Membawa Keraguan

Ketika keraguan ini dibawa, tidak ada hal lain yang ingin aku lakukan selain menenggelamkan diri.

Ini adalah waktu yang sama sekali berbeda. Waktu di mana aku benar-benar merasa ragu. 

Di suatu siang, aku menerima sebuah e-mail dari salah seorang temanku di AS, namanya Sonja Basha. Kepada tiga belas peserta Young Women Leadership Training 2012 (YWLT 2012), Sonja mengirimkan beberapa buah pertanyaan sebagai bentuk refleksi akhir tahun.

Beberapa pertanyaannya pun membuatku terhenyak.

Apakah aku sudah benar-benar melakukan semuanya? Apakah tidak akan ada lagi penyesalan?

Yang jelas, aku belum benar-benar sanggup menjawab pertanyaan itu.

Dan malam ini, aku dikejutkan dengan pesan lain, sebuah pesan dari pasangan Sonja Basha, yaitu Barbara Jefferson.

Barbara menanyakan kabarku, karena katanya beberapa waktu belakangan aku muncul dalam pikirannya. 

Aku bingung.

Apakah aku benar-benar telah membawa keraguan? Bahkan membawanya pada teman-teman terdekatku juga…?

Memori Bu Rahmi

Aku bisa mendengar Hymne Guru terdengar jelas di kedua telingaku. Dinyanyikan oleh kelompok paduan suara sekolahku dengan begitu langkah dan merdu. Hari ini hari Pahlawan, 10 November.

Sudah berbulan-bulan lamanya kami merencanakan perayaan Hari Pahlawan bersama para anggota OSIS. Kami ingin memberikan penghargaan untuk semua guru yang telah menjadi pahlawan penyalur ilmu yang tak ternilai bagi semua siswa-siswinya.

Guru yang paling kufavoritkan adalah Ibu Rahmi. Parasnya cantik, kulitnya putih bersih, dan yang pasti, beliau tidak pernah berhenti tersenyum.

Aku ingat bagaimana aku pernah bertanya satu kali pada Bu Rahmi, “Bu, kenapa Ibu nggak pernah marah sama sekali pada kami? Padahal kan, kami itu bandel banget.”
Semula, ia tertawa kecil begitu mendengar pertanyaanku. “Emangnya kenapa, Sy?” Tanyanya balik.

Aku menggeleng lalu mengangkat bahu. “Ngng… Nggak, nggak apa-apa, Bu. Saya hanya mau tahu saja.” Aku memaksakan senyum dan langsung mengerutkan dahi.

“Ah, kamu ini.” Bu Rahmi menepuk bahuku, kemudian tertawa lagi.

Tawa Bu Rahmi begitu khas, tidak mungkin dengan mudah aku melupakannya.

“Kalian kan masih remaja, wajarlah kalian nakal. Lagipula, untuk apa Ibu marah? Buang-buang energi saja.”

Sampai hari ini, aku tidak pernah lupa jawaban Bu Rahmi. Jawaban mengapa ia tidak pernah marah.

~

Bisa-bisanya aku bengong di tengah perayaan Hari Pahlawan yang begitu meriah.

“Hari ini kita juga akan memberikan penghargaan bagi Alm.Ibu Rahmi Puspa Dewi yang telah pergi setahun yang lalu. Terima kasih atas energi positif, senyum, dan tawa yang pernah dan telah diberikannya pada kita semua selama Beliau mengajar di sini.”

Aku menitikkan air mata. Bapak kepala sekolah memang benar, meskipun Bu Rahmi telah pergi setahun yang lalu, tapi segala yang diberikannya telah memberikan banyak pengaruh bagi kami. Terima kasih, Bu.

~

Cerita ini dipersembahkan untuk Alm.Bu Endah, guru SMA-ku.

FIB Bagi Gue

Hai! Nama gue Sefin dan gue adalah mahasiswi Sastra Inggris 2010.

Bagi diri gue sendiri, FIB bukan hanya sekadar fakultas yang memiliki singkatan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya di Universitas Indonesia alias UI. FIB juga bukan cuma sebuah fakultas dengan sembilan gedung tua, banyak tempat nongkrong, serta tempat-tempat baru yang lagi dibangun dan direnovasi. FIB lebih dari itu semua, karena FIB UI adalah FIB Gue.

Walaupun gue baru saja menginjak tahun ketiga di FIB, sudah banyak banget kejadian yang gue alami selama di sini. Susah, senang, sedih, marah, kesal, dan sebagainya. Kalau ibarat emoticon di BB, semuanya sudah hampir gue gunakan sampe emoticon tanpa ekspresi kayak gini -> 😐 Well, apapun yang terjadi, FIB UI tetaplah FIB Gue tercinta. FIB adalah tempat di mana gue tumbuh dan berkembangnya layaknya seorang bayi di masa golden age *ceileh.

Anyway, gue akan langsung berpindah ke topik utama, yaitu FIB Gue. Sejujurnya, gue sendiri bingung ketika awalnya mau menulis tentang FIB Gue, karena FIB sendiri memiliki multi-interpretation atau interpretasi yang berlipat jumlahnya bagi diri gue sendiri. Yang terpenting adalah gue selalu dan akan terus bangga menjadi seorang mahasiswi FIB UI.

FIB Gue adalah sebuah panggung seni dan eksplorasi diri. Gue bangga banget bisa belajar di fakultas yang telah melahirkan banyak seniman dan sastrawan Indonesia. Melihat banyak sekali teman-teman, junior, serta senior yang sudah mengembangkan talenta seninya dengan pesat selama di FIB, bagi gue adalah sebuah pengalaman yang sangat luar biasa. Banyak sekali bakat-bakat terpendam yang akhirnya muncul dan membuat banyak orang ternganga saat menyaksikannya. Banyak sekali hasil karya yang telah diproduksi dan diperbaharui. Begitu pula dengan diri gue sendiri, karena setelah gue menjadi seorang mahasiswi FIB, gue akhirnya bisa lebih berani untuk tampil bersama biola mungil gue satu-satunya. Teater, musik, tari, serta sastra telah menjadi bagian terpenting di FIB. Hal ini semakin menyadarkan gue bahwa sastra dan seni adalah dua bidang yang nggak akan pernah mati. Bila keduanya mati, maka perasaan seluruh manusia di muka bumi ini akan mati. Keduanya adalah sumber eksplorasi diri, juga sumber improvisasi diri. 

FIB Gue bukanlah sekadar sebuah institusi pendidikan dengan ribuan mahasiswa berjaket kuning, FIB Gue lebih dari itu. FIB Gue adalah FIB yang dihuni oleh ribuan anak muda dengan jutaan mimpi sempurna. Gue seringkali mendengar komentar miring tentang anak FIB, tetapi dari semuanya itu, nggak ada yang terbukti sama sekali. Anak-anak FIB Gue bukanlah anak-anak muda yang menjalani kehidupannya seperti robot, melainkan anak-anak yang telah memilih jalan hidupnya masing-masing, lalu menjalankannya. Bisa dibilang, banyak banget drama anak-anak FIB yang nggak terduga sama sekali, but that is the real life. FIB Gue adalah tempat di mana ribuan kaum muda hidup dalam realita. Ini adalah FIB Gue.

Keluarga gue adalah FIB. FIB Gue adalah keluarga. Selama hampir lima semester gue di sini, gue seneng banget karena bisa ketemu banyak orang dari berbagai latar belakang dan kehidupan. Gue seneng banget karena punya orang-orang yang bisa dirangkul dan diajak berbagi cerita. Gue bisa ketemu kakak-kakak, teman-teman, juga adik-adik di fakultas ini. Banyak sekali pelajaran berharga yang telah gue peroleh dari mereka semua. Selain itu, gue juga belajar tentang arti persahabatan, solidaritas, toleransi, kekeluargaan, serta kebersamaan yang sebenarnya. Gue semakin percaya bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Di FIB, gue belajar banyak tentang bagaimana menjadi makhluk sosial yang menghormati dan menghargai makhluk sosial yang lain.

Kalau ada yang bertanya bagaimana gue menggambarkan sebuah dunia yang sesungguhnya, gue akan menjelaskan bahwa FIB Gue adalah miniatur dunia. Segala perbedaan yang ada di dalamnya telah berhasil menjadikan FIB menjadi satu. Perbedaan yang begitu indah dirangkai ke dalam sebuah institusi pendidikan. FIB bukan hanya sebuah tempat belajar formal, tetapi juga tempat belajar tentang kehidupan yang sebenarnya. Ada jutaan hal yang telah, bisa, dan akan gue pelajari selama gue di FIB. Gue sadar bahwa dalam hidup kita perlu belajar bagaimana caranya bertahan hidup atau survival, dan FIB Gue menyajikan itu dalam berbagai medium—baik yang gue sadari maupun nggak. Hidup ini adalah perjuangan, bro!

Hmm… ternyata banyak sekali ya, arti FIB bagi gue? Masih adakah? Masih, tentu saja. Di luar ini semua, gue yakin masing-masing dari kita punya cerita yang berbeda tentang FIB, dan gue nggak sabar untuk mendengar semua cerita itu. Dan ini FIB Gue. Budaya Kami Budaya Juara. Gue bangga jadi anak FIB. Sampai jumpa!

 

Tulisan ini masuk ke majalah DPM, “Majas” dan menjadi juara kedua untuk sayembara menulis “FIB Gue” dari DPM FIB UI. Aku sangat berterima kasih pada DPM yang telah memilih tulisanku dan memberikan hadiah sebuah jersey bola. 🙂

Ini adalah FIB buatku, kalau buat kamu? 😀

Tentara 5 Menit

Ada lagi satu cerita yang mau kubagi hari ini, yaitu tentang seorang bapak paruh baya yang berprofesi sebagai tentara dan memakai baju loreng-loreng khas pekerjaannya.

Tadi sore, waktu hujan cukup lebat dan aku telah duduk manis dalam sebuah bus Agra Mas menuju rumahku, ada seorang tentara paruh baya yang masuk ke dalam bus dan langsung mendapatkan tempat duduk. Sekitar lima menit kemudian, ada seorang wanita paruh baya atau ibu-ibu masuk ke dalam bus, dan spontan, bapak tentara langsung memberikan tempat duduknya kepada wanita tersebut, sehingga ia harus berdiri sepanjang perjalanan–kecuali, ia bisa mendapatkan satu tempat duduk lagi.

Ketika bus sudah sampai daerah Veteran, Bintaro, ia pun langsung mendapatkan tempat duduk tepat di sebelahku. Dan benar saja–entah ini kebetulan atau bukan, seorang ibu-ibu lain yang berkerudung masuk ke dalam bus. Lagi-lagi, bapak tentara memberikan tempat duduknya pada ibu-ibu yang baru masuk itu.

Aku begitu kagum, seorang bapak tentara yang tidak lagi muda dengan sukarela memberikan tempat duduknya untuk dua orang wanita seumurannya, meskipun ia tidak bisa lagi duduk dan harus capek berdiri sepanjang perjalanan.

Aku tidak akan pernah lupa pada bapak tentara yang dua kali hanya sempat duduk selama lima menit karena memberikan tempat duduknya pada dua orang wanita yang berbeda.

Wagimin dan Rohayati

Barusan saja aku menonton tayangan “Orang Pinggiran” di stasiun televisi Trans7. Jujur saja, seringkali aku beranggapan bahwa stasiun televisi gemar memperjualbelikan rasa iba dan kasihan demi meningkatkan rating mereka dengan menayangkan kehidupan orang-orang yang kurang beruntung. Salah satunya adalah kisah tentang Wagimin dan Rohayati, sepasang suami istri yang buta.

Bapak Wagimin dan Ibu Rohayati memiliki dua orang anak, namun sudah lama anak mereka tidak pulang. Sepasang suami istri ini berprofesi sebagai penjual sapu hasil buatan mereka sendiri. Sehari-hari, mereka menjajakan sapu buatan tangan mereka untuk dijual keliling kampung. Bapak Wagimin tidak buta sejak lahir, sehingga Beliau cukup beruntung karena sempat memperoleh pendidikan sewaktu kecil, sementara istrinya–Ibu Rohayati, terlahir sebagai seorang tuna netra. Setiap malamnya, Bapak Wagimin menyempatkan diri untuk mengajari sang istri cara membaca dan menulis dengan huruf-huruf braille dengan bekal pendidikan yang diperolehnya saat kecil. Selain menjadi seorang penjual sapu, Bapak Wagimin terkadang membantu orang lain mengambil buah kelapa di pohon yang begitu tinggi dengan imbalan beberapa buah kelapa. Sewaktu kecil, ia begitu rajin memanjat pohon kelapa lantaran ingin membantu kedua orang tuanya mencari uang.

Untuk makan sehari-hari, sepiring nasi dengan lauk tumis kangkung menjadi santapan yang dianggap mewah bagi sepasang suami istri ini. Begitu aku melihat sayur kangkung itu sendiri, aku pun terhenyak, karena sesungguhnya aku tidak pernah benar-benar menyukai sayur kangkung. Bagi Bapak Wagimin dan Ibu Rohayati, sayur kangkung sangatlah lezat dan bergizi, ketimbang singkong yang hanya bisa mereka makan ketika mereka tidak memiliki cukup uang untuk membeli beras. Bapak Wagimin juga kerap menggarap tanah orang sendirian untuk ditanami singkong, dengan imbalan setengah dari hasil panen singkong tersebut.

Dari kisah ini, aku tidak ingin mengkritik stasiun televisi yang menjual rasa iba, melainkan ingin belajar sesuatu–bagaimana aku harus selalu bersyukur dengan keadaanku. Setidaknya, aku masih memiliki kedua mata untuk melihat. Setidaknya, aku tidak pernah kekurangan makan. Setidaknya, aku jauh lebih beruntung.

Absurditas

Absurditas itu hadir ketika kamu mulai merasa asing di antara semua yang kamu kira kamu kenal. Semua yang kamu kira kamu benar-benar pahami dan mengerti.

Lagi-lagi, mungkin bukan kamu, tapi aku.

Absurditas bisa muncul dari sebuah keterkejutan…..atau lebih? Menemukan hal-hal yang tidak pernah terasa nyata, hingga akhirnya benar-benar terjadi.

Pandanganku buram, rasanya begitu suram, dan hatiku langsung muram. Aku tidak bermain rima di sini…..atau memang bermain rima?

Dan lagi, absurditas kembali terjadi.

Semuanya tidak bisa terdefinisi. Semuanya tidak ada yang pasti. Mataku masih mencari-cari. Hatiku masih berusaha menari. Mencari-cari celah untuk tetap bisa bergembira….. Sedikit saja.

Selamat siang.

Pernahkah?

Pernahkah kamu merasakan sebuah perasaan yang seperti ini? Ketika kamu berada di rumah, rasanya tidak seperti pulang ke rumah. Ada yang asing, banyak yang bikin pusing. Dan ketika kamu jauh dari rumah, rasanya justru jauh lebih lega.

Tapi tanpa sadar, ada kesalahan yang kamu buat. Kamu telah membiarkan orang-orang di rumahmu menanggung bebannya sendiri.

Ini yang tengah aku rasakan. Aku merasa asing. Aku merasa jauh.

Halo dan Salam Kenal

Lucu. Aku tidak bisa mengingat nama adik kecil ini sama sekali. Tetapi yang jelas, aku tidak akan pernah melupakan momen di saat aku bertemu adik kecil yang lucu ini.

Kulitnya hitam manis. Bajunya sedikit kumal dan lusuh. Ya, ia tinggal di sebuah yayasan. Yayasan itu bernama Yayasan Senang Hati di mana sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang terlahir dengan begitu istimewa.

Aku memiliki kecenderungan untuk menghampiri anak-anak kecil yang terlihat manis dan menggemaskan, begitu pula saat aku bertemu adik ini. Kalau tidak salah namanya Arga. Kalau tidak salah.

Ketika aku pertama tiba di yayasan ini, senyum manis dan aksi diam Arga langsung membuatku penasaran. Aku pun spontan jongkok dan mengulurkan tangan untuk bisa menjabat tangannya sebagai tanda salam kenal. Dan tanpa disangka-sangka, bibirnya yang mungil malah mencium tanganku. Aku kaget sekaligus senang. Sebuah kecupan hangat dari Arga membuatku lagi-lagi berpikir. Seorang anak kecil yang sedikit kurang beruntung saja bisa berperilaku begitu manis, lalu mengapa aku tidak bisa?

Terima kasih ya, Dek, untuk ciuman Halo dan Salam Kenalnya. 🙂