Kilas Balik Tahun Lalu di Tahun yang Baru

Apa yang kamu rasakan di tahun baru kemarin? Sudah hampir dua minggu tahun baru 2015 berlalu. Pada malam 31 Januari 2014 yang lalu, saya mempunyai dua pilihan yang sama sekali berbeda di Pulau Yiliet, Misool, Raja Ampat. Pertama, tidur dan meringkuk di kamar kantor yang cukup hangat dan gelap. Kedua, menunggu tamu-tamu kapal pesiar tiba di Pulau Yiliet untuk merayakan tahun baru dan menonton pesta kembang. Lalu, manakah yang saya pilih? Continue reading Kilas Balik Tahun Lalu di Tahun yang Baru

Cerita Senja dan Banyu: 04. Tentang Ayah dan Bunda

Ayah mengangkat wajah, kemudian menyeruput secangkir kopi Aceh yang diberikan Tante Sohita, ibunda Banyu. Sudah cukup lama dia mengisi kolom TTS di koran hari Minggu. Kira-kira sudah satu jam. Kulihat Bunda tertidur menyamping di sofa dengan kepala yang menindih tangan kanannya sendiri. Continue reading Cerita Senja dan Banyu: 04. Tentang Ayah dan Bunda

Menikmati Senja di Timur Indonesia

Seperti nama blog ini, Senja Moktika, saya selalu menemukan “Senja” sebagai sesuatu yang spesial. Senja yang memang lebih sering muncul dalam semburat jingga, selalu berhasil menenangkan mata dan hati. Barisan warna-warni senja bahkan lebih mencolok mata daripada tumpukan gulungan kain yang saya temui di toko-toko Passer Baroe.

Continue reading Menikmati Senja di Timur Indonesia

Membaca Perjalanan dalam Perjalanan (Ulasan buku The Dusty Sneakers)

Ini kali pertama saya membaca cerita perjalanan dalam sebuah perjalanan dari kacamata seorang pejalan. Di waktu-waktu sebelumnya, saya membaca dari kacamata seorang mahasiswi yang menulis skripsi tentang catatan perjalanan yang ditulis oleh perempuan. Meski dari kacamata yang sama sekali berbeda, membaca cerita perjalanan memang selalu menyenangkan, terutama ketika saya bisa menghubungkannya dengan pengalaman-pengalaman saya sendiri. Continue reading Membaca Perjalanan dalam Perjalanan (Ulasan buku The Dusty Sneakers)

Dengan

Kita dengan keegoisan kita masing-masing.
Kita dengan perasaan pada satu sama lain-lain.
Kita dengan harapan segera bertemu kembali.
Kita dengan segala umbaran janji.
Kita dengan tumpukan imajinasi.
Kita dengan ketakutan untuk bersedih.
Kita dengan kekhawatiran akan tragedi.
Kita dengan segala upaya peneguhan hati.
Kita dengan berdiam diri.
Mulai bernyanyi.
Menari.
Tanpa henti.