–pacar, gebetan, sahabat, keluarga, atau kerabat, saya berusaha untuk memungkiri satu hal, yaitu ada satu kepingan dalam diri saya yang (mungkin) dibawa pergi oleh mereka. Atau ini hanya perasaan saya saja? Saya pun tidak tahu pasti. Bagaimanapun juga, kepingan tersebut adalah kepunyaan saya yang harus saya dapatkan kembali. Proses penerimaanlah yang kemudian berhasil membuat saya sembuh dari rasa kehilangan. Tidak mudah, memang. Akan tetapi, sekali lagi, proses selalu menjadi yang terpenting. Mereka–orang-orang itu, tentu tidak datang begitu saja tanpa alasan; saya percaya semesta telah mengatur segala pertemuan dan perpisahan dengan berbagai alasan. Berbagai alasan yang membuat saya akhirnya belajar banyak hal, terutama tentang makna kehilangan itu sendiri.

Selain terus belajar tentang makna kehilangan, saya juga belajar tentang pentingnya untuk berhenti sejenak. “Santai, jon.” Seorang teman bahkan mengatakan bahwa menjadi ambisius memang baik, tapi ada kalanya kita harus berhenti sejenak, menghela nafas, sebelum akhirnya mengambil langkah yang lebih besar lagi. Ini adalah satu hal yang sering luput dari diri saya sendiri. Saya seringkali terburu-buru hingga akhirnya salah mengambil langkah dan menyesal. Melakukan kesalahan memang baik karena membuat saya belajar untuk lebih berhati-hati, tapi kalau terus mengulangi kesalahan yang sama, apa jadinya? Saya pun diingatkan oleh teman yang lain untuk tidak terlalu menekan diri sendiri. “Don’t push yourself too hard,” begitu katanya. Perjalanan demi perjalanan, kejadian demi kejadian, keputusan demi keputusan. Saya kini berada di titik di mana saya sadar bahwa selama ini saya terlalu menekan diri saya sendiri dengan porsi yang berlebihan, tapi di sisi lain saya sering santai dengan porsi yang tidak wajar. Semua ini pada akhirnya harus dilakukan secara seimbang. Konklusinya, saya harus fokus pada semua tujuan dan keinginan saya, tapi saya juga harus belajar untuk lebih santai dan belajar bekerja sama serta menerima diri saya sendiri supaya tidak ada lagi penyesalan. Atau setidaknya, saya ingin belajar untuk tidak menghakimi diri saya sendiri saat melakukan kesalahan hingga tidak akan ada penyesalan yang muncul. Making mistakes is just a part of life. Human beings make mistakes. 

Bagi saya, hidup ini adalah sebuah kurikulum tidak terbatas. Kurikulum tanpa standar yang terus membuat saya belajar. Terima kasih, Semesta.