Aku pun tidak pernah bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa.
Kesabaran yang Bebas
Telah berapa lama aku bersabar.
Tersenyum lebar.
Tidak sesumbar.
Jantung tak lagi berdebar.
Lalu kusadari rasanya hambar.
Kini semua kebas.
Aku kembali bebas.
Bebas.
Be…
Bas.
Kembali Belajar
“Jadi, begini toh rasanya nyesek?”
“Belajar lagi, Sefin…”
“Kalau nggak jatuh, kita nggak akan belajar menjadi kuat.”
“It’s okay, not to be okay.”
“Jangan pernah menyerah.”
“There is still a room for improvement.”
“Gagal di situ, terus mau gagal di hal lain?”
Kamu
Dan kamu menjelma rindu.
Lalu lidahku kelu.
Sedikit ngilu.
Kamu,
Kamu masih di situ?
What am I up to?
I need my sanity back. That is the only sentence I got along with the migraine I am having right now. I am sleepy yet dizzy. Back then, before I started dating my boyfriend, I was quite happy. I went out with my new friends, I fell in love (with another guy), I learned a lot of things, and so on.
The Remedy
“You look so chubby.” She pinched my cheeks once. “What have you eaten in the past two weeks?”
“Am I?” My cheekbones hurt. It was so hard to smile.
Proses yang Bernama Adaptasi
Belakangan saya kembali dihantui oleh sebuah proses ini. Ya, oleh dia yang bernama adaptasi. Setelah tiga tahun atau enam semester ‘tinggal’ di tempat lain dan sesekali pulang ke rumah di akhir pekan, akhirnya saya kembali ke rumah. Rumah yang dibangun dengan hasil jerih payah Papa pada tahun 2004 dan oh, ternyata sudah 9,5 tahun kami tinggali sekeluarga.
Which One Are You into Him or Her?
I tweeted about this once moments ago. One friend came to me. He said that he was quite slapped because of this. I agreed. I also got slapped. Several times meeting someone new, I had never really questioned about this to myself. Which one was I into them?
Kamu Tahu?
Kamu tahu rasa itu? Rasa kehilangan. Kehilangan dia yang tidak pernah benar-benar menarik perhatianmu, tapi selalu memberikan bahunya untukmu bersandar. Selalu memberikan telinganya untukmu bercerita. Selalu memberikan candanya untuk menghiburmu. Di saat kamu berusaha melupakan dia yang lain, di saat yang sama pula dia selalu ada untukmu. Ternyata begini rasanya sepi. Akhirnya kamu tahu rasanya nyeri. Bahkan membuatmu bergidik ngeri–betapa kamu tidak menyadari sama sekali. Kamu tahu, kan? Ya, kamu memang seharusnya tahu.
Tiga Cinta – Majalah Kawanku Tahun 2006
Pinkie, Gerald, dan Benji tertawa-tawa di lorong sekolah. Tiga orang sahabat yang duduk di kelas 2 SMU Cakra Buana itu, sangat riang pagi hari ini. Kebetulan pula, tiga orang remaja ini selalu sekelas sejak mereka duduk di bangku SMP, hingga sekarang. “Hari ini, kita jalan yuk! Gue bosen banget, masih awal tahun kita sekolah, gitu. Jadi, semangat buat sekolah nyaris nggak ada.”, ujar Pinkie begitu bersemangat.