Mendung Pagi

Lagi-lagi, gerimis memerciki tempatku berpijak. Hari ini hari Rabu, masih terasa kelabu seperti Senin yang lalu. Bedanya, saat ini aku tengah dalam perjalanan menuju ‘rumahku’ yang lain.

Begitu cepat waktu berlalu, begitu banyak yang dilewati–tanpa kita sadari. Oke, mungkin hanya aku yang tidak menyadari.

Waktu adalah seekor burung yang tidak memiliki sayap, namun menjadi burung yang tercepat; dalam hal terbang. Sampai-sampai aku tidak pernah bisa melihat wujudnya, melihat si waktu.

Aku tidak memintanya terbang kembali, kembali ke masa lampau, aku hanya ingin ia menungguku sebentar saja. Bagaimana? Ah, bertemu dengannya saja sulit, bagaimana aku bisa memintanya menunggu?

Ya, ya, waktu tidak pernah menunggu, kawan. Itu artinya, aku yang harus mengejar. Aku harus mengejar langkahnya agar bisa berjalan beriringan. Berjalan berdampingan, seperti sepasang mempelai menuju altar gereja. Lalu mereka berakhir bahagia… Indah sepertinya.

Aku ingat perbincangan dengan seorang kawan, bila kami benar-benar memiliki kesempatan untuk bertatap muka dengan waktu… Hmm, rasanya kami ingin menghunus jantungnya dengan belati yang takkan berhenti kami asah sebelum perjumpaan itu. Jahat? Memang. Tapi, waktu selama ini sudah terlalu kejam pada kami.

Atau mungkin, kami–atau aku yang terlalu banyak protes padanya? Terlalu sinis padanya?

Yang jelas, waktu bergulir begitu cepat. Ia terbang terlalu cepat. Hingga kadang aku tidak bisa menghitung berapa detik yang kupunya untuk mengedipkan mata.

Selamat pagi hari kelabu. Selamat pagi yang masih sendu. Oh, itu aku. Atau kamu?

Rintik Hujan

Sore ini terasa berbeda, rintik hujan mengejar langkahku. Tidak biasanya aku buru-buru pulang karena hujan. Biasanya aku lebih suka duduk-duduk menunggu rintiknya turun hingga lelah sendiri dan berhenti membasahi tanah.

Warna langit begitu kelabu, mungkin juga suasana hatiku. Atau malah hatimu?

Perlahan aku memejamkan mata, membiarkan aroma tanah, hujan, dan angin masuk ke indera penciumanku.

Lambat laun aku sadar, hujan indah juga. Sejuk. Meski aku lebih sering membencinya karena matahari yang menyengat selalu lebih bersahabat–setidaknya, bagiku.

Terima kasih, hujan. Terima kasih untuk sore yang sejuk tadi.

Perenungan Hari Ini

Rasa jenuh ini sudah kian memuncak, seperti amarah yang harusnya dilepaskan. Banyak sekali hal yang mengganggu pikiran, terlalu banyak yang terus dirasakan.

Oke, mungkin aku berlebihan… Tapi, aku bukanlah satu-satunya orang yang terlalu banyak berpikir dan terlalu menjadi perasa. Iya, kan?

Begini toh rasanya menjadi orang dewasa? Hahaha… Koreksi, aku belum sepenuhnya menjadi orang dewasa, usiaku baru 20. Lagi-lagi… Iya, kan?

Hari-hari ini kuhabiskan untuk banyak hal yang penting dan tidak penting. Hal-hal penting seperti kuliah, membaca, bermain biola, menulis, dan memikirkan langkah demi langkah yang harus kutempuh. Sementara hal yang tidak penting… Hmm… adalah mengeluh dan merengut. Kedua hal tidak penting ini begitu sering kulakukan beberapa waktu belakangan. Yang artinya… Puncak kejenuhanku membawaku pada dunia hitam.

Oke, ini baru berlebihan.

Kini aku menengok ke belakang, melihat jejak-jejak kaki mungilku yang masih tersisa di tanah. Hidupku masih terlalu indah, lho. Aku selama ini terlalu sibuk mengeluh dan menyesali apa yang pernah terjadi.

Oke, aku tahu ini tidak baik.

Tapi, semua ini proses. Benar, kan?

Daripada aku sibuk menggerutui tugas-tugas kuliah yang menggunung dan tidak tuntas juga, lebih baik aku langsung mengerjakannya. Dan sesingkat sebuah petikan jari, tugas-tugas itu akan selesai.

Di luar semua itu, aku mau bersyukur untuk buanyaaaaak hal. Boleh, ya? 🙂

Pertama, karena sekarang kesehatanku sudah jauh sekali membaik. Setelah perjuangan yang berat melawan berat badan yang naik, alergi-alergi, berbagai penyakit bandel seperti tifus, campak Jerman, dan DBD… Akhirnya aku masih hidup! Haha… Sesimpel itu, kan? Apalagi, sekarang aku sudah bisa begadang sampe jam 6 pagi… Rekor tergila! Hahahaha…

Oke, maaf ya kalau tidak penting.

Yang jelas, aku sekarang sudah jauh lebih sehat!

Kedua, aku kembali menulis! Impianku untuk bisa menerbitkan buku sudah cukup dekat. Dan ya, untuk menulis blog lagi rasanya amat membahagiakan. Berbagi perasaan, meski belum tahu juga siapa yang akan membaca coretan-coretanku. Yang jelas, aku bahagia!

Ketiga, aku sudah banyak sekali belajar hal-hal dari yang termungil sampai terraksasa (kosakata baru). Aku belajar bahasa baru, Italia dan Jerman dari kampus! Lalu aku kembali bermain biola, belajar bermain dengan lebih yakin dan percaya diri, bermain bersama teman-teman baru.

Keempat, aku begitu bahagia karena aku dikelilingi begitu banyak orang-orang yang peduli dan sayang padaku. Sesimpel itu, sih. Tapi, tidak sesimpel itu… karena aku dihujani perhatian dan kasih sayang.

Begitu banyak juga orang baru yang datang ke duniaku, bersamaan dengan orang yang pergi dari duniaku. Terima kasih ya, untuk kalian semua.

Kira-kira beginilah.

Di luar semua hal yang menjenuhkan, sisanya masih banyak yang membahagiakan.

Mari kita mengangkasa, melihat langit biru. Warnanya begitu indah, janganlah kita merusakanya dengan awan hitam. Jangan, ya?

Selamat senja! 🙂

Cerita Masa Kecil

Ini adalah ceritaku tentang kejadian masa kecil yang tidak pernah kulupakan, yang mengingatkanku bagaimana aku yang masih bertubuh kecil tapi juga pernah menjadi anak kecil, hahaha. Cerita ini sudah pernah dibaca oleh guruku, Mbak Clara Ng untuk tugas Kelas Novel Dasar. 

 

Selamat Membaca!

 

 

Aku ingat suatu kejadian di masa kecil saat aku masih belajar di Taman Kanak-kanak (TK). Waktu itu, umurku masih empat tahun dan adik perempuanku baru satu, Joan.

Bagiku saat itu, bermain dengan teman cowok jauh lebih mengasyikkan dibandingkan dengan bermain bersama teman cewek. Rambutku dulu pendek kayak cowok, sehingga sering sekali orang-orang, terutama orang dewasa meledekku dengan memanggilku sebagai cewek tomboy.

Aku sebenarnya nggak pernah benar-benar mengerti apa itu kata ‘tomboy’. Tapi aku sadar kalau saat masih kecil aku nggak begitu gemar bermain bersama teman-teman perempuan, juga nggak suka ikut menari seperti adikku yang gemar pentas menari tradisional di sekolahnya. Aku paling nggak suka didandanin sebagai cewek tulen saat masih kecil.

Saat itu, aku punya tiga teman cowok yang suka bermain denganku. Ketiganya belajar di satu kelas yang sama denganku. Mereka adalah Dimas, Yabes, dan Kevin. Dimas dan Yabes adalah sepupu, sementara Kevin yang bertubuh gendut adalah teman kami yang tinggal cukup jauh dari sekolah.

Sebelum bel masuk berbunyi atau waktu jam istirahat, kami berempat gemar sekali bermain kejar-kejaran di aula sekolah sampai ngos-ngosan. Kami sering banget main tak jongkok, petak umpet, tak benteng, dan tak patung. Untung rambutku dulu pendek, kalau nggak pasti aku sudah kegerahan karena rambut panjang selalu bikin aku keringatan.

Suatu hari, begitu aku sampai di rumah, aku bercerita ke mama kalau aku disetrap di sekolah. Mama bingung sekali waktu mendengar aku disetrap. “Fin, kamu kenapa bisa disetrap? Emangnya kamu bandel?”

Aku menggeleng. Dengan enteng aku menjawab, “Tadi temen-temenku ditanyain siapa aja yang nggak bawa topi… Terus Dimas, Yabes, sama Kevin nggak bawa topi. Ya udah deh, aku bilang aja aku nggak bawa topi.”

Mama melotot karena heran. “Topi kamu bukannya udah mama masukkin ke tas, ya?”

Aku mengangguk. “Iya, tadi Sefin bawa topi kok, ma.”

“Kamu bawa topi… Tapi, kenapa kamu bilangnya kamu nggak bawa topi?” Mama tambah heran.

“Yah kan asyik ma disetrap rame-rame.” Aku nyengir.

“Wah, dasar kamu.” Mama menertawaiku. “Solidaritasnya tinggi juga, ya.” Aku mengangguk-angguk saja waktu itu, padahal aku nggak tahu apa arti kata ‘solidaritas’.

Begitu aku dewasa, mama sering sekali menceritakan kejadian lucu ini padaku, meskipun aku sendiri nggak begitu ingat detilnya. Kurang lebih, kejadian itu berlangsung seperti di atas.

Saat aku belajar di Sekolah Dasar (SD) akhirnya aku mengerti betul apa arti kata ‘tomboy’ dan ‘solidaritas’. Mama juga membantuku memahami arti kedua kata ini. Mama saat itu bilang bahwa cewek yang tomboy adalah cewek yang berperilaku sedikit seperti cowok. Aku sadar sekali kalau aku memang berperilaku seperti cowok, apalagi aku dulu gemar sekali bermain sepak bola dan bermain sepeda dengan teman-teman cowok. Mama lalu menjelaskan padaku kalau solidaritas itu adalah tenggang rasa. Aku sebenarnya bingung apa itu ‘tenggang rasa’, tapi waktu mama menyebutkan ‘setia kawan’, akhirnya aku mengerti. Dari kecil, aku memang senang sekali berteman dan bergaul.

Sampai saat ini, aku tidak pernah melupakan cerita ini, cerita yang sering kali mama ceritakan padaku. Kejadian ini membuatku teringat pada teman-temanku saat kecil, juga perilakuku saat kecil—bagaimana aku gemar sekali bermain bersama teman-teman cowok, tidak pernah takut bermain panas-panasan, dan aku begitu cuek. Meskipun aku seringkali diledek sebagai cewek tomboy, aku tidak pernah peduli pada anggapan orang karena saat kecil aku selalu merasa senang.

Menjadi seorang anak kecil sangatlah menyenangkan dan rasanya sangat berbeda dengan apa yang kurasakan pada saat ini. Seorang Sefin kecil tidak pernah begitu khawatir akan apa yang dialaminya sehari-hari, namun seorang Sefin yang bisa dibilang sudah dewasa seringkali khawatir akan berbagai masalah yang menimpanya. Aku rindu menjadi seorang anak kecil yang selalu bisa bersenang-senang dan tidak pernah khawatir atau takut.

Meski begitu, pada akhirnya aku menyadari bahwa seseorang pastilah bertumbuh dan melewati fase-fase seperti yang kualami. Setiap orang pasti berubah dari seorang anak kecil yang selalu didampingi orang lain menjadi seseorang yang dewasa dewasa yang harus bisa mandiri dan berdiri sendiri. Semua ini adalah proses kedewasaan.

Di luar itu semua, aku bisa menemukan satu kemiripan dalam semua proses yang kulalui dari kecil—aku selalu memiliki teman-teman yang tidak pernah aku lupakan. Mereka semua akan terus kukenang, meskipun banyak dari mereka yang belum pernah kujumpai lagi. Inilah proses. Inilah hidup. Inilah yang disebut sebagai proses kedewasaan. 

Mimpi

Ini adalah ceritaku tentang mimpi yang selalu terulang saat ku kecil dan tidak pernah kulupakan. Cerita ini sudah pernah dibaca oleh guruku, Mbak Clara Ng untuk tugas Kelas Novel Dasar. 

 

Selamat Membaca!

 

 

Ketika aku masih tinggal di rumah yang lama, aku sering sekali memimpikan suatu hal berulang-ulang dan mimpi itu terus-menerus tanpa ada kisah lanjutannya. Saat itu, usiaku kurang lebih sembilan tahun.

Di dalam mimpiku, aku tidaklah menjadi tokoh utama, melainkan menjadi orang kedua yang seolah-olah menjadi pencerita. Namun, aku tidak pernah benar-benar memahami arti dari mimpiku tersebut, bahkan hingga saat ini.

Saat itu, aku bermimpi bahwa aku tengah berada di suatu tempat asing, di suatu kota yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kota itu tampak seperti tidak memiliki kehidupan dan sangat gersang. Panas terasa begitu menyengat di kulitku, sehingga seluruh tubuhku begitu perih. Aku juga tak henti-hentinya berkeringat, hingga berulang kali keringat yang keluar dari dahi turun sampai ke dagu.

Aku pun langsung mengarahkan pandanganku pada langit di kota asing itu, langitnya berwarna oranye seperti warna sebuah jeruk mandarin yang terlihat manis, namun saat kau mencicipinya, jeruk itu terasa sangat masam. Begitu pula suasana hatiku dalam mimpi itu. Warna langit yang oranye dan begitu indah ternyata tidak membuat hatiku bahagia sama sekali. Aku merasa sangat sedih dan aku pun tidak tahu apa alasannya aku bersedih.

Aku seperti seorang musafir di dalam mimpiku itu, seperti seorang tokoh utama di buku The Alchemist karya Paulo Coelho. Aku terus dan terus berjalan, sampai pada akhirnya aku tiba di sebuah lorong yang terletak di antara gedung-gedung tua. Gedung-gedung tua yang tidak dicat dengan struktur tembok bata yang terlihat jelas itu nampak seperti gedung-gedung tua yang ada di film-film Hollywood. Gedung-gedung itu tidak rapuh, namun tidak juga terlihat begitu kokoh. Warnanya oranye kecoklatan dan ada banyak tangga besi berkarat yang menghubungkan tiap lantainya, seperti gedung-gedung yang biasa dipanjat Peter Parker dalam film Spiderman. Bedanya, aku melewati gedung-gedung ini pada sore hari, tidak seperti Peter Parker yang biasa membasmi penjahat pada malam hari dalam kostum manusia laba-labanya.

Di ujung lorong tersebut aku melihat sesosok pengantin wanita, lengkap dengan baju pengantin modern bergaya Eropa dengan kerudung tertutup berwarna putih mutiara. Pengantin wanita itu nampak begitu cantik, namun ada rasa sedih yang terpancar dari dirinya.

Saat aku ingin menghampirinya, tidak lama kemudian pengantin wanita itu lari. Ia tidak lari dariku, tetapi berlari mengejar sebuah bus yang telah meninggalkannya sendirian. Bus itu melaju dengan sangat kencang. Pengantin wanita itu terus-menerus berlari, menyeret gaunnya di jalanan gersang yang berdebu, seolah tidak peduli bila gaunnya akan rusak atau kotor. Sebaliknya, bus yang terus melaju itu tampak tidak bersahabat dan terus melaju, membuat debu jalanan bertebaran hebat, dan meninggalkan kepulan asam hitam dari knalpot tuanya.

Pada akhirnya, pengantin wanita itu menyerah dan jatuh tersungkur di tengah jalan yang penuh debu. Wajahnya masih tampak cantik, namun ia mulai menangis tanpa henti, juga tanpa suara. Ia terlihat begitu kumal dan menderita. Ia terlihat begitu kesepian. Dan ketika aku ingin melangkah lebih jauh untuk menghampirinya, aku pun terbangun dari mimpiku. Aku terbangun dengan perasaan sedih yang tak terkira, juga dengan keringat dingin yang mengucur deras di tubuhku.

Boleh, ya?

Mataku mengalirkan air mata, meski aku tidak mau mereka membasahi pipi.

Bolehkah aku tetap di sini?

Aku masih ingin sendiri, mencari-cari sisa rasa perih.

Ah, kamu tahu kan kalau aku masih terlalu sedih?

Betapa aku masih merintih?

Sakit, sakit, sakit

Aku ingin menjerit

 

Kamu bisa bilang aku gila,

Tapi kamu tidak bisa berbuat apa-apa

 

Hai, kamu

Ini semua karena rindu

Ya, aku rindu kamu

Dan wajahku nampak begitu sendu,

Ditemani oleh rasa pilu.

 

Jadi, boleh ya aku merindu?

Boleh ya aku bersedih?

Sebentar saja.

Ya?

Doa Malam Ini

Bapa,

kudengar malam ini banyak sekali yang kehilangan.

Begitu juga dengan aku, aku kehilangan lagi satu hari dalam hidupku.

 

Bapa, aku tidak pernah meminta umur yang panjang,

aku tidak pernah meminta kesempurnaan.

 

Tapi, bolehkah aku berdoa meminta sesuatu malam ini saja?

 

Berkatilah setiap langkahku,

lindungilah orang-orang di sekitarku,

rangkullah mereka di dalam pelukan-Mu.

 

Bapa,

kerinduan ini terkadang masih ada,

aku rindu berada bersama-Mu, aku rindu dengan mereka yang sudah di sisi-Mu,

tapi aku tahu sekarang bukanlah waktuku.

 

Bapa,

ajarilah aku malam ini,

ajarilah aku untuk mengampuni,

ajarilah aku untuk mengasihi,

sesederhana itu saja.

 

Bapa,

terima kasih untuk hari ini,

terima kasih untuk hidup ini.

 

Dan bilamana aku harus menghadap engkau,

biarlah aku dalam keadaan siap,

siap meninggalkan semuanya yang ada di sini.

 

Amin.

 

Selamat malam, Bapa.

Terpejam Memandangi Langit

Image

Lagi-lagi aku terhenyak, membiarkan kedua mataku terpejam menghadap langit.

Kilau cahaya masih terasa hangat di kedua kelopak mata.

Kali ini, kuputar lagi perekam waktu di kepala.

Masih, masih ada yang tersisa, bahkan mungkin terlalu banyak.

Ah, kenapa begini? Kenapa isi otakku seperti sampah semua?

Harumnya bunga matahari yang terbakar terik mentari bahkan sudah tak pernah lagi kunikmati, hmmm…

Sobat, aku terlalu banyak mengeluh, terlalu banyak melenguh, terlalu banyak mendesah.

Kini aku membuka mata, membiarkan silaunya matahari menusuk langsung kedua mataku,

kedua mata yang selama ini terlalu buta,

kedua mata yang tidak bisa menuntun setiap langkahku.

Hidup ini terlalu berarti.

Hidup ini terlalu ramah, bahkan untuk aku yang selalu marah.

Haruskah Pergi Jauh?

Mari, mari pergi yang jauh”, begitu katanya.

Aku mendongak, berhenti memandangi teh hangatku yang sedari tadi tidak habis diseruput.

“Aku serius”, katanya lagi.

Mataku terpejam, kata-kata itu memenuhi kepala, seakan tidak ingin keluar lagi. Telingaku berdengung. Aku mendadak menggigil.

“Jangan, jangan lari lagi”, kataku kemudian.

“Aku lelah, kawan. Aku lelah, terlalu lelah.” Ia menggigit bibir.

Kepalaku menggeleng. “Aku sudah terlalu sering berlari, menjadikan diri seperti anak domba yang tidak tahu takdirnya sebagai hewan ternak. Aku tidak mau terus-terusan berlari-lari.”

Tawa remehnya menggema. “Kau, kau, jangan sok suci. Kita sudah biasa pergi jauh bersama. Kalau perlu, kali ini tidak usah berhenti, tidak juga perlu kembali.”

Aku mendadak pusing. Pikiran kami selalu sama. Apa yang kami inginkan selalu sama. Aku tidak suka hal yang rumit, aku tidak suka teka-teki, sudah terlalu lama aku tidak berhasil memecahkan semua ini.

“Benarkah kau tidak mau pergi jauh? Aku yakin kali ini kita akan berhasil.” Ia berusaha meyakinkanku, tapi nada bicaranya sendiri terdengar amat tidak yakin.

Sudah lebih dari ratusan ribu kilometer aku berlari–kami berlari. Tidak ada juga yang berhasil, semuanya nihil. Sebegitu bodohkah aku?

Berlari, berlari, dan berlari. Semakin jauh aku berlari, semakin banyak keringat yang keluar dari tubuhku, dan mungkin akan ada air mata yang ikut keluar… Mengapa? Karena aku berlari terlalu jauh hingga aku tersesat dan tidak memiliki siasat.

Dan dengan keraguan aku terus melangkah maju, perlahan, tanpa suara.

Di tengah keheningan aku memandangi potret itu, potret kami.

Aku bersama dia, aku bersama diriku sendiri.

Dia adalah diriku.

Dia adalah ketakutanku.

Ketakutan yang bisa memberikan segalanya; kemarahan, penyesalan, kesedihan, juga kehampaan,

Aku tidak ingin lagi berlari, kawan. Aku lelah.

Tidak akan ada juga beban yang hilang, bila aku terus berlari. Iya, kan?

Nafasku tersengal, tersengal, tersengal.

Mari kita berhenti berlari, kawan.

Aku ingin tidur saja.

Aku tahu aku tidak harus pergi jauh.

Aku tahu.