Aku
Sendu
Rindu
Debu
Abu
Ragu
Malu
Palsu
Tamu
Layu
Semu
Pilu
Kaku
Paku
Rayu
Sipu
Beku
Kelu
Kamu
Cerita Indomie dan Mengisi Perut di Rumah Turki
Begitu aku tiba di apartemen keluarga Emrah Doğan, aku langsung diajak menuju ke meja makan yang kecil–ukurannya kurang lebih 50cm x 50cm, tapi penuh dengan sajian. Beginilah cara orang-orang Turki menjamu tamu mereka. Mereka akan mengisi perut tamu-tamunya sampai kekenyangan.
Continue reading “Cerita Indomie dan Mengisi Perut di Rumah Turki”
Why We Have to Save Sharks?
Have you seen a box office movie called “Jaws”? I assume that most of you must have watched the movie. It depicted sharks as the cruelest creature in the world since they kill humans who swim in the open water. This is not true. Humans are actually crueler than the sharks for shark fishing has become one of the biggest industries all over the world. More and more fishermen are catching sharks for a good price while the nature suffers because of this. Sharks are the top predators of food chain, so they have an important role in the oceanic ecosystem. However, in the last 30 years, the number of their population has been decreasing for more than 90 percent. The diminishing number of the sharks is totally not good for the oceanic ecosystem and the overall nature. Without the sharks in the food chain, the world is threatened. Therefore, we have to save sharks since they have an important role for the oceanic ecosystem and the overall nature.
One might say that saving the sharks is violating the rights of most fishermen in the world to earn money since shark finning has become the only one source of income of most fishermen in the world. However, this is not true. Based on the interview I have done with the fishermen on January 19th, 2013 in Raja Ampat, all of the fishermen there said that sharks are actually their ‘bycatch’ fish. The bycatch fish is the fish that fishermen unintentionally catch while they are fishing another species of fish like tuna or mackerel. In other words, the fishermen do not depend on shark fishing or shark finning to fulfill their daily needs.
Another argument said that shark fishing is not cruel since sharks themselves are the cruelest creature we see in movies. In fact, “no more than 12 people a year are killed by sharks worldwide. It is more dangerous to play golf than to swim in the ocean with sharks. More golfers are struck by lightning and killed each year than the total number of shark fatalities” (“The Brutal Business of Shark Finning,” par.2) Here we can see that sharks are not as cruel as we see in the movies. Remember, what we see in the movies are very different from the reality.
The third argument said that we do not have to save sharks because shark fin soup and shark meat are very nutritious. I can bravely say that this statement is actually a myth. Based on the study done by Sharkproject—a shark protection organization (“The Poisonous Shark Meat,” par.2), “one kilogram of blue shark steak contains up to 1,400 microgram of methyl mercury which is 60 times more than a 70kg heavy consumer per day may have” For methyl mercury is extremely hazardous for our bodies, methyl mercury itself can cause severe diseases such as cancer, kidney damages, and massive damages for the brain. (“The Poisonous Shark Meat”, par.3-4) Due to the facts stated above, it is now proven that shark based food is not nutritious at all.
Picture: The food chain of oceanic ecosystem. (source: antediluviansalad.blogspot.com)
In addition, there are two specific reasons why we have to save sharks. First, sharks are the top predators in the food chain of the oceanic ecosystem. Therefore, sharks have an important role for the balance of the nature. Related to this, the population of the sharks determines whether we can eat any delicious seafood or not; whether there is enough seafood for humans or not. As we can see in the food chain of the oceanic ecosystem, there are carnivores like mackerel and tuna right below the sharks. These carnivores prey the crustaceans beneath them. The crustaceans are the species of the seafood we usually consume like shrimps and crabs. Thus, what is the relation between the availability of seafood and sharks population? Let us look at this interesting fact: if there are no sharks, the number of carnivores will increase rapidly causing them to eat more crustaceans than usual. The impact of this is that the number of crustaceans will become smaller, and it will be hard for humans to find delicious seafood to eat. In this way, we have to save sharks if we still want to have the delicious seafood served in our plates. The next reason to save sharks is that eating a shark fin soup is not comparable to the damage we cause to the oceanic ecosystem. A shark fin soup is known for the delicacy and price, and that is why most people eat it for prestige. Should we really let the nature suffer only for a dangerous shark fin soup?
As we live together with the nature in this world, we have to remember that it is our job to take care of the nature if humans still want to live in this world. Saving sharks is one of the ways to take care of the earth. Please think twice before eating shark-based food. If you want to live longer and you want your grandchildren to enjoy the beautiful nature, you have to save the sharks. In conclusion, by saving the sharks we are actually saving the world! Let’s save sharks!
Reference:
“The Brutal Business of Shark Finning.” Sea Shepherd Conservation Society 2012. Feb 20.
2013. <http://www.seashepherd.org/sharks/shark-finning.html>
“Poisonous Shark Meat.” Vision Dive 2013. Feb 20. 2013.
<http://www.visiondive.com/sites/protection/english/poisonous_shark_meat.html>
Bryant, Charles W. “How Many Sharks are Killed Recreationally Each Year—and
Why?” Animal Planet 2011. Feb 20. 2013.
<http://animals.howstuffworks.com/fish/shark-fishing.htm>
And also self documentary research done with Nescafe Journey team in January 2013 at Raja Ampat Islands.
p.s.This is my argumentative essay for my Writing VI class in English Department, Faculty of Humanities, Universitas Indonesia. I am so glad to know that my lecturer–Mrs.Harwintha really appreciated this writing, and she is now more concerned about the sharks and the ocean. 🙂
Pergi Sendiri, Pertama Kali
Selalu ada kali yang pertama untuk setiap hal yang kita lakukan. Selalu ada baru dari setiap pengalaman yang kita dapatkan. Selama belasan tahun, aku sangat menyukai hal-hal yang kulakukan untuk yang pertama kalinya. Setiap pengalaman pertama memberikan sensasi yang sangat luar biasa, perasaan campur aduk yang membuat seluruh isi perut serasa diblender habis-habisan.
Aku, Perempuan, dan Pendidikan
Selamat sore! 🙂 Senja akan tiba sebentar lagi dan aku di sini ingin menuliskan salah satu opiniku. Opini ini sempat aku bagi dengan teman-teman di Twitter beberapa bulan yang lalu pada tahun 2012.
Sekarang aku tengah duduk di semester 6 bangku S1. Lebih detilnya, aku sekarang sedang belajar di Program Studi Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia (UI). Setelah lulus nanti, aku ingin bekerja dan menabung untuk kuliah S2. Aku ingin menekuni Gender Studies, Feminism, atau Cultural Studies. Sampai sekarang, aku sih belum memutuskan betul apa yang ingin aku pelajari di jenjang S2 nanti.
Dan sebagai seorang mahasiswi, aku menjalani kehidupan normal seperti anak muda lainnya. Aku bermain, aku membaca, aku jalan-jalan, dan aku juga belajar untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang mahasiswi.
Bila ada yang berpendapat bahwa kuliah itu melelahkan… Sejujurnya, aku setuju sekali. Belajar itu melelahkan. Apalagi, kalau aku belajar karena paksaan. Baik itu paksaan dari pihak luar atau paksaan dari diriku sendiri yang sudah menolak mentah-mentah materi pelajaran tersebut atas dasar ketidaksukaan.
Lalu, mengapa aku terus kuliah? Mengapa aku terus tega membiarkan otakku kelelahan dan mual-mual karena beberapa pelajaran yang sudah tidak ingin aku pelajari?
Jawabannya simpel saja, yaitu karena aku sadar akan pentingnya pendidikan bagi seorang perempuan. Ya, ya. Sebagai seorang perempuan, aku sadar bahwa pendidikan adalah tabungan terbaik untuk masa depan–selain uang, tentunya.
Di negara dengan budaya patriarki yang cukup kental seperti Indonesia, bagiku pendidikan sangatlah penting. Terutama, bila kita memutuskan untuk menikah. Setelah menikah, perempuan bisa memilih–apakah dia ingin menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang full time atau dia ingin menjadi seorang istri dan wanita karir. Meskipun pada kenyataannya, kebanyakan perempuan Indonesia masih dituntut untuk menjadi istri dan ibu rumah tangga yang full time. Kalau aku sendiri, aku ingin menjadi seorang istri, ibu rumah tangga, dan full time writer yang bekerja di rumah, sehingga bisa tetap menyalurkan kecintaanku pada dunia menulis. Walaupun aku sendiri juga mengerti, bahwa keinginanku ini bisa berubah-ubah setiap waktu.
Negara patriarki, pernikahan, pendidikan, dan perempuan? Apa sih, hubungan dari keempat elemen ini? Di negara patriarki yang masih belum begitu memposisikan perempuan setara dengan laki-laki, aku sendiri berpendapat bahwa pendidikan itu sangatlah penting. Pendidikan ini sifatnya bisa formal maupun non formal. Yang jelas, pendidikan yang memadai, menurutku, adalah pendidikan sekaligus keterampilan yang bisa menjadi bekal perempuan untuk menafkahi dirinya sendiri. Misalnya, aku yang tengah mengenyam pendidikan di ProDi Inggris. Di sini aku paham betul bagaimana bekal pendidikan yang tengah aku jalani mulai bisa memberikan penghasilan kecil-kecilan, yakni dengan bekerja menjadi free lance translator. Lalu ke depannya, saat aku telah menjadi seorang Sarjana Humaniora, aku bisa mulai bekerja dan menabung untuk masa depanku. Dan bila suatu saat nanti aku memutuskan untuk menikah, sangatlah tidak tertutup kemungkinannya bahwa aku mungkin akan berhenti bekerja dan menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga full time. Sebagai gantinya, mungkin aku akan memilih pekerjaan yang bisa kutekuni di rumah, seperti menjadi seorang penulis atau jurnalis. Selain itu, aku juga akan memberikan pendidikan non formal untuk anak-anakku kelak dari apa yang telah aku pelajari di bangku sekolah dan kuliah dulu. Inilah salah satu pendapatku mengapa pendidikan itu penting bagi perempuan.
Aku sendiri, tidak percaya pada anggapan bahwa “Hidup seorang perempuan yang menikah dengan seorang laki-laki kaya akan damai sentosa dan bahagia selama-lamanya.” Sebaliknya, aku beranggapan bahwa sebagai perempuan, aku harus selalu siap sedia dengan segala konsekuensinya. Menikah dengan seorang laki-laki kaya tidak menjamin hidup seorang perempuan akan bahagia dan bebas dari penderitaan. Semua ini pasti ada konsekuensinya. Sebagai seorang perempuan, aku merasa harus bersiap-siap dan tidak boleh bergantung pada laki-laki. Jika seorang perempuan menikah menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga full time, kemudian (amit-amit) bercerai dengan suaminya, di sinilah aku berpendapat bahwa pendidikan atau keterampilan memiliki peranan yang penting. Setidaknya, si perempuan yang telah mengenyam pendidikan ini telah memiliki bekal untuk menafkahi dirinya sendiri setelah bercerai dari suaminya. Di sini aku ingin menekankan bahwa menjadi seorang perempuan yang mandiri bukan berarti tidak membutuhkan laki-laki, tetapi harus bisa berdiri sendiri sebagai seorang perempuan tanpa ketergantungan pada laki-laki. Jangan karena ketidaksiapan, seorang perempuan yang bercerai dari suaminya lalu menjadi terlantar.
Sebagai tambahan informasi, sekarang perempuan bisa sedikit berlega hati karena sekarang Perjanjian Pra Nikah sudah makin marak dilakukan di Indonesia. Meskipun tidak banyak pasangan menikah di Indonesia melakukannya, Perjanjian Pra Nikah ini sangat penting bagi perempuan yang akan menikah. Awalnya, aku tidak begitu familier dengan istilah “Perjanjian Pra Nikah” ini, akan tetapi, informasi dari Mbak Clara Ng akhirnya membuatku tahu bahwa selain pendidikan, Perjanjian Pra Nikah ini juga penting untuk perempuan.
Untuk lebih jelasnya tentang Perjanjian Pra Nikah, silahkan baca artikel dari Wolipop, “Perjanjian Pra Nikah Penting untuk Wanita, Yuk Mengenal Lebih Jauh” di
http://wolipop.detik.com/read/2013/03/08/073621/2189154/854/perjanjian-pranikah-penting-untuk-wanita-yuk-mengenal-lebih-jauh
🙂
Well, ini semua adalah pendapatku tentang pentingnya pendidikan untuk seorang perempuan. Setiap orang tentu boleh memiliki pendapatnya masing-masing. Di sini aku tidak ingin mendikte, melainkan hanya ingin berbagi opini tentang perempuan dan pendidikan. Aku sangat terbuka akan tanggapan dan diskusi. Terima kasih karena sudah membaca!
Sisa Hujan
Bersenandung sore menikmati sisa-sisa hujan di kaca jendela
Berdansa bersama tetes-tetes hujan yang masih ada di dedaunan
Tertawa menatap langit sembari berharap tidak segera menjadi gila
Hingga akhirnya memandangi tanah basah bersama cacing-cacing yang menggeliat
Kembang dan kumbang sama-sama basah kuyup
Semut masih mengantre sembako di rumah yang entah milik siapa
Semuanya sibuk mencari
Tiap-tiap dari mereka begitu senang menyibukkan diri
Sementara aku sebentar lagi akan terlelap
Entah sampai kapan
Apa tidak usah bangun lagi?
Sekilas Tentang Postingan-postingan Berikutnya
Sebagai lanjutan untuk postinganku tentang #NescafeJourney2 #TimSaveSharks dari Raja Ampat, di tujuh postingan berikut aku akan menerbitkan tulisan-tulisan singkat yang telah dipublikasikan di website Nescafe beserta foto-fotonya. Untuk yang lebih detil, aku akan menuliskan cerita-cerita singkat terpisah tentang perjalanan kami di Raja Ampat!
Selamat membaca! 🙂
Cerita Tentang Kerinduan
Apa yang kamu cari dari kerinduan?
Mengapa jarak begitu diperhitungkan?
Sementara perasaan terkadang begitu mudah diabaikan
Karena bagiku semua sama
Karena bagiku semua sia-sia
Yang di sana menutupi wajahnya
Menghindar dari seseorang di tempat lain
Seakan-akan mau kabur
Seperti seorang buronan yang ketakutan
Ketakutan akan keputusannya sendiri
Apa yang kamu harapkan dari kerinduan?
Sebuah pelukankah?
Sebuah kecupankah?
Atau hanya sebuah senyuman yang bisa kembali membuka luka?
Lalu aku pun memutuskan untuk sembunyi
Dan juga bernyanyi
Di malam sepi tanpa berusaha berlari
Melepas Pergi
Aku menutup mata.
Kembali di pelukan bukan lagi hal yang sama.
Pernahkah kamu berhenti mencari?
Mencari potongan yang ternyata tak pernah hilang?
Pelukan yang lama terasa hangat kini sudah mendingin.
Semua itu berasal dari aku, aku yang tergopoh-gopoh melangkah.
Melangkah menjauh.
Melangkah pergi.
Di bawah sang surya aku kembali menutup mata.
Merasakan teriknya sampai pudar.
Aku membakar kenangan, aku menghanguskan kepergian.
Aku merelakan, aku membiarkan.
Bersama Adeline

Pernahkah kamu menghitung jumlah sahabat yang kamu miliki? Pernahkah kamu merasa kesepian dan menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang benar-benar bisa kamu ajak berbagi cerita?
Aku? Sering.
Kenyataannya, aku sering kali cemburu pada orang lain yang memiliki banyak sahabat baik; yang telah menjalin persahabatan selama bertahun-tahun; yang tidak pernah putus komunikasi sama sekali dengan para sahabat-sahabatnya.
Aku sendiri mengenal diriku sebagai seseorang yang cukup mudah bergaul–mudah akrab dengan orang-orang baru, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru…..tapi aku seringkali menjauh dengan orang-orang yang telah akrab denganku. As simple as that.
Sampai usiaku delapan
belas tahun, aku tidak pernah benar-benar yakin bahwa aku sungguh memiliki seorang sahabat yang bisa diajak berbagi segalanya. Sahabat pertamaku adalah adikku sendiri–Joan. Joan adalah sahabat yang paling mengerti aku, apalagi karena kami selalu berbagi kamar sejak kecil.
Lalu, siapakah sahabat-sahabatku kini?
Salah satunya adalah Adeline Prayoga atau yang biasa kupanggil Eline.
Pada mulanya, Eline bukanlah sahabatku melainkan sahabat adikku–Joan. Sosok Eline selalu membuatku tersenyum, tertawa, sekaligus membuatku terinspirasi. Banyak sekali hal dalam dirinya yang tidak pernah berhenti membuatku kagum. Kenyamanan yang diberikan oleh dirinya membuatku mengerti bahwa seorang sahabat memang benar-benar ada.
Ia–Eline, selalu bisa bicara to the point. Kata-katanya kadang bisa sangat tajam, tapi selalu berhasil membuka mata dan pikiran.
Eline selalu tahu apa yang dia mau. Eline selalu tahu apa yang harus dilakukannya. Waktu di SMA-nya dulu, ia adalah seorang murid teladan. Badannya yang kecil mungil tidak pernah menghalanginya mengejar segala mimpinya yang besar. Ia sangat jago diving, ia sangat cinta laut. Sekarang ia tengah mengenyam pendidikan di Hawaii Pacific University dengan program beasiswa dan tekadnya yang besar selalu berhasil mengantarkannya ke hal-hal yang ia inginkan.
Eline memiliki banyak teman. Ia adalah sosok seorang gadis yang supel.
Ia menyukai tantangan dan sangat pemberani. Ia seorang pekerja keras yang jarang mengeluh.
Eline sangat suportif dan tidak pernah berhenti memberikan dukungan. Ia adalah salah satu orang yang membuatku yakin bahwa aku akan bisa melanjutkan studi Masterku di Amerika Serikat beberapa tahun lagi. Ia adalah salah satu alasan mengapa aku begitu mencintai laut dan ingin mengeksplor segala isinya. Aku ingin bisa menyelam di laut-laut yang indah bersama Eline di waktu yang akan datang. 🙂
Hari Minggu ini, 13 Januari 2013, Eline akan kembali ke Hawaii untuk melanjutkan studinya sekaligus bekerja paruh waktu. Dengan beberapa kali pertemuan singkat selama liburan ini, aku telah belajar banyak hal. Aku menjadi lebih bersemangat dalam mengejar impian-impianku.
Desember tahun ini Eline akan lulus kuliah dan ia harus tinggal dan bekerja selama kurang lebih setahun di AS. Hal ini sedikit banyak membuatku sedih, selama hampir dua tahun aku tidak akan bertemu dengan Eline–kecuali aku bisa mengunjunginya di sana.
Bersama Adeline, aku telah belajar banyak hal. Bersamanya, aku telah mengerti seperti apa sosok seorang sahabat yang sesungguhnya.
Thanks, Line. Please take a good care of yourself no matter what happens. 🙂
Thanks for being such a lovely little sister from different parents :p


